Sejarah Perang Al-Abwa: Perang Pertama dalam Islam yang Terjadi pada Bulan Safar
Rabu, 15 Juli 2026 - 09:27 WIB
Salah satu peristiwa penting yang terjadi di Bulan Safar adalah meletusnya Perang Al-Abwa, yakni perang pertama dalam Islam. Foto ilustrasi/ist
Salah satu peristiwa penting yang terjadi di Bulan Safar adalah meletusnya Perang Al-Abwa, yakni perang pertama dalam Islam .
Waddan atau Abwa merupakan salah satu daerah yang terletak di antara kota Makkah dan Madinah. Oleh karenanya, perang ini diberi nama Perang Abwa atau Perang Wuddah.
Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi dalam "Fiqhus Sirah Nabawiyah ma’a Mujazin li Tarikhil Khilafahir Rasyidah" menjelaskan, bahwa hadis-hadis shahih dan atsar menyebutkan perintah perang turun setelah hijrahnya Rasulullah SAW. Di antaranya adalah hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, kemudian dipublish oleh Syekh al-Buthi:
Artinya, “Saat ini, kita yang akan memerangi mereka, bukan mereka yang akan memerangi kita.” (HR Bukhari )
Menurut al-Buthi, hadis ini akhirnya direalisasikan pada bulan Safar tahun kedua hijriah bertepatan dengan bulan Agustus, tahun 623 M, tepatnya 12 bulan setelah Rasulullah menetap di Madinah setelah hijrah.
Baca juga: Mengapa Safar Dijuluki Bulan Perang? Simak 9 Peristiwa Bersejarah Islam Ini
Hadis ini terkait dengan firman Allah sebagai ayat pertama yang mengizinkan umat Islam untuk berperang. Allah berfirman:
Artinya, “Diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Mahakuasa menolong mereka itu.” ( QS Al-Hajj : 39).
Syaikh Wahbah Zuhaili dalam tafsir "At-Tafsirul Munir" menjelaskan bahwa ayat ini merupakan ayat pertama yang memberi izin kepada umat Islam untuk melakukan perang. Tepatnya pada tahun kedua setelah hijrahnya Rasulullah ke Madinah.
Latar belakang turunnya ayat ini tidak lain disebabkan banyaknya hinaan dan cacian sekaligus ancaman yang kerap diluncurkan oleh orang kafir dan musyrik kepada umat Islam saat itu.
Waddan atau Abwa merupakan salah satu daerah yang terletak di antara kota Makkah dan Madinah. Oleh karenanya, perang ini diberi nama Perang Abwa atau Perang Wuddah.
Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi dalam "Fiqhus Sirah Nabawiyah ma’a Mujazin li Tarikhil Khilafahir Rasyidah" menjelaskan, bahwa hadis-hadis shahih dan atsar menyebutkan perintah perang turun setelah hijrahnya Rasulullah SAW. Di antaranya adalah hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, kemudian dipublish oleh Syekh al-Buthi:
اَلْأَنَ نَغْزُوْهُمْ وَلَايَغْزُوْنَا
Artinya, “Saat ini, kita yang akan memerangi mereka, bukan mereka yang akan memerangi kita.” (HR Bukhari )
Menurut al-Buthi, hadis ini akhirnya direalisasikan pada bulan Safar tahun kedua hijriah bertepatan dengan bulan Agustus, tahun 623 M, tepatnya 12 bulan setelah Rasulullah menetap di Madinah setelah hijrah.
Baca juga: Mengapa Safar Dijuluki Bulan Perang? Simak 9 Peristiwa Bersejarah Islam Ini
Hadis ini terkait dengan firman Allah sebagai ayat pertama yang mengizinkan umat Islam untuk berperang. Allah berfirman:
أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ
Artinya, “Diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Mahakuasa menolong mereka itu.” ( QS Al-Hajj : 39).
Syaikh Wahbah Zuhaili dalam tafsir "At-Tafsirul Munir" menjelaskan bahwa ayat ini merupakan ayat pertama yang memberi izin kepada umat Islam untuk melakukan perang. Tepatnya pada tahun kedua setelah hijrahnya Rasulullah ke Madinah.
Latar belakang turunnya ayat ini tidak lain disebabkan banyaknya hinaan dan cacian sekaligus ancaman yang kerap diluncurkan oleh orang kafir dan musyrik kepada umat Islam saat itu.
Strategi Rasulullah SAW
Setelah ada izin dari Allah SWT untuk memberikan perlawanan kepada kaum kafir Quraish yang kian brutal menekan umat Islam, tibalah waktunya umat Islam unjuk badan menghadapi mereka.Lihat Juga :