Mengapa Hari Asyura Sakral bagi Syiah? Jejak Berdarah Tragedi Karbala

Kamis, 18 Juni 2026 - 15:53 WIB
Isi surat Muslim kepada Husein adalah “Pergilah, pulanglah kepada keluargamu! Jangan engkau tertipu oleh penduduk Kufah. Sesungguhnya penduduk Kufah telah berkhianat kepadamu dan juga kepadaku. Orang-orang pendusta itu tidak memiliki akal”.

Setelah itu, Muslim bin Aqil kemudian dibunuh, tepatnya tanggal 9 Zulhijjah, hari Arafah.

Sementara itu, Husain berangkat dari Makkah menuju Kufah di tanggal 8 Dzulhijah. Banyak sahabat Nabi SAW menasihatinya agar tidak pergi ke Kufah. Ibnu Umar ra menemui Husain ra meraya menasihati: “Aku hendak menyampaikan kepadamu beberapa kalimat. Sesungguhnya Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian memberikan dua pilihan kepada beliau antara dunia dan akhirat, maka beliau memilih akhirat dan tidak mengiginkan dunia. Engkau adalah darah dagingnya, demi Allah tidaklah Allah memberikan atau menghindarkan kalian (ahlul bait) dari suatu hal, kecuali hal itu adalah yang terbaik untuk kalian”.

Husain tetap enggan untuk membatalkan keberangkatannya. Ibnu Umar pun memeluknya seraya menangis, lalu mengatakan, “Aku titipkan engkau kepada Allah agar tidak dibunuh”.

Sahabat yang lain, Abu Said alKhudri ra memperingatkan Husain ra., “Sesungguhnya aku adalah seorang penasihat untukmu, dan aku sangat menyayangimu. Telah sampai berita bahwa orang-orang yang mengaku sebagai Syiahmu (pembelamu) di Kufah menulis surat kepadamu. Mereka mengajakmu untuk bergabung bersama mereka. Mohon jangan engkau pergi bergabung bersama mereka karena aku mendengar ayahmu –Ali bin Abi Thalib- mengatakan tentang penduduk Kufah, ‘Demi Allah, aku bosan dan benci kepada mereka, demikian juga mereka bosan dan benci kepadaku. Mereka tidak memiliki sikap memenuhi janji sedikit pun.”

Singkat cerita Husein menginjakkan kakinya di daerah Karbala bersama 72 orang yang mendampinginya. Kemudian tibalah 4000 pasukan yang dikirim oleh Ubaidullah bin Ziyad di bawah pimpinan Umar bin Saad.

Husein bertanya, “Apa nama tempat ini?” Orang-orang menjawab, “Ini adalah daerah Karbala.” Kemudian Husein menanggapi, “Karbala: Karbun wa Balaa’.” Karbun artinya bencana dan Balaa’ artinya musibah.

Melihat pasukan dalam jumlah yang sangat besar, Husain ra menyadari tidak ada peluang baginya. Lalu dia menawarkan 3 hal, “Aku ada 3 pilihan, (1) kalian mengawal (menjamin keamananku) pulang, atau (2) kalian biarkan aku pergi menghadap Yazid di Syam untuk membaiatnya, atau (3) aku pergi ke daerah perbatasan dan ikut bergabung bersama kaum muslimin dalam jihad melawan daerah kafir.

Ubaidullah bin Ziyad menyetujui tawaran Husain. Namun tiba-tiba sosok jahat Syamr bin Dzil Jausyan memprotes. “Jangan. Jangan kabulkan tawarannya, sampai dia menjadi tawananmu, wahai Ubaid.”

Syamr sendiri masih termasuk kerabat dekat Ubaidillah. Mendengar usulan ini, Ubaidillah merasa mendapat dukungan. Dia pun menyetujuinya. Namun Husain menolak untuk menjadi tawanan Ubaidullah. Maka mulailah terjadi ketegangan antara pasukan Husain yang berjumlah 72 orang dengan pasukan Irak 4000 orang. Husain pun berceramah mengingatkan status dirinya dan kedekatannya di sisi Rasulullah SAW. Hingga sekitar 30 orang pasukan Irak dipimpin oleh al-Hurru bin Yazid at-Tamimi membelot dan bergabung dengan Husein.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!