Siap-siap Menyambut Bulan Safar : Sejarah, Kedudukan, Mitos hingga Amalan Sunahnya
Selasa, 14 Juli 2026 - 05:15 WIB
Karena tidak termasuk bulan haram, maka tidak terdapat hukum khusus yang hanya berlaku pada Bulan Safar, seperti larangan peperangan yang dikenal pada masa awal Islam atau pelipatgandaan pahala dan dosa sebagaimana kemuliaan bulan-bulan suci.
Meski demikian, bukan berarti Safar adalah bulan yang buruk. Dalam Islam, seluruh waktu merupakan ciptaan Allah SWT dan semuanya baik. Tidak ada satu pun bulan yang secara hakiki membawa keberuntungan maupun kesialan.
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan bahwa semua waktu adalah milik Allah SWT dan tidak memiliki kekuatan untuk mendatangkan manfaat ataupun mudarat dengan sendirinya. Yang menentukan segala sesuatu hanyalah Allah SWT.
Keyakinan tersebut sebenarnya berasal dari tradisi masyarakat Arab pada masa Jahiliah. Mereka meyakini Safar sebagai bulan yang dipenuhi musibah karena pada bulan itu banyak laki-laki berangkat berperang. Tidak sedikit yang terluka atau gugur sehingga mereka menganggap Safar identik dengan bencana.
Mereka bahkan menyebutnya sebagai Shafarul Khair, yakni "bulan yang kosong dari kebaikan".
Islam datang untuk menghapus seluruh bentuk takhayul tersebut.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda:
"Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada kesialan karena burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR Bukhari No. 5437 dan Muslim No. 2220)
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ juga bersabda:
"Tidak ada wabah, tidak ada kesialan karena burung, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR Bukhari)
Hadis-hadis tersebut menjadi dalil yang sangat tegas bahwa anggapan Safar sebagai bulan pembawa sial tidak memiliki dasar dalam syariat Islam. Seorang muslim dilarang meyakini adanya waktu tertentu yang secara otomatis membawa nasib buruk.
Meski demikian, bukan berarti Safar adalah bulan yang buruk. Dalam Islam, seluruh waktu merupakan ciptaan Allah SWT dan semuanya baik. Tidak ada satu pun bulan yang secara hakiki membawa keberuntungan maupun kesialan.
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan bahwa semua waktu adalah milik Allah SWT dan tidak memiliki kekuatan untuk mendatangkan manfaat ataupun mudarat dengan sendirinya. Yang menentukan segala sesuatu hanyalah Allah SWT.
Mitos Safar sebagai Bulan Sial
Salah satu kesalahpahaman yang masih bertahan hingga kini adalah anggapan bahwa Bulan Safar merupakan bulan penuh kesialan.Keyakinan tersebut sebenarnya berasal dari tradisi masyarakat Arab pada masa Jahiliah. Mereka meyakini Safar sebagai bulan yang dipenuhi musibah karena pada bulan itu banyak laki-laki berangkat berperang. Tidak sedikit yang terluka atau gugur sehingga mereka menganggap Safar identik dengan bencana.
Mereka bahkan menyebutnya sebagai Shafarul Khair, yakni "bulan yang kosong dari kebaikan".
Islam datang untuk menghapus seluruh bentuk takhayul tersebut.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda:
"Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada kesialan karena burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR Bukhari No. 5437 dan Muslim No. 2220)
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ juga bersabda:
"Tidak ada wabah, tidak ada kesialan karena burung, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR Bukhari)
Hadis-hadis tersebut menjadi dalil yang sangat tegas bahwa anggapan Safar sebagai bulan pembawa sial tidak memiliki dasar dalam syariat Islam. Seorang muslim dilarang meyakini adanya waktu tertentu yang secara otomatis membawa nasib buruk.
Lihat Juga :