Puasa dan Wabah Covid 19, Instrumen Kembali pada Kebenaran
Jum'at, 17 April 2020 - 20:35 WIB
Sayangnya, potensi ilahiyat (iman) ini tidak diketahui banyak orang sehingga sedikit yang berterima kasih (QS. 32:9). Iman/mukmin inilah diri sebenarnya diperintah mendirikan salat, puasa dan menunaikan zakat serta amal shaleh lain. Manusia diseru untuk hal itu tidak akan berubah, sama saja, tetap tidak akan beriman (QS. 2:6 dan QS. 12:103). Sifat kufur melekat pada manusia melalui proses penciptaannya, bersifat hawa, nafsu, dunia dan syaten (HNDS) masing-masing berasal dari anasir angin, air, tanah dan api.
Coronavirus ini bisa jadi isyarat Tuhan agar mukmin kembali mendengarkan suara hati (voice of the heart) nurani, merenungkan anugerah dan nikmatNya yang kita pakai sebelas bulan sebelum Ramadhan ini. Kembali berpendirian dengan sifatnya yang siddiq, amanah, tabligh dan fathonah, dan bersegera kepada ampunan Tuhan, syurgaNya yang luasnya seluas langit dan bumi, dan agar ia bertakwa (QS.3:133-135).
Kita menunaikan puasa di tenagh pandemik wabah ini dengan positive feeling, dan keyakinan kepada Tuhan bahwa ini adalah ujian kesabaran, sandaran doa dan sholat (QS.2:45-46) dan senantiasa mengingat Tuhan (zikir) agar mukmin merasakan kedamaian dan ketenangan, tiada merasa sedih dan khawatir. Ia yakin bersabar dan bertakwa atas cobaan dan ujianNya justru dibantu Allah dengan menurunkan tiga ribu Malaikat (QS. 3:124) dan pasti memperoleh kemenangan (QS. 3:125).
Pandemik Covid-19 ini adalah sebuah anugerah dan ujian Tuhan untuk mereka yang konsisten meninggalkan kekejian dan kemungkaran (fahsya’i wal munkar), yaitu sepuluh (10) penyakit hati. Lima di antaranya terletak dalam hati wujudnya ajib (bangga diri berlebihan), riya, takabbur, iri dan dengki (fahsya’i). Sedangkan lima lainnya dalam perilaku berbentuk fitnah, hasut orang lain seperti marak terjadi melalui postingan media sosial bernada kebencian (hate speech) dan dan menyebar berita hoaks yang menyesatkan dan meresahkan masyarakat, tamak/rakus terhadap harta secara berlebihan, mendorongnya perperilaku loba hingga ujungnya adalah kesombongan.
Semoga semangat ibadah Ramadhan di tengah serangan Covid-19 ini mengantarkan kita untuk lebih meningkatkankan derajat kepercayaan kepada pertolongan dan kebesaran Tuhan. Menggantungkan harapan dengan sepenuh harap kepadaNya agar kita diselamatkan dari paparan Covid-19 dan azab pedih.
Wallahu A'lam Bish Showab
Coronavirus ini bisa jadi isyarat Tuhan agar mukmin kembali mendengarkan suara hati (voice of the heart) nurani, merenungkan anugerah dan nikmatNya yang kita pakai sebelas bulan sebelum Ramadhan ini. Kembali berpendirian dengan sifatnya yang siddiq, amanah, tabligh dan fathonah, dan bersegera kepada ampunan Tuhan, syurgaNya yang luasnya seluas langit dan bumi, dan agar ia bertakwa (QS.3:133-135).
Kita menunaikan puasa di tenagh pandemik wabah ini dengan positive feeling, dan keyakinan kepada Tuhan bahwa ini adalah ujian kesabaran, sandaran doa dan sholat (QS.2:45-46) dan senantiasa mengingat Tuhan (zikir) agar mukmin merasakan kedamaian dan ketenangan, tiada merasa sedih dan khawatir. Ia yakin bersabar dan bertakwa atas cobaan dan ujianNya justru dibantu Allah dengan menurunkan tiga ribu Malaikat (QS. 3:124) dan pasti memperoleh kemenangan (QS. 3:125).
Pandemik Covid-19 ini adalah sebuah anugerah dan ujian Tuhan untuk mereka yang konsisten meninggalkan kekejian dan kemungkaran (fahsya’i wal munkar), yaitu sepuluh (10) penyakit hati. Lima di antaranya terletak dalam hati wujudnya ajib (bangga diri berlebihan), riya, takabbur, iri dan dengki (fahsya’i). Sedangkan lima lainnya dalam perilaku berbentuk fitnah, hasut orang lain seperti marak terjadi melalui postingan media sosial bernada kebencian (hate speech) dan dan menyebar berita hoaks yang menyesatkan dan meresahkan masyarakat, tamak/rakus terhadap harta secara berlebihan, mendorongnya perperilaku loba hingga ujungnya adalah kesombongan.
Semoga semangat ibadah Ramadhan di tengah serangan Covid-19 ini mengantarkan kita untuk lebih meningkatkankan derajat kepercayaan kepada pertolongan dan kebesaran Tuhan. Menggantungkan harapan dengan sepenuh harap kepadaNya agar kita diselamatkan dari paparan Covid-19 dan azab pedih.
Wallahu A'lam Bish Showab
(rhs)
Lihat Juga :