Pentingnya Tafakuri Diri
Minggu, 08 November 2020 - 07:24 WIB
(Baca juga : 10 Perempuan Pejuang di Palagan Perang Dunia )
Maka kemampuan bercermin sembari mengevaluasi diri adalah kemampuan yang penting dan wajib dimiliki seorang muslim. Kebiasaan bermuhasabah adalah salah satu sebab kesucian hati. Mengingat dosa adalah kebiasaan dari seorang ahli tobat.
Ingatlah dosa yang sudah menghitamkan hati, sehingga sulit cahaya nurani muncul. Ingatlah aib-aib yang Allah tutup. Jika aib dan dosa itu dibukakan oleh Allah, ditampakkan oleh-Nya, masihkah ada orang yang sudi menjadi karib kita. Sungguh betapa Mahabaik Allah SWT.
(Baca juga : Cara Bebas Utang di Tengah Resesi )
Jika saja keburukan kita itu ditampilkan berupa belatung yang menempeli badan, sudah habis tubuh kita ditutupi dan dimakannya. Maka seorang ahli zikir tidak akan sedetik pun membiarkan dirinya terjebak dalam ujub dan riya. Ia menyadari pujian orang lain hanya sebatas karena Allah membiarkan keburukannya tidak diketahui orang lain. Ada pun cacian orang lain, justru menjadi nasihat yang sangat berharga.
(Baca juga : Masyumi Diharapkan Jadi Teman PKS Perjuangkan Umat dan Kritisi Pemerintah )
Kesadaran ini akan membuat seorang manusia terbiasa merasa diawasi oleh Allah Ta’ala. Bukan hanya saat kesempatan ibadah, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Seorang yang beriman akan melihat manusia bukan hanya sekadar manusia, tapi atribut yang paling penting yakni sebagai makhluk Allah. Sehingga interaksinya senantiasa dipertimbangkan, apakah saat menghinakan manusia, Penciptanya akan marah atau tidak. Apakah saat manusia dicaci, Penciptanya akan suka atau tidak. Begitulah kehati-hatian seorang yang beriman.
(Baca juga : Tampilan Livery KRL Commuter Line Diubah )
Orang yang bertakwa pun selalu memperhatikan setiap perkataan dan tingkah lakunya. Jangan sampai menyakiti manusia, alam, dan makhluk lainnya. Sebab bukan hanya makhluk yang akan tersakiti, tapi Allah sebagai Sang Pencipta juga kemungkinan ikut tersinggung. Hal itu bisa dilatih dengan senantiasa menyadari dosa dan keburukan saat bercermin.
Wallahu A'lam
Maka kemampuan bercermin sembari mengevaluasi diri adalah kemampuan yang penting dan wajib dimiliki seorang muslim. Kebiasaan bermuhasabah adalah salah satu sebab kesucian hati. Mengingat dosa adalah kebiasaan dari seorang ahli tobat.
Ingatlah dosa yang sudah menghitamkan hati, sehingga sulit cahaya nurani muncul. Ingatlah aib-aib yang Allah tutup. Jika aib dan dosa itu dibukakan oleh Allah, ditampakkan oleh-Nya, masihkah ada orang yang sudi menjadi karib kita. Sungguh betapa Mahabaik Allah SWT.
(Baca juga : Cara Bebas Utang di Tengah Resesi )
Jika saja keburukan kita itu ditampilkan berupa belatung yang menempeli badan, sudah habis tubuh kita ditutupi dan dimakannya. Maka seorang ahli zikir tidak akan sedetik pun membiarkan dirinya terjebak dalam ujub dan riya. Ia menyadari pujian orang lain hanya sebatas karena Allah membiarkan keburukannya tidak diketahui orang lain. Ada pun cacian orang lain, justru menjadi nasihat yang sangat berharga.
(Baca juga : Masyumi Diharapkan Jadi Teman PKS Perjuangkan Umat dan Kritisi Pemerintah )
Kesadaran ini akan membuat seorang manusia terbiasa merasa diawasi oleh Allah Ta’ala. Bukan hanya saat kesempatan ibadah, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Seorang yang beriman akan melihat manusia bukan hanya sekadar manusia, tapi atribut yang paling penting yakni sebagai makhluk Allah. Sehingga interaksinya senantiasa dipertimbangkan, apakah saat menghinakan manusia, Penciptanya akan marah atau tidak. Apakah saat manusia dicaci, Penciptanya akan suka atau tidak. Begitulah kehati-hatian seorang yang beriman.
(Baca juga : Tampilan Livery KRL Commuter Line Diubah )
Orang yang bertakwa pun selalu memperhatikan setiap perkataan dan tingkah lakunya. Jangan sampai menyakiti manusia, alam, dan makhluk lainnya. Sebab bukan hanya makhluk yang akan tersakiti, tapi Allah sebagai Sang Pencipta juga kemungkinan ikut tersinggung. Hal itu bisa dilatih dengan senantiasa menyadari dosa dan keburukan saat bercermin.
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :