Haul Rumi, Kyai Budi: Tak Boleh Batal, Meski Beda Ruang dan Waktu

Jum'at, 17 April 2020 - 12:27 WIB
Menurut Abah, haul nasional Rumi ke -746 tak boleh batal, meskipun beda ruang dan waktu, namun jiwa-jiwa tetap menyatu di langit cakrawala nusantara menjadi doa. “Hanya melalui acara seperti ini kita bisa berdamai dengan situasi dan kondisi,” ujarnya.

Lalu siapa tokoh sufi yang melegenda ini?

Maulana Jalaluddin Rumi adalah seorang pujangga atau penyair muslim dari Persia abad ke -13. Ia lebih dikenal sebagai seorang sufi mistik. Rumi telah diakui sebagai seorang ahli spiritual terbesar dan penyair intelek yang hebat sepanjang sejarah.

Hasil karya besarnya berupa syair telah dikenal sangat baik oleh seluruh dunia, khususnya di kalangan pujangga Persia, Afghanistan, Iran dan Tajikistan. Beberapa syair Rumi juga sangat populer di seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Latar belakang keluarganya memang sangat dekat dengan ilmu agama. Karenanya, Rumi juga mengisi hari-harinya semenjak kecil dengan berbagai ilmu agama dan ilmu kebatinan.

Di bawah bimbingan dari Sayyed Termazi, Rumi belajar tentang ilmu Sufi. Ia mempelajari mengenai ilmu spiritual dan rahasia tentang jiwa dan dunia ini. Setelah ayahnya, Bahaduddin, meninggal di tahun 1231 Masehi, Rumi pun melanjutkan posisinya sebagai seorang guru agama terkemuka di sana.

Rumi juga menjadi seorang Imam dan penceramah di Konya untuk meneruskan tugas sang ayah. Ketika itu, usia Rumi masih 24 tahun. Meski masih muda, ia berhasil membuktikan bahwa dirinya adalah seorang yang memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam terutama mengenai ilmu agama.

Di tahun 1244 Masehi, Rumi sudah menjadi seorang guru dan seorang ahli agama. Pada tahun tersebutlah, ia berjumpa dengan seorang musafir atau pengembara yang bernama Shamsuddin of Tabriz.

Pertemuannya dengan Shamsuddin atau yang akrab disapa Shams inilah yang kemudian menjadi momentum atau titik perubahan dari hidup Rumi. Mereka pun menjadi sahabat yang sangat dekat satu sama lain.

Sayangnya, ketika Shams berkunjung ke Damascus, ia terbunuh. Desas desus mengatakan bahwa Shams dibunuh oleh salah seorang murid Rumi yang tidak senang melihat kedekatan Sham dengan gurunya tersebut.

Tentu saja Rumi sangat sedih dan terpukul atas kematian Shams. Lalu, ia pun mengungkapkan rasa kasih sayangnya terhadap Shams dan penyesalan atas kematiannya dalam bentuk musik, tarian, dan syair.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!