Macam-macam Puasa Sunnah dan Keutamaannya

Selasa, 29 Desember 2020 - 16:18 WIB
Di antara puasa sunnah adalah puasa enam hari di Bulan Syawal. Dianjurkan mengerjakannya langsung sesudah bulan Ramadhan usai. Hal ini sebagai perpisahan dan penambal kekurangan yang terjadi di dalam bulan Ramadhan.

Puasa 6 hari Syawal ini memiliki pahala yang begitu besar di samping penambal kekurangan ibadah fardhu kita. Hal ini sebagaimana sabda Nabi:

من صام رمضان ثم أتبعه ستّا من شوال فكأنما صام الدهر كله

"Barangsiapa yang berpuasa Bulan Ramadhan, kemudian diikuti enam hari lagi di Bulan Syawal, maka seolah-olah ia telah herpuasa sepanjang zaman." (Baca Juga: Puasa Syawal, Pahalanya Seperti Puasa Setahun Penuh)

3. Puasa Arafah (9 Dzulhijjah)

Di antara puasa-puasa yang pahalanya cukup besar adalah Puasa pada Hari 'Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwasanya puasa ini menghapuskan dosa selama dua tahun.

Dalam hal ini, para ulama berkata: "Arafah merupakan sebaik-baik hari untuk berpuasa dalam setahun setelah Bulan Ramadhan. Akan tetapi bagi yang menjalankan haji tidak disunnahkan untuk berpuasa. Tujuannya agar ia kuat menjalankan ibadah di Padang Arafah dan melanjutkan manasiknya."

4. Puasa Asyura (10 Muharram)

Adapun puasa Hari Asyura yaitu hari kesepuluh di Bulan Muharram telah disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa puasa tersebut akan menghapuskan dosa setahun. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah bersabda yang artinya: "Seutama-utama puasa setelah Ramadlan ialah puasa di bulan Muharram, dan seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu, ialah shalat malam." (HR Muslim)

5. Puasa Ayyamul Biidh (3 Hari Pertengahan Bulan Hijriyah)

Puasa sunnah yang sangat dianjurkan yaitu puasa tiga hari setiap bulannya. Banyak hadits yang meriwayatkan hal ini. Bahkan dalam keterangan pahalanya disebutkan, puasa ini pahalanya menyandi puasa sepanjang zaman.

Diriwayatkan, bahwa Baginda Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم tidak pernah meninggalkan puasa hari-hari Bidh, baik beliau ketika berada di dalam kota. maupun saat diperjalanan. Hari-hari Bidh adalah tanggal 13, 14 dan 15 di setiap bulan. Akan tetapi, apabila ia berpuasa selain hari-hari ini itu pun tidak mengapa, hanya saja hari-hari itu lebih baik. Sama halnya apabila ia berpuasanya tiga hari secara terpisah

Bagi yang rajin beribadah hendaknya tidak meninggalkan puasa tiga hari ini setiap bulannya Karena Ayyam al-bidh adalah puasa yang sangat ringan tetapi besar pahalanya, cukup bagimu mengenai keutamaannya ia menyamai puasa sepanjang zaman. Bahkan Nabi صلى الله عليه وسلم telah mewasiatkannya kepada sejumlah para sahabat-sahabatnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!