Renungan: Keserakahan dan Penyakit Iri

Sabtu, 27 Maret 2021 - 10:10 WIB
Ilustrasi/artikula.id
Keserakahan sejatinya manifestasi rasa takut akan masa depan, sehingga orang berjuang mengumpulkan kekayaan demi masa depan. Ia mengorbankan diri untuk besok dan besok… dan tidak pernah merasa kaya.

Orang yang demikian, kendati memiliki seluruh dunia, ia tetap miskin. Dia tidak bisa menikmatinya karena keserakahan tidak akan mengizinkan itu. Dia tetap kikir. Dia selalu tetap dalam ketakutan akan masa depan sehingga tidak bisa berpisah dengan harta kekayaannya. Dia menumpuk limbah dalam seluruh hidupnya dan satu hari ia mati.



Dan ia adalah orang yang miskin dalam seluruh hidupnya - dengan tangan kosong ia datang, dengan tangan kosong ia mati. Seluruh hidupnya pergi ke saluran pembuangan. Ada satu kisah tentang orang pengabdi jin yang akan memberikan apa yang dia minta. Setelah melalui berbagai ritual orang ini berhasil menjumpai jin .

“Apa keinginanmu?” tanya jin.

"Apakah kamu akan memberi apa yang saya pinta?” kata orang ini balik bertanya.

“Ya,” jawab jin sembara member syarat, "Akan saya penuhi permintaanmu, tetapi apa pun keinginan kamu, tetatanggmu akan memperoleh dua kali lipat dari yang kamu pinta.” Orang itu setuju.



Keesokan harinya, ia mulai mengajukan permintaan kepada jin. Ia minta mobil mewah. Permintaan langsung terkabul. Tapi tetangganya langsung memperoleh dua mobil mewah. Begitu seterusnya. Dia minta, langsung terkabul dan sang tetangga memiliki dua kali lipat.

Dia berharap untuk lebih dan lebih. Ia menjadi sangat kaya raya tetapi tetangganya memiliki kekayaan duakalipat dibanding dirinya. Akibatnya, ia merasa cemburu dan iri dengan tetangganya. Ia mencari siasat bagaimana mengalahkan tetangganya itu. “Apa yang harus dilakukan?” Dia berpikir keras.

Akhirnya dia menemukan solusi cerdas. Dia meminta agar jin membutakan salah satu matanya. Alakazam… maka butalah sebelah matanya dan buta bula kedua mata tetangganya.

Ia lebih lanjut meminta Jin untuk mengambil salah satu tangan dan kemudian salah satu kakinya. Dengan cara ini, ia kehilangan satu mata, satu tangan, dan satu kaki. Dan tetangga kehilangan kedua mata, kedua tangan, dan kedua kaki. Sekarang, orang itu merasa puas dan berkata, "Ini bagus, terima kasih Jin.”

Ali Bin Abu Thalib ra mengatakan orang yang iri tidak puas sampai berkat (dari orang yang dia iri) hilang. Semoga kita tak memiliki penyakit berbahaya seperti ini. ***
(mhy)
Lihat Juga :
Follow
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
cover top ayah
وَاِذَاۤ اَنۡعَمۡنَا عَلَى الۡاِنۡسَانِ اَعۡرَضَ وَنَاٰ بِجَانِبِهٖ‌ۚ وَاِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُوۡ دُعَآءٍ عَرِيۡضٍ
Dan apabila Kami berikan nikmat kepada manusia, dia berpaling dan menjauhkan diri (dengan sombong); tetapi apabila ditimpa malapetaka maka dia banyak berdoa.

(QS. Fussilat Ayat 51)
cover bottom ayah
Artikel Terkait
Al-Qur'an, Bacalah!
Rekomendasi
Terpopuler
Artikel Terkini More