12 Dalil Berdoa dengan Tawassul (Bagian 6/Tamat)
Senin, 11 Januari 2021 - 11:33 WIB
"Hai Abu Abdillah (gelar Imam Malik)! Sesudah ziarah dan hendak berdoa, apakah saya harus menghadap Ka'bah atau berdoa menghadap Rasulullah?" Imam Malik menjawab: "Janganlah engkau palingkan mukamu dari padanya karena beliau adalah wasilah engkau dan wasilah bapak engkau Adam kepada Allah."
Menghadaplah kepada beliau dan minta syafaatlah dengan beliau, maka Allah akan memberi syafaat-Nya kepadamu. Allah berfirman: "Kalau manusia ini menganiaya dirinya (dengan berbuat dosa) datang menghadapmu (Hai Muhammad), maka mereka minta ampun kepada Allah (di hadapanmu) dan Rasul meminta ampunkan pula, niscaya Allah Penerima taubat dan Penyayang". (Lihat Syawahidul Haq halaman 156)
Kisah ini diterangkan oleh Qadhi Ijadh dalam Kitab Syifa' dan oleh Imam Qasthalan dalam Kitab Muwahibuladuniyah, oleh Imam Subki dalam Kitab "Syifaus Siqam fi Ziyarati Khairil Anaam" oleh Sayid Samhudi dalam kitab Khulasatul Wafa' dan oleh Imam Ibnu Hajar dalam Kitab Tuhfatuz Zuwar.
Berkata Ibnu Hajar, bahwa cerita Imam Malik dan Khalifah Manshur itu adalah cerita yang sahih berdasarkan sanad-sanad yang baik. Kisah ini mendapat perhatian sungguh dari ulama-ulama ahli hukum syariat karena yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah wasilah Khalifah dan wasilah Adam, adalah Imam Malik seorang ulama Islam yang terkenal, pengarang Kitab Al-Muwatha'.
Apakah kisah ini dapat dijadikan dalil, tetapi setidaknya dapat diambil kesimpulan bahwa kisah ini memperkuat hadis-hadis yang disebutkan sebelumnya. Apalahi diketahui bahwa Imam Malik adalah orang yang mengamalkan doa-doa dengan tawassul itu.
Kalau kita buka kitab-kitab hadis seluruhnya niscaya kita akan mendapat banyak dalil yang membuktikan bahwa amal tawassul itu adalah amal yang dikerjakan para Nabi, sahabat Nabi, Tabi'in, Imam-imam yang empat dan ulama-ulama dari dulu sampai sekarang.
[Baca Juga: 12 Dalil Berdoa dengan Tawassul (Bagian 5)]
Sumber:
KH Siradjuddin Abbas, 40 Masalah Agama Jilid 1 Cetakan ke-33, Penerbit Pustaka Tarbiyah Jakarta 2003
Wallahu A'lam
Menghadaplah kepada beliau dan minta syafaatlah dengan beliau, maka Allah akan memberi syafaat-Nya kepadamu. Allah berfirman: "Kalau manusia ini menganiaya dirinya (dengan berbuat dosa) datang menghadapmu (Hai Muhammad), maka mereka minta ampun kepada Allah (di hadapanmu) dan Rasul meminta ampunkan pula, niscaya Allah Penerima taubat dan Penyayang". (Lihat Syawahidul Haq halaman 156)
Kisah ini diterangkan oleh Qadhi Ijadh dalam Kitab Syifa' dan oleh Imam Qasthalan dalam Kitab Muwahibuladuniyah, oleh Imam Subki dalam Kitab "Syifaus Siqam fi Ziyarati Khairil Anaam" oleh Sayid Samhudi dalam kitab Khulasatul Wafa' dan oleh Imam Ibnu Hajar dalam Kitab Tuhfatuz Zuwar.
Berkata Ibnu Hajar, bahwa cerita Imam Malik dan Khalifah Manshur itu adalah cerita yang sahih berdasarkan sanad-sanad yang baik. Kisah ini mendapat perhatian sungguh dari ulama-ulama ahli hukum syariat karena yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah wasilah Khalifah dan wasilah Adam, adalah Imam Malik seorang ulama Islam yang terkenal, pengarang Kitab Al-Muwatha'.
Apakah kisah ini dapat dijadikan dalil, tetapi setidaknya dapat diambil kesimpulan bahwa kisah ini memperkuat hadis-hadis yang disebutkan sebelumnya. Apalahi diketahui bahwa Imam Malik adalah orang yang mengamalkan doa-doa dengan tawassul itu.
Kalau kita buka kitab-kitab hadis seluruhnya niscaya kita akan mendapat banyak dalil yang membuktikan bahwa amal tawassul itu adalah amal yang dikerjakan para Nabi, sahabat Nabi, Tabi'in, Imam-imam yang empat dan ulama-ulama dari dulu sampai sekarang.
[Baca Juga: 12 Dalil Berdoa dengan Tawassul (Bagian 5)]
Sumber:
KH Siradjuddin Abbas, 40 Masalah Agama Jilid 1 Cetakan ke-33, Penerbit Pustaka Tarbiyah Jakarta 2003
Wallahu A'lam
(rhs)
Lihat Juga :