Kebalikan Mabrur, Ini 5 Tanda Mardud Haji yang Tertolak
Minggu, 31 Mei 2026 - 05:15 WIB
Menurut Kiai Chodri, sebelum berangkat memenuhi undangan Nabi Ibrahim AS ini, sebaiknya disimak dan dihayati dulu sabda Nabi Muhammad SAW sebagaimana keterangan di al-Khatib yang bersumber dari Anas bin Malik ra.
“Apabila sudah tiba akhir zaman, ada empat jenis orang menjalankan ibadah haji. Mereka ada para penguasa menjalankan ibadah haji berhaji untuk berpesiar dan rekreasi. Orang kaya para hartawan berhaji untuk kepentingan peringat perniagaan. Orang miskin menunaikan haji untuk mengemis, para ulama menunaikan haji untuk mendapatkan popularitas.”
Menurutnya, sebagian dari prediksi Rasulullah SAW tersebut sudah menjadi kenyataan. Banyak jamaah setibanya di Makkah atau Madinah, pertama yang menjadi perhatian adalah fasilitas.
Lima belas abad yang lampau khalifah Umar Bin Khattab mengatakan. “Yang betul-betul menunaikan ibadah haji itu sedikit sekali sedangkan yang berjalan-jalan sungguh amat banyak.”
Orang yang ingin hajinya mabrûr harus memastikan bahwa seluruh harta yang ia pakai untuk haji adalah harta yang halal, terutama bagi mereka yang selama mempersiapkan biaya pelaksanaan ibadah haji tidak lepas dari transaksi dengan bank.
2. Amalan-amalan haji tidak dilakukan dengan baik atau tidak sesuai dengan tuntunan Nabi SAW.
Haji yang mabrûr memperhatikan keikhlasan hati, sedangkan haji mardud sebaliknya. Mari merenungkan perkataan Syuraih al-Qâdhi: “Yang (benar-benar) berhaji sedikit, meski jama`ah haji banyak. Alangkah banyak orang yang berbuat baik, tapi alangkah sedikit yang ikhlas karena Allah Azza wa Jalla.”
3. KHajinya kering dari amalan baik seperti zikir, salat di Masjidil Haram, salat pada waktunya, dan membantu teman seperjalanan.
Ibnu Rajab berkata: “Maka haji mabrûr adalah yang terkumpul di dalamnya amalan-amalan baik, plus menghindari perbuatan-perbuatan dosa.
“Apabila sudah tiba akhir zaman, ada empat jenis orang menjalankan ibadah haji. Mereka ada para penguasa menjalankan ibadah haji berhaji untuk berpesiar dan rekreasi. Orang kaya para hartawan berhaji untuk kepentingan peringat perniagaan. Orang miskin menunaikan haji untuk mengemis, para ulama menunaikan haji untuk mendapatkan popularitas.”
Menurutnya, sebagian dari prediksi Rasulullah SAW tersebut sudah menjadi kenyataan. Banyak jamaah setibanya di Makkah atau Madinah, pertama yang menjadi perhatian adalah fasilitas.
Lima belas abad yang lampau khalifah Umar Bin Khattab mengatakan. “Yang betul-betul menunaikan ibadah haji itu sedikit sekali sedangkan yang berjalan-jalan sungguh amat banyak.”
5 tanda-tanda Haji Mardud
1. Harta yang dipakai untuk haji adalah harta yang haram. Karena Allah tidak menerima kecuali yang halal.Orang yang ingin hajinya mabrûr harus memastikan bahwa seluruh harta yang ia pakai untuk haji adalah harta yang halal, terutama bagi mereka yang selama mempersiapkan biaya pelaksanaan ibadah haji tidak lepas dari transaksi dengan bank.
2. Amalan-amalan haji tidak dilakukan dengan baik atau tidak sesuai dengan tuntunan Nabi SAW.
Haji yang mabrûr memperhatikan keikhlasan hati, sedangkan haji mardud sebaliknya. Mari merenungkan perkataan Syuraih al-Qâdhi: “Yang (benar-benar) berhaji sedikit, meski jama`ah haji banyak. Alangkah banyak orang yang berbuat baik, tapi alangkah sedikit yang ikhlas karena Allah Azza wa Jalla.”
3. KHajinya kering dari amalan baik seperti zikir, salat di Masjidil Haram, salat pada waktunya, dan membantu teman seperjalanan.
Ibnu Rajab berkata: “Maka haji mabrûr adalah yang terkumpul di dalamnya amalan-amalan baik, plus menghindari perbuatan-perbuatan dosa.
Lihat Juga :