Kapan Puasa Ramadan 2026 Dimulai? Ini Jadwal Sidang Isbat Kemenag dan Versi Muhammadiyah

Selasa, 03 Februari 2026 - 13:22 WIB
Sidang ini rencananya bakal dihadiri oleh Menteri Agama, Wakil Menteri Agama, pimpinan Komisi VIII DPR RI, Ketua MUI, Tim Hisab Rukyat Kemenag, perwakilan ormas Islam, hingga duta besar negara sahabat.

Berdasarkan sidang isbat pada 17 Februari 2026, awal Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada 18 Februari 2026, apabila hilal sudah memenuhi kriteria terlihat. Namun, jika hilal belum teramati, maka awal puasa Ramadan berpotensi dimulai 19 Februari 2026. Keputusan resmi mengenai 1 Ramadan 2026 akan diumumkan pemerintah setelah sidang isbat selesai dilaksanakan.

Awal Ramadan Versi Muhammadiyah

Sedangkan organisasi Islam Muhammadiyah mengumumkan bahwa awal Ramadan atau 1 Ramadan 1447 Hijriyah akan jatuh pada tanggal 18 Fabruari 2026, sehingga awal puasa Ramadan jatuh pada tanggal tersebut. Pengumuman itu disampaikan anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo,beberapa waktu lalu. Penetapan Ramadan 18 Fabruari 2026 ini berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Rahmadi menjelaskan bahwa KHGT dibangun di atas prinsip utama keselarasan hari dan tanggal di seluruh dunia (one day, one date globally). Prinsip ini hanya dapat terwujud apabila bumi dipandang sebagai satu kesatuan matla’, tanpa pembagian zona-zona regional, serta tetap mengikuti garis tanggal internasional. “Kalau bumi dibagi ke dalam zona-zona penanggalan, maka tidak mungkin terjadi keseragaman hari dan tanggal. Karena bisa terjadi kawasan barat sudah masuk tanggal baru, sementara kawasan timur belum,” jelasnya seperti dilansir laman Muhammadiyah or.id.

Ia menambahkan, kalender apa pun pada dasarnya hanya bisa disusun dengan metode hisab (perhitungan astronomi). Rukyah, menurutnya, hanya mampu memastikan satu bulan ke depan, sehingga tidak mungkin melahirkan sistem kalender jangka panjang. Karena itu, KHGT menggunakan prinsip ittihadul mathali’ (kesatuan matla’) dan parameter global, bukan kriteria lokal.

Rahmadi menerangkan, berdasarkan keputusan Majelis Tarjih, seluruh kawasan dunia dipandang sebagai satu kesatuan. Bulan baru dimulai secara serentak apabila sebelum pukul 24.00 GMT terdapat wilayah daratan di bumi yang memenuhi dua syarat astronomis berikut:

Elongasi bulan–matahari minimal 8 derajat

Ketinggian hilal saat matahari terbenam minimal 5 derajat. Apabila kriteria ini belum terpenuhi sebelum pukul 24.00 GMT, masih tersedia parameter lanjutan, yakni:

- Ijtimak (konjungsi) harus terjadi di Selandia Baru sebelum fajar, karena wilayah ini merupakan kawasan berpenduduk paling awal menyambut hari baru di bumi.

- Pada saat yang sama, parameter 5 derajat dan 8 derajat harus terpenuhi di daratan benua Amerika, yang menjadi patokan akhir siklus 24 jam global.

“Fajar dipilih karena ia menjadi batas awal puasa. Ini untuk memastikan tidak ada satu pun wilayah di bumi yang tertinggal atau mendahului kalender global,” terang Rahmadi.

Berdasarkan hasil hisab, konjungsi bulan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12:01:09 GMT. Namun, hingga sebelum pukul 24.00 GMT di hari tersebut, tidak ada wilayah dunia yang memenuhi secara langsung kriteria elongasi 8 derajat dan ketinggian hilal 5 derajat. artinya, syarat utama belum terpenuhi. Karena itu, Majelis Tarjih kemudian menggunakan parameter lanjutan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!