Khadijah binti Khuwailid : Perempuan Bersih nan Suci, Cinta Sejati Rasulullah
Kamis, 29 Oktober 2020 - 07:10 WIB
Khadijah mendapat pemeliharaan dan bimbingan langsung dari Allah di sepanjang hidupnya. Allahlah yang mengarahkan Khadijah untuk menjadi teman hidup Rasulullah SAW. Allah pula yang memunculkan tekad di hatinya untuk senantiasa membela, membangkitkan tekad, dan mengobarkan semangat suaminya. Allah yang menganugerahkan kepadanya akal yang cerdas dan akhlak yang mulia.
Bimbingan Allah pulalah yang menjadikannya menolak setiap lamaran dari para bangsawan Quraisy sebelum akhirnya ia menikah dengan Rasulullah SAW. Bagi Khadijah, harta dan kekayaan materi merupakan sesuatu yang tidak permanen. Setelah menikah dengan Muhammad SAW, Khadijah menyerahkan semua urusan perdaganan serta pengelolaan finasial kepada suaminya yang terkenal cerdas dan jujur. Ia juga mendukung keputusan suaminya untuk bersedekah kepada fakir miskin dan membantu orang-orang yang tertimpa kemalangan. Khadijah memang sejak awal memiliki karakter yang mulia. Keputusan itu ternyata tidak salah; harta di tangan Muhammad selalu bertambah sebanyak jumlah yang ia sedekahkan. Tentu saja karakter dan keputusan Khadijah itu merupakan bagian dari rencana Allah yang Maha Agung.
(Baca juga : Sosok-sosok Perempuan Mulia, 'Ibunda' Rasulullah )
Berkat segala kebaikan yang dilakukannya, Allah pun menghormati Khadijah. Suatu hari, malaikat Jibril mendatangi Rasulullah SAW dan berkata ,”Wahai Muhammad, sebentar lagi, Khadijah akan membawakan makanan dan minuman untukmu. Kalau ia datang, sampaikan kepadanya salam dari Allah dan dariku”.
Cara Khadijah menjawab salam itu pun menunjukkan keluasan pandangan dan kedalaman perasaaannya. Jawabannya itu mengandung pengagungan terhadap Allah, doa agar Allah menganugerahkan kepadanya kedamaian dan keselamatan serta salam untuk Jibril yang telah menyampaikan kepadanya salam dari Allah. Khadijah berkata ,” Allahlah Pemelihara kedamaian dan Sumber segala damai. Salamku untuk Jibril.”
(Baca juga : Satu-satunya Perempuan yang Pernah Memarahi Baginda Rasulullah )
Allah membimbing Khadijah untuk menyebarkan ketenangan dan cinta kasih di tengah-tengah rumah tangganya. Berbahagialah seluruh anggota keluarganya. Beliau selalu berusaha agar perasaan Rasulullah SAW tidak pernah terganggu di rumahnya sendiri. Tidak pernah kondisi rumah tangga menjadi penghalang dakwah Rasulullah. Sosoknya merupakan istri dan sahabat ideal yang selalu setia mendampingi serta menghibur Rasulullah dalam setiap kesulitan. Karena itulah Allah berkenan memberinya kabar gembira tentang sebuah rumah terbuat dari permata yang dibangun untuknya di surga.
Rasulullah SAW bersabda, “ Aku diperintahkan untuk memberi kabar gembira kepada Khadijah bahwa akan dibangun untuknya di surga sebuah rumah dari permata; tak ada hiruk pikuk dan rasa lelah di sana.”
(Baca juga : Rouhani: Menghina Nabi Muhammad SAW Berarti Menghina Semua Muslim )
Allah juga berkenan untuk memberikan sebuah keistimewaan kepada Khadijah. Hanya darinyalah anak keturunan Rasulullah berasal. Keturunan ini terus berkembang dari generasi ke generasi, menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam hingga pada masa kita ini. Merekalah anak cucu Muhammad ibnu Abdillah dan Khadijah binti Khuwailid.
Perlu kita ingat bahwa Rasulullah terlahir sebagai anak yatim. Kemudian beliau ditinggal wafat ibunya pada usia enam tahun. Sejak kecil beliau telah kehilangan kasih saying ayah dan ibu. Kakeknya, Abdul Muththalib, dan pamannya, Abu Thalib, menggantikan peran ayah bagi Muhammad muda. Namun, sepanjang hidupnya, Muhammad selalu merindukan sosok sang ibu. Barangkali Fatimah binti Asad, istri Abu Thalib, pernah mengisi peran yang hilang ini. Rasulullah mengakui hal itu sebagaimana pernyataan beliau, “Orang yang paling baik kepadaku setelah Abu Thalib adalah Fatimah binti Asad.”
Bimbingan Allah pulalah yang menjadikannya menolak setiap lamaran dari para bangsawan Quraisy sebelum akhirnya ia menikah dengan Rasulullah SAW. Bagi Khadijah, harta dan kekayaan materi merupakan sesuatu yang tidak permanen. Setelah menikah dengan Muhammad SAW, Khadijah menyerahkan semua urusan perdaganan serta pengelolaan finasial kepada suaminya yang terkenal cerdas dan jujur. Ia juga mendukung keputusan suaminya untuk bersedekah kepada fakir miskin dan membantu orang-orang yang tertimpa kemalangan. Khadijah memang sejak awal memiliki karakter yang mulia. Keputusan itu ternyata tidak salah; harta di tangan Muhammad selalu bertambah sebanyak jumlah yang ia sedekahkan. Tentu saja karakter dan keputusan Khadijah itu merupakan bagian dari rencana Allah yang Maha Agung.
(Baca juga : Sosok-sosok Perempuan Mulia, 'Ibunda' Rasulullah )
Berkat segala kebaikan yang dilakukannya, Allah pun menghormati Khadijah. Suatu hari, malaikat Jibril mendatangi Rasulullah SAW dan berkata ,”Wahai Muhammad, sebentar lagi, Khadijah akan membawakan makanan dan minuman untukmu. Kalau ia datang, sampaikan kepadanya salam dari Allah dan dariku”.
Cara Khadijah menjawab salam itu pun menunjukkan keluasan pandangan dan kedalaman perasaaannya. Jawabannya itu mengandung pengagungan terhadap Allah, doa agar Allah menganugerahkan kepadanya kedamaian dan keselamatan serta salam untuk Jibril yang telah menyampaikan kepadanya salam dari Allah. Khadijah berkata ,” Allahlah Pemelihara kedamaian dan Sumber segala damai. Salamku untuk Jibril.”
(Baca juga : Satu-satunya Perempuan yang Pernah Memarahi Baginda Rasulullah )
Allah membimbing Khadijah untuk menyebarkan ketenangan dan cinta kasih di tengah-tengah rumah tangganya. Berbahagialah seluruh anggota keluarganya. Beliau selalu berusaha agar perasaan Rasulullah SAW tidak pernah terganggu di rumahnya sendiri. Tidak pernah kondisi rumah tangga menjadi penghalang dakwah Rasulullah. Sosoknya merupakan istri dan sahabat ideal yang selalu setia mendampingi serta menghibur Rasulullah dalam setiap kesulitan. Karena itulah Allah berkenan memberinya kabar gembira tentang sebuah rumah terbuat dari permata yang dibangun untuknya di surga.
Rasulullah SAW bersabda, “ Aku diperintahkan untuk memberi kabar gembira kepada Khadijah bahwa akan dibangun untuknya di surga sebuah rumah dari permata; tak ada hiruk pikuk dan rasa lelah di sana.”
(Baca juga : Rouhani: Menghina Nabi Muhammad SAW Berarti Menghina Semua Muslim )
Allah juga berkenan untuk memberikan sebuah keistimewaan kepada Khadijah. Hanya darinyalah anak keturunan Rasulullah berasal. Keturunan ini terus berkembang dari generasi ke generasi, menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam hingga pada masa kita ini. Merekalah anak cucu Muhammad ibnu Abdillah dan Khadijah binti Khuwailid.
Perlu kita ingat bahwa Rasulullah terlahir sebagai anak yatim. Kemudian beliau ditinggal wafat ibunya pada usia enam tahun. Sejak kecil beliau telah kehilangan kasih saying ayah dan ibu. Kakeknya, Abdul Muththalib, dan pamannya, Abu Thalib, menggantikan peran ayah bagi Muhammad muda. Namun, sepanjang hidupnya, Muhammad selalu merindukan sosok sang ibu. Barangkali Fatimah binti Asad, istri Abu Thalib, pernah mengisi peran yang hilang ini. Rasulullah mengakui hal itu sebagaimana pernyataan beliau, “Orang yang paling baik kepadaku setelah Abu Thalib adalah Fatimah binti Asad.”
Lihat Juga :