Kisah Para Wali: Awal Mula Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani Belajar Tasawuf

Minggu, 20 September 2020 - 05:05 WIB
Awal Mula Belajar Tasawuf

Dalam Manaqib itu, Syeikh Abdul Qadir Jilani menceritakan kisah pengembaraannya ke pinggiran Kota Baghdad. Beliau bercerita, di sekitar Mudzafariyah, seorang lelaki yang tak pernah kukenal sebelumnya, membuka pintu rumahnya dan memanggilku: "Hai Abdul Qadir."

Ketika berada tepat di depan pintu rumahnya, ia berkata: "Katakan padaku apa yang kau minta kepada Allah. Apa yang kau doakan kemarin?"Aku diam terpaku, tak dapat kutemukan jawabannya. Orang itu menatapku, lalu tiba-tiba membanting pintu dengan sangat keras sehingga debu-debu berterbangan dan mengotori nyaris seluruh tubuhku.

Aku pergi, sambil bertanya-tanya apa yang kupinta kepada Allah sehari sebelumnya. Aku berhasil mengingatnya, lalu kembali ke rumah itu untuk memberikan jawaban. Namun, rumah tadi tak dapat kutemukan, begitu pun orang itu. Rasa takut menyelubungiku. Pikirku, ia tentu orang yang dekat dengan Allah. Kelak, aku mengetahui bahwa orang itu adalah Syeikh Hammad ad-Dabbas, yang kemudian menjadi guruku.

Pada suatu malam yang dingin, di tengah guyuran hujan deras, tangan ghaib menuntun Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani ke padepokan tasawuf milik Syeikh Hammad bin Muslim ad-Dabbas. Pimpinan padepokan itu mengetahui kedatangan Syeikh Abdul Qadir al-Jilani melalui ilham. Syeikh Hammad memerintah agar pintu padepokan ditutup dan lampu dipadamkan.

Setibanya di depan pintu padepokan, Syeikh Abdul Qadir al-Jailani dilanda kantuk yang hebat dan langsung tertidur lelap. Dalam tidurnya beliau berhadas besar sehingga pergi untuk mandi dan berwudhu di sungai. Usai bersuci kembali beliau tertidur dan berhadas lagi, hingga tujuh kali dalam semalam. Tujuh kali beliau mandi dan berwudhu dengan air yang nyaris membekukan tubuh.

Keesokan paginya, pintu padepokan dibuka dan beliau pun masuk ke dalamnya. Syeikh Hammad bangkit untuk mengucapkan salam kepada beliau. Dengan penuh suka cita, Syeikh Hammad memeluk beliau dan berkata: "Anakku, Abdul Qadir, hari ini keberuntungan milik kami. Esok, engkaulah pemiliknya. Jangan pernah tinggalkan jalan ini."

Syeikh Hammad menjadi guru pertama beliau dalam bidang tasawuf. Melalui tangan Syeikh Hammad itulah beliau bersumpah dan memasuki jalan thariqah. Mengenai hal ini, Syeikh Abdul Qadir al-Jailani bercerita: "Aku belajar kepada banyak guru di Baghdad. Namun, setiap kali aku tak dapat memahami sesuatu atau ingin mengetahui suatu rahasia, Syeikh Hammad memberiku penjelasan. Kadangkala aku dimintanya mencari ilmu dari ulama lain, mengenai akidah, hadis, fiqih dan lain-lain. Setiap kali aku pulang ke padepokan, ia selalu bertanya: "Ke mana saja kau? Selama kepergianmu, kami mendapatkan begitu banyak makanan yang sangat lezat bagi tubuh, akal, serta jiwa dan tak sedikitpun yang kami sisakan untukmu."

Di saat yang lain ia berkata: "Demi Allah, dari mana saja kau? Adakah orang lain di sini yang lebih tahu (alim) daripada engkau?"

Murid-muridnya mengusikku dengan mengatakan: "Kau adalah ahli fiqih, mahir menulis dan ahli ilmu. Mengapa kau tidak keluar saja dari sini?"
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!