Argumen yang Membolehkan dan Melarang Umat Islam Mengucapkan Selamat Natal (1)
Selasa, 15 Desember 2020 - 05:00 WIB
Isa menunjuk dirinya sebagai "anak manusia," sedangkan Muhammad SAW diperintahkan oleh Allah untuk berkata: "Aku manusia seperti kamu."
Keduanya datang membebaskan manusia dari kemiskinan rohani, kebodohan, dan belenggu penindasan. Ketika orang-orang mengira bahwa anak Jairus yang sakit telah mati, Al-Masih yang menyembuhkannya meluruskan kekeliruan mereka dengan berkata, "Dia tidak mati, tetapi tidur."
Dan ketika terjadi gerhana pada hari wafatnya putra Muhammad, orang berkata: "Matahari mengalami gerhana karena kematiannya." Muhammad SAW lalu menegur, "Matahari tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seorang." Keduanya datang membebaskan maanusia baik yang kecil, lemah dan tertindas -dhu'afa' dan al-mustadh'affin dalam istilah Al-Quran.
Quraish mengatakan, bukankah ini satu dari sekian titik temu antara Muhammad dan Al-Masih? Bukankah ini sebagian dari kandungan Kalimat Sawa' (Kata Sepakat) yang ditawarkan Al-Quran kepada penganut Kristen (dan Yahudi (QS 3:64)? Kalau demikian, apa salahnya mengucapkan selamat natal, selama akidah masih dapat dipelihara dan selama ucapan itu sejalan dengan apa yang dimaksud oleh Al-Quran sendiri yang telah mengabadikan selamat natal itu?
Itulah antara lain alasan yang membenarkan seorang Muslim mengucapkan selamat atau menghadiri upacara Natal yang bukan ritual. (Bersambung)
(mhy)
Lihat Juga :