9 Cara Menghindari Dosa Dusta dan Ghibah
Senin, 07 September 2020 - 21:37 WIB
6. Jika kita merupakan orang yang menjadi objyek pembicaraan, kitapun harus menanggapinya dengan akhlak yang baik dan bijaksana. Kita mencek kembali, mengapa mereka membicarakan kita, siapa saksinya kemudian diselesaikan dengan baik.
7. Imbauan secara khusus kepada orang-orang yang menjadi panutan, baik dalam kantornya, masyarakatnya atau di mana saja, untuk menjauhi hal ini (ghibah dan dusta), supaya mereka yang berada di bawahnya dapat mencontoh. Karena apabila para panutan ini memberikan keteladanan yang buruk, maka para bawahannya pun akan mengikutinya.
8. Mengajak orang lain untuk menghindari diri dari penyakit ini dengan cara tidak membicarakan orang lain. Tidak mendengarkan jika ada orang yang membicarakan orang lain, memberikan teguran dan lain sebagainya.
9. Mengingat-ingat kembali tentang hukum dusta dan ghibah serta akibat yang akan ditimbulkan dari adanya hal seperti ini.
(Baca Juga: Menpan RB Segera Terbitkan Aturan Sistem Kerja Baru, 75% ASN DKI Bakal WFH )
Karena itu, hendaknya kita memperbaharui taubat kita kepada Allah Ta'ala dan berjanji untuk tidak terjerumus kembali pada ghibah dan dusta, semampu kita. Apalagi jika kita merenungi bahwa salah satu sifat mukmin adalah sebagaimana yang digambarkan dalam hadits berikut:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ (رواه البخاري)
Dari Abdullah bin Amru RA, Rasulullah SAW bersabda: "Seorang muslim adalah seseorang yang menjadikan muslim lainnya selamat (terjaga) dari lisan dan tanganya. Sedangkan muhajir adalah orang yang meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah Ta'ala. (HR. Al-Bukhari). (Baca Juga: Jauhi Ghibah! Istri Nabi Pernah Ditegur Gara-gara Sebut si Fulan Pendek )
Wallahu Ta'ala A'lam
7. Imbauan secara khusus kepada orang-orang yang menjadi panutan, baik dalam kantornya, masyarakatnya atau di mana saja, untuk menjauhi hal ini (ghibah dan dusta), supaya mereka yang berada di bawahnya dapat mencontoh. Karena apabila para panutan ini memberikan keteladanan yang buruk, maka para bawahannya pun akan mengikutinya.
8. Mengajak orang lain untuk menghindari diri dari penyakit ini dengan cara tidak membicarakan orang lain. Tidak mendengarkan jika ada orang yang membicarakan orang lain, memberikan teguran dan lain sebagainya.
9. Mengingat-ingat kembali tentang hukum dusta dan ghibah serta akibat yang akan ditimbulkan dari adanya hal seperti ini.
(Baca Juga: Menpan RB Segera Terbitkan Aturan Sistem Kerja Baru, 75% ASN DKI Bakal WFH )
Karena itu, hendaknya kita memperbaharui taubat kita kepada Allah Ta'ala dan berjanji untuk tidak terjerumus kembali pada ghibah dan dusta, semampu kita. Apalagi jika kita merenungi bahwa salah satu sifat mukmin adalah sebagaimana yang digambarkan dalam hadits berikut:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ (رواه البخاري)
Dari Abdullah bin Amru RA, Rasulullah SAW bersabda: "Seorang muslim adalah seseorang yang menjadikan muslim lainnya selamat (terjaga) dari lisan dan tanganya. Sedangkan muhajir adalah orang yang meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah Ta'ala. (HR. Al-Bukhari). (Baca Juga: Jauhi Ghibah! Istri Nabi Pernah Ditegur Gara-gara Sebut si Fulan Pendek )
Wallahu Ta'ala A'lam
(rhs)
Lihat Juga :