5 Tokoh Muslim yang Mengguncang Peradaban Barat

Senin, 30 Juni 2025 - 13:33 WIB
Abbdurraham diasuh oleh kakeknya, Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Ausath, yang telah mendidiknya dengan sungguh-sungguh. Pada usia 10 tahun sudah rajin mempelajari Al-Qur’an dan sunnah, Ilmu Nahwu, syair, sejarah, dan seni pertempuran serta keprajuritan.

Kakeknya itu menyerahkan khatim/stemple kekuasaannya kepada Abdurrahman An-Nashir yang menjadi isyarat kuat bahwa dialah yang mewarisi kepemimpinan. Abdurrahman menjabat kepemimpinan saat berusia 21 tahun; wilayahnya saat itu hanya mencakup 1/10 wilayah Andalusia, yakni Cordova dan beberapa desa kecil.

Abdurrahman An-Nashir melakukan perubahan ‘kabinet’, ia memilih orang-orang yang betul-betul memiliki kapasitas, kapabilitas, dan skill. Ia memuliakan para ulama dan tunduk pada arahan-arahan mereka.

Jadi Pusat Peradaban Eropa

Berkat kepemimpinannya, Cordova/Cordoba menjadi pusat peradaban Eropa. Dengan identitasnya sebagai Muslim, ia menunjukkan bahwa kekhalifahan bukan saja hanya urusan agama tetapi juga intelektualitas, sains dan kemajuan masyarakatnya.

Dibawah kepemimpinannya, Andalusia menjadi rumah bagi para cendekiawan Muslim, Yahudi dan Kristen yang saling bertukar ide. Bahkan eropa latin berguru ke Cordoba untuk belajar filsafat, kedokteran dan astronomi.

Baca juga: Muslim Pertama Calon Wali Kota New York Zohran Mamdani Hadapi Serangan Rasis

3. Muhammad II Al Fatih (Turki Utsmani)

Puncak kejayaan Turki Utsmani ada pada tiga orang sultan, salah satunya adalah Sultan Muhammad II (1451-1484 M) bergelar “Al-Fatih Sang Penakluk”. Pada masanya, Al-Fatih dapat mengalahkan Byzantium dan menaklukkan Konstantinopel yang sudah direncanakan dulu oleh Sultan Bayazid.

Dr. H. Syamruddin Nasution, M.Ag dalam bukunya berjudul "Sejarah Peradaban Islam" (Yayasan Pusaka Riau, 2013) menuturkan kekuasaan Daulah Utsmani yang sedemikian luas di Asia Kecil dan Eropa Timur tidak dapat kokoh sebelum Konstantinopel ditaklukkan. Oleh sebab itu, menaklukkan Konstantinopel suatu keniscayaan yang tidak dapat di tawar-tawar, karena urusan hidup matinya Daulah Turki Utsmani terletak pada keberhasilan mereka menaklukkan Konstantinopel.

Al Fatih juga dikenal sebagai pembebas Konstantinopel. Ia tidak hanya sekadar simbol kekuatan militer Islam tetapi juga pembuka pintu peradaban Islam ke jantung dunia Kristen Timur.

Setelah menaklukan Bizantium, Al Fatih tidak menghancurkannya melainkan membangunnya kembali sebagai pusat kebudayaan Islam dan toleransi. Al Fatih juga melindungi gereja, mengundang ilmuwan Barat dan Timur dan memperluas jangkauan intelektual Istambul.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!