Hijrah, Pilar peradaban modern (4)
Senin, 31 Agustus 2020 - 10:39 WIB
Kedatangan Rasulullah SAW di Madinah ternyata membawa perdamaian kepada pihak-pihak yang kerap berperang itu. Bahkan tidak ada catatan resmi dalam sejarah yang mengatakan bahwa Beliau melakukan pendekatan secara formal untuk mendamaikan para pihak yang bertikai (conflicting parties) itu. Tapi kharisma kepribadian Rasulullah yang damai itulah dengan sendirinya menjadikan inspirasi bagi semua pihak untuk berdamai. (Lihat grafis: Bayraktar Akinci Prototipe Drone Tercanggih milik Turki)
Oleh karenanya, suku-suku yang selama ini, khususnya dua suku besar Arab; Aus dan Khazraj, menghentikan pernusuhan dan peperangan. Bahkan keduanya menjadi dua kelompok masyarakat yang tidak saja menjaga perdamian tapi juga membangun ukhuwah yang solid.
Ini pulalah salah satu peristiwa yang digambarkan dalam Alquran : "Dan kamu pernah berada di tepian lubang (kehancuran karena peperangan) lalu Allah menyatukan hati-hati kamu" (Ali Imran).
Luar biasanya adalah bahwa proses ta'liful quluub itu dilakukan dengan cara-cara "samawi" tanpa kelicikan diplomasi, apalagi pemaksaan dan kekerasan. Pendekatan yang bersifat sangat manusiawi bahkan bersifat alami. Sehingga semua merasa bersaudara, bahkan terjadi "itsaar" (memberikan perhatian lebih) kepada saudara-saudara mereka di atas kepentingan diri mereka sendiri.
Lingkungan atau suasana "ikhaa" (persaudaraan) seperti ini dengan sendirinya menciptakan keamanan dan stabilitas yang solid dalam negeri. Stabilitas dan keamanan yang tidak dipaksakan dengan pendekatan keamanan (security approach). Tapi sekali lagi dengan pendekatan "samawi" (langit) dan "qalbi" (hati) dengan metode "rahmah" (kasih sayang) Rasulullah SAW.
Ketika keamanan dan stabilitas itu terjadi maka dengan sendirinya kehidupan menjadi nyaman dan maju. Orang-orang Arab yang tadinya suka permusuhan dan peperangan kini berbalik menyenangi persaudaraan dan kerjasama. Maka terbangunlah "at-ta'awun alal birri wattaqwa" (kerjasama dalam kebaikan dan ketakwaan). Dengan ini pula Madinah semakin berkemajuan, di atas kasih sayang, keadilan dan kemakmuran.
Tanpa keamanan dan stabilitas dalam negeri tidaklah mungkin akan terbangun peradaban modern (islami) manusia. Karena pembangunan (development) memang terkait erat dengan keamanan dan stabilitas.
Mungkin ayat Alquran yang paling relevan dengan kesimpulan ini adalah: "Dialah Allah yang memberi makan mereka dari kelaparan. Dan Dialah Allah yang memberikan mereka keamanan dari ketakutan" (Al-Quraisy).
Jika hal ini kita tarik kepada realita kehidupan masa kini kita maka akan tersimpulkan bahwa pembangunan dan kemakmuran (tho’aam) adalah cara terefektif dalam mewujudkan keamanan (al-amnu). Sebaliknya keamanan dan stabilitasi menjadi pilar bagi pembangunan dan kemakuran. Dan pastinya di atas pilar ini pula perdaban alternatif itu dapat terbangun. (Bersambung)
Oleh karenanya, suku-suku yang selama ini, khususnya dua suku besar Arab; Aus dan Khazraj, menghentikan pernusuhan dan peperangan. Bahkan keduanya menjadi dua kelompok masyarakat yang tidak saja menjaga perdamian tapi juga membangun ukhuwah yang solid.
Ini pulalah salah satu peristiwa yang digambarkan dalam Alquran : "Dan kamu pernah berada di tepian lubang (kehancuran karena peperangan) lalu Allah menyatukan hati-hati kamu" (Ali Imran).
Luar biasanya adalah bahwa proses ta'liful quluub itu dilakukan dengan cara-cara "samawi" tanpa kelicikan diplomasi, apalagi pemaksaan dan kekerasan. Pendekatan yang bersifat sangat manusiawi bahkan bersifat alami. Sehingga semua merasa bersaudara, bahkan terjadi "itsaar" (memberikan perhatian lebih) kepada saudara-saudara mereka di atas kepentingan diri mereka sendiri.
Lingkungan atau suasana "ikhaa" (persaudaraan) seperti ini dengan sendirinya menciptakan keamanan dan stabilitas yang solid dalam negeri. Stabilitas dan keamanan yang tidak dipaksakan dengan pendekatan keamanan (security approach). Tapi sekali lagi dengan pendekatan "samawi" (langit) dan "qalbi" (hati) dengan metode "rahmah" (kasih sayang) Rasulullah SAW.
Ketika keamanan dan stabilitas itu terjadi maka dengan sendirinya kehidupan menjadi nyaman dan maju. Orang-orang Arab yang tadinya suka permusuhan dan peperangan kini berbalik menyenangi persaudaraan dan kerjasama. Maka terbangunlah "at-ta'awun alal birri wattaqwa" (kerjasama dalam kebaikan dan ketakwaan). Dengan ini pula Madinah semakin berkemajuan, di atas kasih sayang, keadilan dan kemakmuran.
Tanpa keamanan dan stabilitas dalam negeri tidaklah mungkin akan terbangun peradaban modern (islami) manusia. Karena pembangunan (development) memang terkait erat dengan keamanan dan stabilitas.
Mungkin ayat Alquran yang paling relevan dengan kesimpulan ini adalah: "Dialah Allah yang memberi makan mereka dari kelaparan. Dan Dialah Allah yang memberikan mereka keamanan dari ketakutan" (Al-Quraisy).
Jika hal ini kita tarik kepada realita kehidupan masa kini kita maka akan tersimpulkan bahwa pembangunan dan kemakmuran (tho’aam) adalah cara terefektif dalam mewujudkan keamanan (al-amnu). Sebaliknya keamanan dan stabilitasi menjadi pilar bagi pembangunan dan kemakuran. Dan pastinya di atas pilar ini pula perdaban alternatif itu dapat terbangun. (Bersambung)
(poe)
Lihat Juga :