Kemenag Dorong Integrasi Fikih dan Astronomi dalam Penentuan Hilal
Sabtu, 26 Juli 2025 - 09:42 WIB
Menurut Zulhilmi, forum MABIMS sangat strategis karena menjadi ruang bertukar pengalaman. “Kami belajar dari Indonesia yang luas dengan banyak ormas, dan dari Singapura yang mengandalkan hisab karena faktor cuaca dan polusi cahaya. Brunei mengambil titik tengah untuk menjaga keseragaman,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa falak bukan hanya soal penentuan puasa dan lebaran. “Sayangnya, masyarakat hanya ingat ilmu falak menjelang Ramadan atau Idulfitri. Padahal ia juga mengatur waktu salat, arah kiblat, bahkan kalender ibadah tahunan,” ungkapnya.
Zulhilmi berharap, kriteria MABIMS bisa diperluas penggunaannya. “Kalau hilal sudah jelas terlihat di Aceh, kenapa tidak dijadikan acuan bagi Brunei, Malaysia, atau Singapura? Ini langkah kecil menuju persatuan hilal Nusantara,” usulnya.
Dari Singapura, Firdaus Yahya, anggota Jawatankuasa Fatwa & Falak, memaparkan keunikan tantangan di negerinya. “Singapura itu minoritas muslim tapi punya mufti. Namun karena hujan sepanjang tahun dan polusi cahaya tinggi, hampir mustahil melihat hilal. Dalam 80 tahun terakhir, tak ada satu pun catatan hilal terlihat pada 29 Sya’ban atau 29 Ramadan,” jelasnya.
Baca Juga: Pentingnya Tukmaninah dalam Salat, Begini Penjelasannya
Karena itu, Singapura mengandalkan hisab sepenuhnya untuk menentukan awal bulan. “Kami tetap berpegang pada syariat. Rasulullah saw. bersabda, kalau tidak bisa melihat hilal karena tertutup awan, maka sempurnakan hitungan bulan. Jadi hisab kami tidak bertentangan dengan hadis,” tegas Firdaus.
Ia menambahkan, Singapura tetap merujuk kriteria MABIMS. “Kalau secara hisab hilal memenuhi syarat Imkanur Rukyat, esoknya awal bulan. Kalau tidak, bulan disempurnakan 30 hari. Ini solusi praktis sekaligus syar’i bagi kami,” katanya.
Meski berbeda metode, Firdaus berharap semangat MABIMS tetap dijaga. “Kalau nanti teknologi observasi makin maju, mungkin rukyat bisa dihidupkan kembali di Singapura. Yang terpenting sekarang adalah tetap sejalan dengan semangat penyatuan,” ujarnya.
Perbedaan penentuan hilal adalah dinamika, menurutnya, bukanlah sumber perpecahan. Integrasi fikih dan astronomi dianggap sebagai jalan terbaik agar umat memahami bahwa setiap keputusan memiliki dasar ilmiah sekaligus syar’i. MABIMS pun diharapkan menjadi model regional penyatuan kalender Islam yang ilmiah,moderat, dan mengutamakan syiar.
Ia juga menegaskan bahwa falak bukan hanya soal penentuan puasa dan lebaran. “Sayangnya, masyarakat hanya ingat ilmu falak menjelang Ramadan atau Idulfitri. Padahal ia juga mengatur waktu salat, arah kiblat, bahkan kalender ibadah tahunan,” ungkapnya.
Zulhilmi berharap, kriteria MABIMS bisa diperluas penggunaannya. “Kalau hilal sudah jelas terlihat di Aceh, kenapa tidak dijadikan acuan bagi Brunei, Malaysia, atau Singapura? Ini langkah kecil menuju persatuan hilal Nusantara,” usulnya.
Dari Singapura, Firdaus Yahya, anggota Jawatankuasa Fatwa & Falak, memaparkan keunikan tantangan di negerinya. “Singapura itu minoritas muslim tapi punya mufti. Namun karena hujan sepanjang tahun dan polusi cahaya tinggi, hampir mustahil melihat hilal. Dalam 80 tahun terakhir, tak ada satu pun catatan hilal terlihat pada 29 Sya’ban atau 29 Ramadan,” jelasnya.
Baca Juga: Pentingnya Tukmaninah dalam Salat, Begini Penjelasannya
Karena itu, Singapura mengandalkan hisab sepenuhnya untuk menentukan awal bulan. “Kami tetap berpegang pada syariat. Rasulullah saw. bersabda, kalau tidak bisa melihat hilal karena tertutup awan, maka sempurnakan hitungan bulan. Jadi hisab kami tidak bertentangan dengan hadis,” tegas Firdaus.
Ia menambahkan, Singapura tetap merujuk kriteria MABIMS. “Kalau secara hisab hilal memenuhi syarat Imkanur Rukyat, esoknya awal bulan. Kalau tidak, bulan disempurnakan 30 hari. Ini solusi praktis sekaligus syar’i bagi kami,” katanya.
Meski berbeda metode, Firdaus berharap semangat MABIMS tetap dijaga. “Kalau nanti teknologi observasi makin maju, mungkin rukyat bisa dihidupkan kembali di Singapura. Yang terpenting sekarang adalah tetap sejalan dengan semangat penyatuan,” ujarnya.
Perbedaan penentuan hilal adalah dinamika, menurutnya, bukanlah sumber perpecahan. Integrasi fikih dan astronomi dianggap sebagai jalan terbaik agar umat memahami bahwa setiap keputusan memiliki dasar ilmiah sekaligus syar’i. MABIMS pun diharapkan menjadi model regional penyatuan kalender Islam yang ilmiah,moderat, dan mengutamakan syiar.
(aww)
Lihat Juga :