Halaqoh Nasional III Pesantren: Menyatukan Visi, Memperkuat Peradaban
Kamis, 01 Mei 2025 - 07:59 WIB
Masjid Istiqlal, Jakarta, akan menjadi saksi sejarah pada, Kamis, 1 Mei 2025 saat Halaqoh Nasional III Pimpinan Pesantren sekaligus pengukuhan pengurus Forum PK-TREN Indonesia digelar. Foto: Ist
JAKARTA - Masjid Istiqlal, Jakarta, akan menjadi saksi sejarah pada hari ini, Kamis, 1 Mei 2025 saat Halaqoh Nasional III Pimpinan Pesantren sekaligus pengukuhan pengurus Forum Persaudaraan dan Kemitraan Pesantren Indonesia (PK-TREN Indonesia) digelar.
Acara ini bertujuan memperkuat peran pesantren sebagai benteng nilai-nilai Islam dan pilar peradaban bangsa, menyatukan langkah untuk menghadapi tantangan zaman.
Baca juga: Halaqoh Kebangsaan di Semarang, BNPT Ajak Lawan Intoleransi dan Radikalisme
Acara dihadiri sejumlah tokoh nasional yakni mantan Wapres KH Ma’ruf Amin, Menteri Agama Nasaruddin Umar, mantan Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj, Ketua Umum PK-TREN Indonesia KH Ilyas Marwal, dan mantan Ketua MPR Hidayat Nurwahid.
“Pesantren adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa, tempat lahirnya semangat kemerdekaan,” ujar ulama dan cendekiawan Islam KH Syukron Makmun.
Menjaga khasanah intelektual Islam seperti karya Syekh Nawawi Al-Bantani, pesantren juga merangkul dinamika modern. Namun, tantangan seperti perbedaan visi, regulasi yang belum selaras, dan tekanan ekonomi menguji ketangguhannya.
PK-TREN Indonesia hadir sebagai jembatan, mempererat kolaborasi antarpesantren untuk menjaga keutuhan umat berlandaskan Ahlussunnah wal Jama’ah.
Ilyas mengatakan, pesantren adalah institusi unik dengan sejarah panjang yang melekat pada identitas Indonesia. “Pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga laboratorium peradaban yang melahirkan solusi bagi tantangan sosial, ekonomi, dan keagamaan. Di tengah disrupsi teknologi, globalisasi, dan perubahan nilai, pesantren harus adaptif tanpa kehilangan akar nilai-nilai Islam,” ungkapnya.
Acara ini bertujuan memperkuat peran pesantren sebagai benteng nilai-nilai Islam dan pilar peradaban bangsa, menyatukan langkah untuk menghadapi tantangan zaman.
Baca juga: Halaqoh Kebangsaan di Semarang, BNPT Ajak Lawan Intoleransi dan Radikalisme
Acara dihadiri sejumlah tokoh nasional yakni mantan Wapres KH Ma’ruf Amin, Menteri Agama Nasaruddin Umar, mantan Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj, Ketua Umum PK-TREN Indonesia KH Ilyas Marwal, dan mantan Ketua MPR Hidayat Nurwahid.
Pesantren: Jantung Perjuangan, Denyut Peradaban
Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama melainkan warisan budaya yang melahirkan pejuang kemerdekaan dan tokoh bangsa seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Ma’ruf Amin, dan Nasaruddin Umar.“Pesantren adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa, tempat lahirnya semangat kemerdekaan,” ujar ulama dan cendekiawan Islam KH Syukron Makmun.
Menjaga khasanah intelektual Islam seperti karya Syekh Nawawi Al-Bantani, pesantren juga merangkul dinamika modern. Namun, tantangan seperti perbedaan visi, regulasi yang belum selaras, dan tekanan ekonomi menguji ketangguhannya.
PK-TREN Indonesia hadir sebagai jembatan, mempererat kolaborasi antarpesantren untuk menjaga keutuhan umat berlandaskan Ahlussunnah wal Jama’ah.
PK-TREN Indonesia: Merajut Persatuan, Mengukir Masa Depan
Berdiri sejak Oktober 2019 dari diskusi di Pondok Pesantren Darussalam Gontor dan Pusdiklat Kementerian Agama, PK-TREN Indonesia melibatkan 30 perwakilan pesantren dari seluruh provinsi. Forum ini menjadi wadah sinergi di bidang pendidikan, dakwah, dan ekonomi syariah, sekaligus menjaga relevansi pesantren di era global.Ilyas mengatakan, pesantren adalah institusi unik dengan sejarah panjang yang melekat pada identitas Indonesia. “Pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga laboratorium peradaban yang melahirkan solusi bagi tantangan sosial, ekonomi, dan keagamaan. Di tengah disrupsi teknologi, globalisasi, dan perubahan nilai, pesantren harus adaptif tanpa kehilangan akar nilai-nilai Islam,” ungkapnya.
Lihat Juga :