Tidak Ada Kasta, Islam Mengajarkan Kesetaraan
Senin, 07 September 2020 - 16:43 WIB
Imam Shamsi Ali, Direktur/Imam Jamaica Muslim Center (kanan) dalam sebuah acara di New York beberapa waktu lalu. Foto/Sit
Imam Shamsi Ali
Direktur/Imam Jamaica Muslim Center
Presiden Nusantara Foundation USA
Self confidence (percaya diri) telah terbukti kemenangan pasukan umat yang jumlahnya kecil dan dengan peralatan perang seadanya, melawan pasukan yang jumlahnya lebih besar, dan dengan peralatan perang yang lebih hebat.
Salah satu bukti sejarah itu adalah perang Badar di mana 303 (ada yang menyebut 313 orang) pasukan Muslim mengalahkan 1000 lebih pasukan musyrik dengan peralatan perang yang lebih hebat. Konon kabarnya mereka memiliki 100 pasukan berkuda. Sementara pasukan Islam hanya memiliki 2 pasukan berkuda. (Baca Juga: Kemunduran Umat Islam karena Kurangnya Percaya Diri )
Dengan iman dan tawakkal kepada Allah mereka menumbuhkan keyakinan penuh akan "an-nashr watta'yiid" dari-Nya. Relasi vertikal yang solid seperti ini dengan sendirinya kemudian menumbuhkan "self confidence" yang tidak tergoyahkan. Persis ketika disampaikan kepada mereka: "sesungguhnya manusia telah mempersiapkan segalanya (untuk menyerang kamu). Tapi mereka tiada bertambah kecuali dalam iman dan berserah diri (Islam)". ( Al-Qur'an ).
Dengan self confidence orang-orang beriman akan mampu melahirkan pemikiran-pemikiran dan karya-karyanya dalam kehidupan. Pemikiran yang teraplikasikan dalam karya itulah sesungguhnya yang disebut peradaban manusia.
(Baca Juga: Update Covid-19: Kasus Positif Naik 2.880, Sembuh Bertambah 2.077 Orang )
Dalam sejarah umat ini pemikiran dan karya sebagai peradaban manusia bukanlah sesuatu yang baru dan asing. Sepanjang sejarahnya umat ini selalu membuktikan jika dengan iman yang menumbuhkan 'self confidence' telah melahirkan independensi pemikiran yang teraplikasikan dalam karya-karya nyata dalam kehidupan manusia. (Baca Juga: Begini Cara Rasulullah SAW Membangun Ekonomi Umat )
Equal Opportunity
Salah satu karakteristik dasar ajaran Islam adalah "kesetaraan". Bermula dari penilaian manusia yang bersifat universal, tanpa membeda-bedakan berdasarkan ras, etnis, dan seterusnya. Hingga membangun nilai kemanusiaan yang tidak dibatasi oleh batasan-batasan yang bersifat relatif dan partikular.
Direktur/Imam Jamaica Muslim Center
Presiden Nusantara Foundation USA
Self confidence (percaya diri) telah terbukti kemenangan pasukan umat yang jumlahnya kecil dan dengan peralatan perang seadanya, melawan pasukan yang jumlahnya lebih besar, dan dengan peralatan perang yang lebih hebat.
Salah satu bukti sejarah itu adalah perang Badar di mana 303 (ada yang menyebut 313 orang) pasukan Muslim mengalahkan 1000 lebih pasukan musyrik dengan peralatan perang yang lebih hebat. Konon kabarnya mereka memiliki 100 pasukan berkuda. Sementara pasukan Islam hanya memiliki 2 pasukan berkuda. (Baca Juga: Kemunduran Umat Islam karena Kurangnya Percaya Diri )
Dengan iman dan tawakkal kepada Allah mereka menumbuhkan keyakinan penuh akan "an-nashr watta'yiid" dari-Nya. Relasi vertikal yang solid seperti ini dengan sendirinya kemudian menumbuhkan "self confidence" yang tidak tergoyahkan. Persis ketika disampaikan kepada mereka: "sesungguhnya manusia telah mempersiapkan segalanya (untuk menyerang kamu). Tapi mereka tiada bertambah kecuali dalam iman dan berserah diri (Islam)". ( Al-Qur'an ).
Dengan self confidence orang-orang beriman akan mampu melahirkan pemikiran-pemikiran dan karya-karyanya dalam kehidupan. Pemikiran yang teraplikasikan dalam karya itulah sesungguhnya yang disebut peradaban manusia.
(Baca Juga: Update Covid-19: Kasus Positif Naik 2.880, Sembuh Bertambah 2.077 Orang )
Dalam sejarah umat ini pemikiran dan karya sebagai peradaban manusia bukanlah sesuatu yang baru dan asing. Sepanjang sejarahnya umat ini selalu membuktikan jika dengan iman yang menumbuhkan 'self confidence' telah melahirkan independensi pemikiran yang teraplikasikan dalam karya-karya nyata dalam kehidupan manusia. (Baca Juga: Begini Cara Rasulullah SAW Membangun Ekonomi Umat )
Equal Opportunity
Salah satu karakteristik dasar ajaran Islam adalah "kesetaraan". Bermula dari penilaian manusia yang bersifat universal, tanpa membeda-bedakan berdasarkan ras, etnis, dan seterusnya. Hingga membangun nilai kemanusiaan yang tidak dibatasi oleh batasan-batasan yang bersifat relatif dan partikular.
Lihat Juga :