Gus Zainul Arifin, Kiai Muda yang Hadirkan Dakwah Modern Tanpa Tinggalkan Tradisi

Senin, 15 Juni 2026 - 08:35 WIB
Gus Zainul Arifin. Foto: Dok Pribadi
JAKARTA - Di tengah arus digitalisasi yang mengubah cara masyarakat mencari informasi dan belajar agama, sosok Gus Zainul Arifin hadir sebagai representasi ulama muda yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas. Kiai kelahiran Jawa Timur, 19 Juni 1984 ini dikenal berhasil memadukan nilai-nilai pesantren salaf dengan pendekatan dakwah yang lebih segar, inklusif, dan dekat dengan generasi muda melalui pemanfaatan media sosial serta keterbukaan terhadap perkembangan budaya populer.

Kiai muda asal Madura ini berhasil memadukan tradisi pesantren salaf, dakwah digital, dan keterbukaan budaya dalam satu harmoni yang menarik perhatian masyarakat luas.

Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Ghazali Sabrah, Bangkalan, Madura, Gus Zain dikenal sebagai ulama muda yang tidak hanya fokus menjaga warisan keilmuan Islam, tetapi juga aktif menjawab tantangan zaman melalui berbagai inovasi dakwah.

Baca Juga : Perluas Dakwah Kultural, Kemenag Luncurkan Platform FilmIslami

Namanya semakin dikenal publik berkat aktivitasnya di media sosial. Melalui akun Instagram @guszain.story, TikTok @guszain.story yang telah memiliki lebih dari 20,4 ribu pengikut, serta akun Facebook Zainul Arifin, ia rutin membagikan konten dakwah Islami dan aktivitas keseharian yang dekat dengan masyarakat.

Saat Panggung Pesantren Berpadu dengan Irama Reggae

Salah satu langkah yang membuat Gus Zain menjadi perbincangan publik terjadi saat peringatan Haflah dan Milad ke-102 Pondok Pesantren Al-Ghazali Sabrah.

Jika umumnya acara pesantren identik dengan penampilan hadrah atau hiburan religi tradisional, Gus Zain mengambil langkah yang tidak biasa. Ia menghadirkan grup musik reggae Rubbuz & Hamed Uye sebagai bagian dari rangkaian acara.

Keputusan tersebut menjadi kejutan tersendiri bagi banyak pihak. Namun alih-alih menuai kontroversi, langkah itu justru mendapat apresiasi karena dinilai menunjukkan wajah Islam yang ramah, terbuka, dan mampu berdialog dengan perkembangan budaya modern.

“Pesantren tidak boleh menjadi menara gading yang jauh dari masyarakat. Pesantren harus mampu merangkul semua kalangan tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai keislamannya,” ujar Gus Zain.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!