Konflik Khilafah: Kisah Suram Putra Ketiga Ali bin Abi Thalib
Jum'at, 04 September 2020 - 15:24 WIB
Mengungsi ke Syam
Berita tentang tekanan Abdullah bin Zubair terhadap Muhammad Al-Hanafiyah dan sahabat-sahabatnya sampai ke telinga Abdul Malik bin Marwan. Kondisi tersebut dianggapnya sebagai peluang bagus untuk menarik simpati mereka agar mau bergabung di pihaknya.
Dia mengirim surat melalui utusan yang seandainya dia mengirim surat kepada salah satu putranya pun tentu tidak lebih lembut dan halus daripada itu. Di antara isi surat itu adalah sebagai berikut:
Baca juga: Jelang Detik Terakhir, PKS Labuhkan Dukungan untuk Dadang-Syahrul Gunawan
“Telah sampai berita kepada kami bahwa Ibnu Zubair telah menekan Anda beserta pengikut-pengikut Anda dan tidak lagi menghargai hak-hak Anda. Oleh karena itu, negeri Syam terbuka bagi kalian semua. Kami menyambut kedatangan Anda dengan dada dan tangan terbuka. Anda boleh tinggal di bagian mana saja yang Anda kehendaki sebagai sesama keluarga dan tetangga yang terhormat. Dan Anda semua akan mendapati kami sebagai orang-orang yang tahu menjaga hak, tidak melupakan kebijaksanaan dan menghubungkan silaturrahmi dengan baik, insya Allah…”
Muhammad Al-Hanafiyah beserta pengikutnya berangkat menuju Syam. Mereka kemudian menetap di kota Ailah. Para penduduk di kota itu menyambut mereka dengan hangat dan menjadi tetangga mereka yang baik.
Mereka menyayangi dan menghormati Muhammad Al-Hanafiyah setelah melihat ketekunannya beribadah dan kezuhudannya terhadap duniawi. Dia senantiasa menyampaikan amar ma’ruf nahi mungkar. Menegakkan syiar Islam, mendamaikan segala pertentangan di antara mereka dan tidak membiarkan seorangpun menzhalimi orang lain.
Baca juga: Mantan Menpora Era Soeharto Abdul Gafur Meninggal Dunia
Berita tentang keadaannya sampai ke telinga khalifah Abdul Malik. Beliau pun bingung dalam menentukan sikap. Dia mengumpulkan para pejabatnya untuk bermusyawarah, lalu mereka berkata, “Tidak layak Anda mengizinkan dia berada dalam kekuasaan Anda sedangkan dia sebagaimana Anda ketahui. Sebaiknya Anda tawarkan kepadanya untuk berbai’at kepada Anda atau kembali ke tempat asalnya.”
Keputusan diambil, Abdul Malik menulis surat kepada Muhammad Al-Hanafiyah sebagai berikut, “Anda menetap di daerah kami, sedangkan pertikaian masih berlangsung antara saya dan Abdullah bin Zubair. Anda adalah seorang yang terpandang di kalangan kaum muslimin. Oleh sebab itu saya memandang perlunya Anda berbai’at kepada saya, apabila Anda ingin tinggal di wilayah kekuasaan saya."
"Bila Anda berbai’at, kebetulan ada seratus kapal yang baru tiba dari Kulzam, semuanya saya serahkan kepada Anda. Lalu ada tambahan lagi seratus juta dirham dan semua kebutuhan Anda beserta sanak keluarga akan selalu kami cukupi. Tetapi apabila Anda menolak Anda segera keluar dari wilayah kekuasaan.”
Baca juga: Saatnya Memperjuangkan Hak-hak Konsumen
Setelah menerima dan membaca surat tersebut, Muhammad Al-Hanafiyah menjawab:
“Dari Muhammad Al-Hanafiyah kepada Abdul Malik bin Marwan.
"Keselamatan semoga tercurah kepada Anda setelah bertahmid kepada Allah yang tiada Ilah yang yang haq selain Dia. Saya mengira Anda takut dan khawatir terhadap saya, sedangkan Anda sudah tahu sikap dan pendirian saya dalam persoalan ini. Demi Allah, seandainya seluruh ummat ini berkumpul kecuali satu kelompok dari satu desa saja, saya tetap menerimanya dan tidak akan memeranginya.”
“Saya telah datang ke Makkah kemudian Abdullah bin Zubair meminta agar saya berbai’at kepadanya. Ketika saya menolak, dia menganiaya saya. Kemudian Anda menulis surat kepada saya dan menawarkan untuk tinggal di daerah Syam. Saya memilih tinggal di suatu kota di tepian wilayah Anda karena biaya hidup lebih murah, lagi pula jauh dari wilayah kekuasaan Anda. Sekarang Anda menulis surat kepada saya disertai ancaman, maka kami memilih pergi dari Anda, insya Allah…”
Berita tentang tekanan Abdullah bin Zubair terhadap Muhammad Al-Hanafiyah dan sahabat-sahabatnya sampai ke telinga Abdul Malik bin Marwan. Kondisi tersebut dianggapnya sebagai peluang bagus untuk menarik simpati mereka agar mau bergabung di pihaknya.
Dia mengirim surat melalui utusan yang seandainya dia mengirim surat kepada salah satu putranya pun tentu tidak lebih lembut dan halus daripada itu. Di antara isi surat itu adalah sebagai berikut:
Baca juga: Jelang Detik Terakhir, PKS Labuhkan Dukungan untuk Dadang-Syahrul Gunawan
“Telah sampai berita kepada kami bahwa Ibnu Zubair telah menekan Anda beserta pengikut-pengikut Anda dan tidak lagi menghargai hak-hak Anda. Oleh karena itu, negeri Syam terbuka bagi kalian semua. Kami menyambut kedatangan Anda dengan dada dan tangan terbuka. Anda boleh tinggal di bagian mana saja yang Anda kehendaki sebagai sesama keluarga dan tetangga yang terhormat. Dan Anda semua akan mendapati kami sebagai orang-orang yang tahu menjaga hak, tidak melupakan kebijaksanaan dan menghubungkan silaturrahmi dengan baik, insya Allah…”
Muhammad Al-Hanafiyah beserta pengikutnya berangkat menuju Syam. Mereka kemudian menetap di kota Ailah. Para penduduk di kota itu menyambut mereka dengan hangat dan menjadi tetangga mereka yang baik.
Mereka menyayangi dan menghormati Muhammad Al-Hanafiyah setelah melihat ketekunannya beribadah dan kezuhudannya terhadap duniawi. Dia senantiasa menyampaikan amar ma’ruf nahi mungkar. Menegakkan syiar Islam, mendamaikan segala pertentangan di antara mereka dan tidak membiarkan seorangpun menzhalimi orang lain.
Baca juga: Mantan Menpora Era Soeharto Abdul Gafur Meninggal Dunia
Berita tentang keadaannya sampai ke telinga khalifah Abdul Malik. Beliau pun bingung dalam menentukan sikap. Dia mengumpulkan para pejabatnya untuk bermusyawarah, lalu mereka berkata, “Tidak layak Anda mengizinkan dia berada dalam kekuasaan Anda sedangkan dia sebagaimana Anda ketahui. Sebaiknya Anda tawarkan kepadanya untuk berbai’at kepada Anda atau kembali ke tempat asalnya.”
Keputusan diambil, Abdul Malik menulis surat kepada Muhammad Al-Hanafiyah sebagai berikut, “Anda menetap di daerah kami, sedangkan pertikaian masih berlangsung antara saya dan Abdullah bin Zubair. Anda adalah seorang yang terpandang di kalangan kaum muslimin. Oleh sebab itu saya memandang perlunya Anda berbai’at kepada saya, apabila Anda ingin tinggal di wilayah kekuasaan saya."
"Bila Anda berbai’at, kebetulan ada seratus kapal yang baru tiba dari Kulzam, semuanya saya serahkan kepada Anda. Lalu ada tambahan lagi seratus juta dirham dan semua kebutuhan Anda beserta sanak keluarga akan selalu kami cukupi. Tetapi apabila Anda menolak Anda segera keluar dari wilayah kekuasaan.”
Baca juga: Saatnya Memperjuangkan Hak-hak Konsumen
Setelah menerima dan membaca surat tersebut, Muhammad Al-Hanafiyah menjawab:
“Dari Muhammad Al-Hanafiyah kepada Abdul Malik bin Marwan.
"Keselamatan semoga tercurah kepada Anda setelah bertahmid kepada Allah yang tiada Ilah yang yang haq selain Dia. Saya mengira Anda takut dan khawatir terhadap saya, sedangkan Anda sudah tahu sikap dan pendirian saya dalam persoalan ini. Demi Allah, seandainya seluruh ummat ini berkumpul kecuali satu kelompok dari satu desa saja, saya tetap menerimanya dan tidak akan memeranginya.”
“Saya telah datang ke Makkah kemudian Abdullah bin Zubair meminta agar saya berbai’at kepadanya. Ketika saya menolak, dia menganiaya saya. Kemudian Anda menulis surat kepada saya dan menawarkan untuk tinggal di daerah Syam. Saya memilih tinggal di suatu kota di tepian wilayah Anda karena biaya hidup lebih murah, lagi pula jauh dari wilayah kekuasaan Anda. Sekarang Anda menulis surat kepada saya disertai ancaman, maka kami memilih pergi dari Anda, insya Allah…”
Lihat Juga :