Isu Palestina, Hentikan Mengemis! Saatnya Dunia Islam Bersatu
Selasa, 18 Mei 2021 - 09:18 WIB
Ustaz Shamsi Ali, Direktur/Imam Jamaica Muslim Center. Foto/Ist
Ustaz Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation,
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center
Dalam beberapa hari terakhir, peperangan terbuka antara Palestina dan Israel telah menyebabkan korban yang tidak sedikit khususnya Palestina. Hal ini dipicu awal oleh tindakan semena-mena Israel yang mengevakuasi paksa warga Palestin dari rumah-rumah dan perkampungan mereka di Kota Sheikh Jarrah, menyusul kemudian kekerasan kepada orang-orang Palestina yang sedang beribadah, bahkan tentara dan polisi Israel merusak pintu masjid Al-Aqsa dan memasukinya tanpa membuka alas kaki.
Apa yang dilakukan oleh penjajah Israel memang Sudah di luar nalar manusia sehat. Artinya hanya akal gila yang bisa menerimanya sebagai sesuatu yang biasa saja. Apalagi dianggap sebagai sesuatu yang baik atas nama pembelaan.
Upaya evakuasi bangsa Palestina dari tanah Jerusalem Timur, termasuk dari Al-Aqsa, adalah bagian dari impelemntasi deklarasi bahwa Jerusalem adalah Ibukota Israel. Tentu ini tidak lepas dari apa yang dilakukan oleh Donald Trump yang mengakui Jerusalem sebagai Ibukota Israel. Israel merasa jika kota tua itu telah menjadi miliknya. Dan karenanya warga Palestina harus mengosongkannya untuk mereka mereka ambil alih.
Untuk sekadar diingat kembali bahwa cita-cita terbesar Yahudi Israel memang adalah pengambil alihan Kota Jerusalem dan Masjid Al-Aqsa. Karena memang di situlah harapan akhir mereka untuk mengembalikan kejayaan kerajaan Daud (istilah lain dari kekuasaan Yahudi) di masa silam.
Terlepas dari semua itu serangan Israel kepada bangsa Palestina, khususnya Gaza, bukan barang baru. Dari masa ke masa Israel selalu membuat pemicu, yang menyebabkan warga Palestina melakukan balasan (serangan balik). Serangan ini kemudian dibangun menjadi seolah serangan unilateral Palestina yang dijadikan justifikasi untuk melakukan apa yang disebut "self defense" (membela diri).
Kini, ratusan warga Palestina, khususnya anak-anak dan wanita, telah menjadi korban. Apalagi serangan negara Israel tidak mengenal pemilahan target (indiscriminatif). Sehingga korban berjatuhan dari kalangan sipil, bahkan fasilitas umum termasuk rumah sakit.
Harapan ke Amerika
Setiap kali ada peristiwa seperti saat ini di Timur Tengah, banyak orang Islam kemudian melihat ke Amerika sebagai harapan. Harapan agar Amerika melakukan intervensi membela Palestina. Atau minimal memperlihatkan sikap yang tidak lagi memihak kepada Israel.
Presiden Nusantara Foundation,
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center
Dalam beberapa hari terakhir, peperangan terbuka antara Palestina dan Israel telah menyebabkan korban yang tidak sedikit khususnya Palestina. Hal ini dipicu awal oleh tindakan semena-mena Israel yang mengevakuasi paksa warga Palestin dari rumah-rumah dan perkampungan mereka di Kota Sheikh Jarrah, menyusul kemudian kekerasan kepada orang-orang Palestina yang sedang beribadah, bahkan tentara dan polisi Israel merusak pintu masjid Al-Aqsa dan memasukinya tanpa membuka alas kaki.
Apa yang dilakukan oleh penjajah Israel memang Sudah di luar nalar manusia sehat. Artinya hanya akal gila yang bisa menerimanya sebagai sesuatu yang biasa saja. Apalagi dianggap sebagai sesuatu yang baik atas nama pembelaan.
Upaya evakuasi bangsa Palestina dari tanah Jerusalem Timur, termasuk dari Al-Aqsa, adalah bagian dari impelemntasi deklarasi bahwa Jerusalem adalah Ibukota Israel. Tentu ini tidak lepas dari apa yang dilakukan oleh Donald Trump yang mengakui Jerusalem sebagai Ibukota Israel. Israel merasa jika kota tua itu telah menjadi miliknya. Dan karenanya warga Palestina harus mengosongkannya untuk mereka mereka ambil alih.
Untuk sekadar diingat kembali bahwa cita-cita terbesar Yahudi Israel memang adalah pengambil alihan Kota Jerusalem dan Masjid Al-Aqsa. Karena memang di situlah harapan akhir mereka untuk mengembalikan kejayaan kerajaan Daud (istilah lain dari kekuasaan Yahudi) di masa silam.
Terlepas dari semua itu serangan Israel kepada bangsa Palestina, khususnya Gaza, bukan barang baru. Dari masa ke masa Israel selalu membuat pemicu, yang menyebabkan warga Palestina melakukan balasan (serangan balik). Serangan ini kemudian dibangun menjadi seolah serangan unilateral Palestina yang dijadikan justifikasi untuk melakukan apa yang disebut "self defense" (membela diri).
Kini, ratusan warga Palestina, khususnya anak-anak dan wanita, telah menjadi korban. Apalagi serangan negara Israel tidak mengenal pemilahan target (indiscriminatif). Sehingga korban berjatuhan dari kalangan sipil, bahkan fasilitas umum termasuk rumah sakit.
Harapan ke Amerika
Setiap kali ada peristiwa seperti saat ini di Timur Tengah, banyak orang Islam kemudian melihat ke Amerika sebagai harapan. Harapan agar Amerika melakukan intervensi membela Palestina. Atau minimal memperlihatkan sikap yang tidak lagi memihak kepada Israel.
Lihat Juga :