Kisah Haru Syaima as-Sadiyah, Saudara Sepersusuan Rasulullah SAw yang Bertemu sebagai Tawanan Perang
Rabu, 07 Mei 2025 - 11:39 WIB
Syaima as-Sadiyah adalah saudara sepersusuan Rasulullah SAW, Ia merupakan anak kandung Halimah as-Sadiyah yang tiada lain adalah ibu susu atau ibu asuh Nabi Muhammad saat masih kecil. Foto ilustrasi/ist
Syaima as-Sa'diyah adalah saudara sepersusuan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Ia merupakan anak kandung Halimah as-Sa'diyah yang tiada lain adalah ibu susu atau ibu asuh Nabi Muhammad saat masih kecil. Rasulullah kecil sempat tinggal beberapa tahun bersama keluarga Halimah Bersama ibunya, Syaima’ juga ikut merawat dan mengasuh Rasulullah saat kecil.
Ketika Rasulullah berusia 5 tahun, beliau memutuskan untuk meninggalkan rumah Halimah dan hidup bersama ibu kandungnya, Aminah. Berhentinya Halimah menjadi ibu susu Rasulullah membuat Syaima’ pun tak lagi berjumpa dengan beliau.
Setelah puluhan tahun berlalu, Rasulullah akhirnya dipertemukan kembali dengan Syaima dalam sebuah peristiwa .Kisah pertemuan saudara sepersusuan dikutip dari buku “Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW” karya Gema Insani.
Dikisahkan saat itu, pada tahun ke-8 Hijriah tepatnya sebulan setelah terjadinya Fathu Makkah , pasukan muslimim berhadapan dengan kaum Hawazin dalam pertempuran Hunain.
Pada pertempuran itu kaum muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah hampir mengalami kekalahan lantaran banyaknya pasukan yang melarikan diri karena dahsyatnya serangan maut dari kaum Hawazin dan Tsaqif.
Akan tetapi teriakkan ‘Abbas yang mengema hingga ke dinding lembah terdengar oleh kaum muslimin yang sedang terpojok karena gemuruh musuh. Mereka kemudian teringat pada Rasulullah tentang jihad mereka, hingga akhirnya mereka menyadari bahwa kekalahan pertempuran ini akan membawa akibat kehancuran bagi kaum muslim. Akhirnya mereka kembali bergabung dalam pasukan, dan atas pertolongan Allah, perlahan demi perlahan pasukan Rasalullah mampu merangsek ke tengah medan.
Peperangan terasa semakin memanas, hingga membuat kaum Hawazin dan Tsaqif merasa yakin bahwa mereka berada di tengah-tengah kebinasaan. Maka, tanpa membuang waktu, kaum Hawazin dan Tsaqif melarikan diri dalam keadaan kalah dengan meninggalkan harta benda yang kemudian menjadi harta rampasan perang (ghanimah) kaum muslimin. Selain itu, para perempuan kaum Hawazin pun menjadi tawanan pasukan muslimin. Salah satu perempuan yang jatuh sebagai tawanan pasukan muslimin, yakni Syaima.
Nasib tak beruntung menimpa para perempuan yang menjadi tawanan, mereka diperlakukan dengan keras dan kasar oleh para pasukan muslimin. Tak terkecuali Syaima’, saudara sepersusuan Rasulullah pun ikut merasakan hal yang sama ketika diarak menuju ke hadapan Rasulullah. Merasa diperlakukan dengan tidak manusiawi, Syaima’ kemudian memprotes dan mengatakan bahwa dirinya adalah saudara sepersusuan Nabi Muhammad.
“Aku ini saudara perempuan teman kalian (Rasulullah),” ucap Syaima’.
Para pasukan yang mendengar pernyataan Syaima’ pun tak lantas percaya mendengar hal itu. Mereka menganggap bahwa apa yang dikatakan oleh Syaima’ adalah siasat agar perempuan itu dapat diperlakukan dengan baik.
Ketika Rasulullah berusia 5 tahun, beliau memutuskan untuk meninggalkan rumah Halimah dan hidup bersama ibu kandungnya, Aminah. Berhentinya Halimah menjadi ibu susu Rasulullah membuat Syaima’ pun tak lagi berjumpa dengan beliau.
Setelah puluhan tahun berlalu, Rasulullah akhirnya dipertemukan kembali dengan Syaima dalam sebuah peristiwa .Kisah pertemuan saudara sepersusuan dikutip dari buku “Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW” karya Gema Insani.
Dikisahkan saat itu, pada tahun ke-8 Hijriah tepatnya sebulan setelah terjadinya Fathu Makkah , pasukan muslimim berhadapan dengan kaum Hawazin dalam pertempuran Hunain.
Pada pertempuran itu kaum muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah hampir mengalami kekalahan lantaran banyaknya pasukan yang melarikan diri karena dahsyatnya serangan maut dari kaum Hawazin dan Tsaqif.
Akan tetapi teriakkan ‘Abbas yang mengema hingga ke dinding lembah terdengar oleh kaum muslimin yang sedang terpojok karena gemuruh musuh. Mereka kemudian teringat pada Rasulullah tentang jihad mereka, hingga akhirnya mereka menyadari bahwa kekalahan pertempuran ini akan membawa akibat kehancuran bagi kaum muslim. Akhirnya mereka kembali bergabung dalam pasukan, dan atas pertolongan Allah, perlahan demi perlahan pasukan Rasalullah mampu merangsek ke tengah medan.
Peperangan terasa semakin memanas, hingga membuat kaum Hawazin dan Tsaqif merasa yakin bahwa mereka berada di tengah-tengah kebinasaan. Maka, tanpa membuang waktu, kaum Hawazin dan Tsaqif melarikan diri dalam keadaan kalah dengan meninggalkan harta benda yang kemudian menjadi harta rampasan perang (ghanimah) kaum muslimin. Selain itu, para perempuan kaum Hawazin pun menjadi tawanan pasukan muslimin. Salah satu perempuan yang jatuh sebagai tawanan pasukan muslimin, yakni Syaima.
Nasib tak beruntung menimpa para perempuan yang menjadi tawanan, mereka diperlakukan dengan keras dan kasar oleh para pasukan muslimin. Tak terkecuali Syaima’, saudara sepersusuan Rasulullah pun ikut merasakan hal yang sama ketika diarak menuju ke hadapan Rasulullah. Merasa diperlakukan dengan tidak manusiawi, Syaima’ kemudian memprotes dan mengatakan bahwa dirinya adalah saudara sepersusuan Nabi Muhammad.
“Aku ini saudara perempuan teman kalian (Rasulullah),” ucap Syaima’.
Para pasukan yang mendengar pernyataan Syaima’ pun tak lantas percaya mendengar hal itu. Mereka menganggap bahwa apa yang dikatakan oleh Syaima’ adalah siasat agar perempuan itu dapat diperlakukan dengan baik.
Lihat Juga :