Mengapa Ada Tradisi Rebo Wekasan di Bulan Safar?

Selasa, 19 Agustus 2025 - 05:15 WIB
Sakit atau sehat, musibah atau selamat, semua kembali kepada kehendak Allah. Penularan hanyalah sebuah sarana berjalannya takdir Allah.

Namun, walaupun keseluruhannya kembali kepada Allah, bukan semata-mata sebab penularan, manusia tetap diwajibkan untuk ikhtiar dan berusaha agar terhindar dari segala musibah.

Baca juga: Rebo Wekasan, Asal-usul dan Hukum Amalannya Menurut Islam

Dalam kesempatan yang lain Rasulullah bersabda:

لَا يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ


“Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Maksud hadis laa thiyaarata atau tidak diperbolehkan meramalkan adanya hal-hal buruk adalah bahwa sandaran tawakkal manusia itu hanya kepada Allah, bukan terhadap makhluk atau ramalan. Karena hanyalah Allah yang menentukan baik dan buruk, selamat atau sial, kaya atau miskin.

Zaman atau masa tidak ada sangkut pautnya dengan pengaruh dan takdir Allah. Ia sama seperti waktu- waktu yang lain, ada takdir buruk dan takdir baik.

Apakah Ada Perayaan Rebo Wekasan dalam Islam?

Apakah ada perayaan khusus Rebo Wekasan dalam Islam? Siti Mahmudah Yanti dalam papernya berjudul "Tradisi Rebo Wekasan Di Desa Suci" menyebut ini sebagai tradisi yang sudah identik dan melekat dengan Budaya Jawa . Dia menyebut ritual ini dilakukan sejak Sunan Giri .

Istilah Rebo Wekasan bila ditinjau dari Bahasa Arab adalah Arba’a yang berarti Rabu dan Hasanun yang berarti bagus. Artinya hari Rabu sebaiknya dipergunakan untuk melakukan hal-hal yang bagus.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!