Tidak Ada Kasta, Islam Mengajarkan Kesetaraan

Senin, 07 September 2020 - 16:43 WIB
Manusia secara 'jasadi' (fisikal) dalam segala ragamnya sama. Seorang anak berkulit hitam, bermancung pesek, berambut keriting, terlahir dari seorang Ibu yang secara sosial rendah, miskin, terbelakang, dan seterusnya, adalah setara dengan anak berkulit putih, keturunan Eropa yang kaya raya lagi dihormati.

Kedua, manusia itu di saat lahir memiliki kesetaraan lahir batin. Secara lahir keduanya tercipta dari tanah. Secara batin keduanya membawa "Ruh ilahiyah" (fitrah kesucian). Sehingga yang menentukan kehormatan, atau sebaliknya kehinaannya, adalaha bagaimana dia menjalani kehidupannya di kemudian hari.

Jika kehidupan ini dijalani dengan tanggung jawab maka dia dengan sendirinya terhormat. Tanggung jawab dalam menjalani hidup itulah yang diistilahkan sebagai "righteous life" (kehidupan yang saleh).

Tentu sebaliknya jika kehidupan dijalani dengan tidak tanggung jawab maka dengan sendirinya mencampakkan diri ke dalam lembah kehinaan. Mungkin dalam bahasa Al-Qur'an : "Laqad khalaqnal insana fi ahsani taqwim tsumma radadnaahu asfala safilin".

Kata yang menyimpulkan berbagai bentuk kesalehan manusia adalah "taqwa". Dan takwa pusatnya ada pada hati manusia. Hati yang dipenuhi takwa inilah yang kemudian membentuk warna kehidupan manusia itu.

Karena sesunggguhnya dalam diri setiap manusia itu ada segumpal darah. Jika segumpal darah itu baik maka baik semua amalannya. Tapi jika segumpal darah itu rusak maka rusaklah seluruh amalannya. Dan itulah dia hati (Al-Qalb). (Hadits).

Dengan demikian pijakan kemuliaan (karamat) manusia bersifat non material. Bukan oleh batasan atau defenisi material kemanusiaan kita. Dengan demikian, dengan sendirinya siapapun dalam agama ini, apapun latar belakangnya, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi yang "terbaik" (khaer) dan termulia (akram).

Dalam menguatkan proses pembangunan peradaban manusia, Rasulullah SAW menanamkan semangat "equalitas" ini secara konsisten. Dalam berbagai praktek kehidupan keseharian menunjukkan bagaimana beliau menekankan dasar "kesetaraan" ini.

(Baca Juga: Profesor Indonesia Raih Penghargaan Dosen Terbaik dari Universitas Jerman )

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa suatu ketika dua sahabat agung Rasulullah , Abdurrahman Bin Auf dan Bilal bin Rabah bertikai. Kedua sahabat ini sangat berbeda secara fisik dan material. Abdurrahman RA adalah keturunan bangsawan, kaya dan berwarna kulit yang secara sosial saat itu dipandang lebih "privileged" atau berkulit putih.

Sementara Bilal adalah mantan budak, miskin dan berwarna kulit yang secara sosial dipandang "under privileged" (kurang terpandang) ketika itu atau berkulit hitam. Abdurrahman yang juga kaya saat itu merasa tidak pantas jika Bilal yang hitam, miskin dan mantan budak berani berdebat dengannya. Karenanya terlontarlah dari mulutnya kata-kata yang merendahkan (insulting) Bilal dengan memanggilnya "Yaa ibnas sawdaa" (hai anak wanita hitam).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!