Puasa dan Wabah Covid 19, Instrumen Kembali pada Kebenaran
Jum'at, 17 April 2020 - 20:35 WIB
Prof Dr Muhammad Said MA, Guru Besar Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Foto/Ist
Prof Dr Muhammad Said MA
Guru Besar Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
"Apabila dikatakan kepada mereka (manusia), jangan kamu berbuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab 'sesuangguhnya kami termasuk golongan orang yang memperbaiki". (QS Al-Baqarah: ayat 11).
Kita turut bergembira menyambut puasa Ramadhan 2020 (1441 Hijriyah) dengan mengucap "Marhaban ya Ramadhan" atas dasar iman dan penuh harap karena Allah. Kegembiraan mukmin dengan masuknya Ramadhan memberi nilai tambah luar biasa sebagaiman sabda Nabi: "Barangsiapa bergembira dengan masuknya Ramadhan, Allah mengharamkan jasadnya dari jilatan api neraka".
Ramadhan tahun 2020 ini diliputi susana duka akibat Pandemic Covid-19 yang menyebar begitu cepat, menyedot perhatian, emosi, perasaan, dan kepanikan global. Banyak korban berguguran, juta manusia kehilangan pekerjaan, kota-kota metropolitan dunia sepi dari penghuni bak kota mati.
Manusia (insan/An-nas) menjadi tema penting karena padanya terdapat sejumlah kelebihan yang tidak ditemukan pada mahluk lain. Al-Qur'an. Dalam Surah Thagabun ayat 2 menegaskan adanya dua karakter, negatif (kafir/ingkar) dan percaya (mu’min) dalam diri manusia yang dapat kita rasakan melalui suara hati (voice of heart). Kata Insan/An-Nas tidak kurang dari 159 ayat dalam Al-Qur'an.
Semuanya merujuk pada makna negatif. Suara keingkaran yang menjadi pangkal terjadinya kerusakan di permukaan bumi. Covid-19 tidak lepas dari ulah keingkaran manusia terhadap kebenaran, kepada Tuhan (QS.100:6), sifat keluh kesah (QS.70:19-20), sifat sombong dan berputus asa (QS.17:83). Bahkan, dalam kekalutan dan kepanikan global ini pun masih ada manusia tega berbuat nista, memanfaatkan kesempatan meraup keuntungan pribadi dan kelompok, dan merugikan banyak orang.
Mereka (manusia) memandang kebatilan sebagai kebenaran dan kebenaran sebagai kebathilan sehingga hati mereka ditutup Allah dari vibrasi ilahiyah, cahaya kebenaran bahkan dijadikan indah dalam pandangan manusia kenikmatan sesaat (hawa-nafsu) (QS. 3:14), berpaling dari kenikmatan kekal QS. 87:17, dan QS. 33:72). Manusia itu benar-benar melampaui batas (Surah Al-A'laq: 6-7).
Berbeda dari karakter negatif, karakter positif (ruh/mukmin) merepresentasikan diri kita yang datang dari sisi Allah, mengikat dirinya (aqidah) di hadapan Tuhan (QS. 7:172). Iapun menyempurnakan kejadian manusia. Bersamaan dengan itu, Allah menganugerahkan nikmat, dzat dan rasa pada kita. Ia menjadi sumber kekuatan (daya), membuat mata melihat, telinga mendengar, mulut berbicara, hidung mencium dan lidah untuk merasa (QS.32:9).
Guru Besar Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
"Apabila dikatakan kepada mereka (manusia), jangan kamu berbuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab 'sesuangguhnya kami termasuk golongan orang yang memperbaiki". (QS Al-Baqarah: ayat 11).
Kita turut bergembira menyambut puasa Ramadhan 2020 (1441 Hijriyah) dengan mengucap "Marhaban ya Ramadhan" atas dasar iman dan penuh harap karena Allah. Kegembiraan mukmin dengan masuknya Ramadhan memberi nilai tambah luar biasa sebagaiman sabda Nabi: "Barangsiapa bergembira dengan masuknya Ramadhan, Allah mengharamkan jasadnya dari jilatan api neraka".
Ramadhan tahun 2020 ini diliputi susana duka akibat Pandemic Covid-19 yang menyebar begitu cepat, menyedot perhatian, emosi, perasaan, dan kepanikan global. Banyak korban berguguran, juta manusia kehilangan pekerjaan, kota-kota metropolitan dunia sepi dari penghuni bak kota mati.
Manusia (insan/An-nas) menjadi tema penting karena padanya terdapat sejumlah kelebihan yang tidak ditemukan pada mahluk lain. Al-Qur'an. Dalam Surah Thagabun ayat 2 menegaskan adanya dua karakter, negatif (kafir/ingkar) dan percaya (mu’min) dalam diri manusia yang dapat kita rasakan melalui suara hati (voice of heart). Kata Insan/An-Nas tidak kurang dari 159 ayat dalam Al-Qur'an.
Semuanya merujuk pada makna negatif. Suara keingkaran yang menjadi pangkal terjadinya kerusakan di permukaan bumi. Covid-19 tidak lepas dari ulah keingkaran manusia terhadap kebenaran, kepada Tuhan (QS.100:6), sifat keluh kesah (QS.70:19-20), sifat sombong dan berputus asa (QS.17:83). Bahkan, dalam kekalutan dan kepanikan global ini pun masih ada manusia tega berbuat nista, memanfaatkan kesempatan meraup keuntungan pribadi dan kelompok, dan merugikan banyak orang.
Mereka (manusia) memandang kebatilan sebagai kebenaran dan kebenaran sebagai kebathilan sehingga hati mereka ditutup Allah dari vibrasi ilahiyah, cahaya kebenaran bahkan dijadikan indah dalam pandangan manusia kenikmatan sesaat (hawa-nafsu) (QS. 3:14), berpaling dari kenikmatan kekal QS. 87:17, dan QS. 33:72). Manusia itu benar-benar melampaui batas (Surah Al-A'laq: 6-7).
Berbeda dari karakter negatif, karakter positif (ruh/mukmin) merepresentasikan diri kita yang datang dari sisi Allah, mengikat dirinya (aqidah) di hadapan Tuhan (QS. 7:172). Iapun menyempurnakan kejadian manusia. Bersamaan dengan itu, Allah menganugerahkan nikmat, dzat dan rasa pada kita. Ia menjadi sumber kekuatan (daya), membuat mata melihat, telinga mendengar, mulut berbicara, hidung mencium dan lidah untuk merasa (QS.32:9).
Lihat Juga :