Isra Miraj (1): Kisah Perjalanan Agung Nabi Muhammad

Selasa, 09 Maret 2021 - 17:45 WIB
بالغيب من بعد ما قال التحيات

"Muhammad adalah pemimpin seluruh makhluk yang cahayanya memenuhi tujuh lapis langit dan bumi. Allah memperjalankannya di malam hari dari bumi Hijaz hingga seluruh hijab yang tinggi (yang menghijab seluruh makhluq dari Sang Khaliq) mencium kedua sandal agung Baginda yang memijaknya. Allah mendekatkannya kepada-Nya hingga bagaikan dua ujung busur saat berwahyu kepadanya setelah baginda mengucapkan kepada-Nya At Tahiyyat."

Perjalanan di Tahun Duka

Ketika Allah memerintahkan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم untuk menyampaikan risalah terang-terangan, kaumnya memusuhi beliau dan memeranginya secara zalim. Abu Tholib sang paman tercinta adalah orang setia membelanya hingga akhir hayat. Ketika orang-orang kafir mengganggu beliau, Sayyidah Khadijah sang istri tercinta hadir menghiburnya.

Selama 10 tahun keduanya setia membela Rasulullah صلى الله عليه وسلم dengan segenap harta, jiwa dan raga hingga akhir hayat. Tepat setelah 10 tahun dari masa kenabian keduanya dipanggil oleh Allah di saat yang sangat berdekatan. Kesedihan melanda Rasulullah صلى الله عليه وسلم hingga tahun itu dinamakan tahun kesedihan.

Ketika itu orang-orang kafir makin merajalela dalam memusuhi Nabi. Hingga akhirnya beliau pergi ke Kota Thoif untuk meminta dukungan dan pembelaan, namun beliau mendapati penduduk Thoif lebih ganas dan bengis dari penduduk Makkah. Beliau diusir secara tidak terhormat dan dihujani dengan cacian dan batu.

Di perjalanan pulang dari Thoif di suatu kebun beliau menangis dan mengadu kepada Allah 'Azza wa Jalla:

اللهم إليك أشكو ضعف قوتي ﴿﴾ و قلة حيلتي ﴿﴾ و هواني على الناس ﴿﴾ يا أرحم الراحمين أنت رب المستضعفين ﴿﴾ و أنت ربي ﴿﴾ إلى من تكلني؟ ﴿﴾ إلى بعيد يتجهمني؟ ﴿﴾ أم إلى عدو ملكته أمري؟ ﴿﴾ إن لم يكن بك علي غضب فلا أبالي ﴿﴾ و لكن عافيتك هي أوسع لي ﴿﴾ أعوذ بنور وجهك الذي أشرقت له الظلمات ﴿﴾ و صلح عليه أمر الدنيا و الآخرة ﴿﴾ من أن تنزل بي غضبك ﴿﴾ أو تحل علي سخطك ﴿﴾ لك العتبى حتى ترضى ﴿﴾ و لا حول و لا قوة إلا بالله ﴿﴾

"Wahai Allah, hanya kepada-Mu aku mengadu akan lemahnya kekuatanku, dan sedikitnya jalan yang dapat aku tempuh serta kehinaanku di mata manusia. Wahai Tuhan yang kasih sayangnya lebih besar dari para penyayang manapun, Engkau adalah Tuhan kaum yang tertindas dan tertekan, dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapa Engkau hendak menyerahkan diriku? Apakah kepada orang yang jauh yang akan menindasku? Atau kepada musuh Engkau lemparkan diriku? Selama kemurkaan-Mu tidak Engkau tumpahkan kepadaku maka sungguh aku tidak peduli dengan semua derita itu. Namun afiyah dan kelembutan-Mu lebih aku harapkan. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang terbit menghapuskan segala kegelapan, yang dengannya mengalir segala perkara dunia dan akhirat, aku berlindung dengannya dari kemurkaan-Mu yang hendak Engkau tumpahkan kepadaku, dan dari kemarahan-Mu yang akan menghampiriku. Engkau berhak menegur hingga Engkau ridho. Dan tiada kemampuan dan kekuatan melainkan dengan Allah."

Allah mendengar rintihan dan tangisan Nabi صلى الله عليه وسلم. Beberapa waktu sekembali beliau dari Thoif ke Makkah, Allah memanggil beliau untuk melakukan perjalanan Isra dan Mi'raj yang agung. Peristiwa Isra dan Mi'raj terjadi pada malam Senin 27 Rajab satu tahun sebelum Hijrah ke Madinah sebagaimana pendapat yang masyhur.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah bahwa Jabir bin Abdullah Al Anshor dan Abdullah ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum berkata: " Rasulullah صلى الله عليه وسلم lahir pada hari Senin, dan hari Senin beliau diutus, dan pada hari Senin dimikrajkan ke langit, dan pada hari senin beliau wafat".
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!