Kisah Haru Syaima as-Sadiyah, Saudara Sepersusuan Rasulullah SAw yang Bertemu sebagai Tawanan Perang
Rabu, 07 Mei 2025 - 11:39 WIB
Setibanya di hadapan Rasulullah, Syaima' kembali mengaku bahwa dirinya merupakan saudara sepersusuannya. Nabi Muhammad pun tak langsung mempercayai apa yang dikatakan oleh Syaima’ dan meminta bukti dari perkataan Syaima’ itu. Hal ini terjadi lantaran sudah lebih dari 50 tahun Rasulullah tidak bertemu dengan saudarinya, hingga ia tak mengenalinya.
Syaima’ pun mulai meyakinkan Rasulullah dengan mencoba menggugah ingatan Nabi Muhammad dengan kenangan masa kecil mereka. “Ingatkah kau, Nabi Allah, ketika aku memukul pangkal pahamu, kita bermain di dekat tenda, tenda keluarga kita Bani Sa’ad. Ketika kau naik ke punggungku dan menggigitku dengan gigitan kasih sayang?” ungkap Syaima’.
Baca juga: Mengenal 4 Sosok 'Ibunda' Nabi Muhammad SAW
Mendengar hal itu, seketika ingatan Rasulullah dibawa kembali pada masa kecilnya ketika ia hidup bersama keluarga Halimah. Rasulullah memang selalu mengingat segala perlakuan baik dan kenangan indah bersama Halimah dan keluarganya, termasuk dengan Syaima’. Karena saat kacil Syaima’ juga turut mengasuh Rasulullah, maka tak heran jika Rasulullah memiliki kenangan masa kecil bersamanya.
Banyak hal yang pernah dilakukan oleh Syaima’ ketika mengasuh Rasulullah. Bahkan Syaimah pernah melantunkan sebuah syair:
“Duhai, Rabb kami tetapkanlah Muhammad bersama kami hingga kulihat dia sebagai pemuda yang tumbuh dewasa lalu kulihat dia menjadi pemimpin yang begitu mulia. Kalahkanlah musuh-musuh dan orang yang dengki kepadanya serta limpahkan kemuliaan yang kekal selamanya.”
Ketika mengasuh Rasulullah, Syaima’ bahkan sering mengendongnya. Hingga suatu hari, Muhammad kecil menggigit punggung Syaima’ hingga meninggalkan bekas.
Melihat bekas gigitan yang ada di punggung Syaima’ serta datangnya kepingan kenangan masa kecil bersama Syaima’ dalam ingatannya, membuat keraguan yang tadi menghinggapi hati Rasulullah perlahan-lahan menghilang. Hingga akhirnya beliau percaya bahwa sosok tawanan di yang berada di hadapannya itu adalah saudara sepersusuannya, dari Halimah.
Rasa haru sekaligus bahagia menghinggapi hati Rasulullah setelah menyadari fakta tersebut. Puluhan tahun telah berpisah akhirnya beliau kembali dipertemukan dengan saudariny, namun dalam keadaan yang tidak mengenakkan. Merasa sebelumnya telah menyakiti hati Syaima’ karena melupakan wajahnya, seketika itu juga Rasulullah menyambut dan memperlakukan Syaima’ dengan penuh hormat. Beliau bahkan langsung membentangkan sorban yang dipakainya dan mempersilahkan Syaima’ duduk di atasnya.
Dengan suara bergetar karena diliputi rasa haru, Rasulullah berkata kepadanya,
Syaima’ pun mulai meyakinkan Rasulullah dengan mencoba menggugah ingatan Nabi Muhammad dengan kenangan masa kecil mereka. “Ingatkah kau, Nabi Allah, ketika aku memukul pangkal pahamu, kita bermain di dekat tenda, tenda keluarga kita Bani Sa’ad. Ketika kau naik ke punggungku dan menggigitku dengan gigitan kasih sayang?” ungkap Syaima’.
Baca juga: Mengenal 4 Sosok 'Ibunda' Nabi Muhammad SAW
Mendengar hal itu, seketika ingatan Rasulullah dibawa kembali pada masa kecilnya ketika ia hidup bersama keluarga Halimah. Rasulullah memang selalu mengingat segala perlakuan baik dan kenangan indah bersama Halimah dan keluarganya, termasuk dengan Syaima’. Karena saat kacil Syaima’ juga turut mengasuh Rasulullah, maka tak heran jika Rasulullah memiliki kenangan masa kecil bersamanya.
Banyak hal yang pernah dilakukan oleh Syaima’ ketika mengasuh Rasulullah. Bahkan Syaimah pernah melantunkan sebuah syair:
“Duhai, Rabb kami tetapkanlah Muhammad bersama kami hingga kulihat dia sebagai pemuda yang tumbuh dewasa lalu kulihat dia menjadi pemimpin yang begitu mulia. Kalahkanlah musuh-musuh dan orang yang dengki kepadanya serta limpahkan kemuliaan yang kekal selamanya.”
Ketika mengasuh Rasulullah, Syaima’ bahkan sering mengendongnya. Hingga suatu hari, Muhammad kecil menggigit punggung Syaima’ hingga meninggalkan bekas.
Melihat bekas gigitan yang ada di punggung Syaima’ serta datangnya kepingan kenangan masa kecil bersama Syaima’ dalam ingatannya, membuat keraguan yang tadi menghinggapi hati Rasulullah perlahan-lahan menghilang. Hingga akhirnya beliau percaya bahwa sosok tawanan di yang berada di hadapannya itu adalah saudara sepersusuannya, dari Halimah.
Rasa haru sekaligus bahagia menghinggapi hati Rasulullah setelah menyadari fakta tersebut. Puluhan tahun telah berpisah akhirnya beliau kembali dipertemukan dengan saudariny, namun dalam keadaan yang tidak mengenakkan. Merasa sebelumnya telah menyakiti hati Syaima’ karena melupakan wajahnya, seketika itu juga Rasulullah menyambut dan memperlakukan Syaima’ dengan penuh hormat. Beliau bahkan langsung membentangkan sorban yang dipakainya dan mempersilahkan Syaima’ duduk di atasnya.
Dengan suara bergetar karena diliputi rasa haru, Rasulullah berkata kepadanya,
Lihat Juga :