Misi Besar Israel Kuasai Palestina untuk Sambut Kedatangan Dajjal

Kamis, 20 Mei 2021 - 10:26 WIB
Sejarah Panjang Bani Israel

Sejarah panjang bangsa Israel dimulai dalam kurun waktu 4.000 tahun lalu. Hal ini disebut Nurhidayat dalam tesisnya "Kisah Nabi Isa dalam Al-Qur’an (Suatu Kajian Sejarah)" Program Pasca Sarjana UIN Alauddin Makassar 2017.

Sejarah Yahudi menggambarkan bangsa yang mengklaim akidah mereka sebagai akidah paling benar dan termulia. Atas dasar ini mereka mencela dan menyerang dengan terang-terangan bangsa lain sekaligus meremehkan kesucian agama lain.

Bani Israil adalah sebutan untuk keturunan Nabi Ya'qub. Nabi Ya'qub memiliki 12 putra yaitu, Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda (Yahuda), Dan, Naftali, Gad, Asyer, Isakhar, Zebulon, Yusuf, dan Benyamin. Keturunan mereka kemudian menjadi 12 suku dalam Bani Israil. Keturunan Yusuf dibagi menjadi dua yaitu Suku Manasye yang merupakan keturunan putra sulung Yusuf dan suku Efraim yang merupakan keturunan putra kedua Yusuf. Istilah bahasa Indonesia "Yahudi" berasal dan merujuk pada putra Nabi Ya'kub bernama Yehuda.

Mereka tinggal menetap di sana selama 400 tahun, hingga kelahiran Nabi Musa 'alaihissalam menyelamatkan Bani Israil keluar dari Mesir seperti yang dikisahkan dalam Kitab Keluaran (Exodus).

Setelah Nabi Musa, bangsa Israel kembali berjaya tatkala dipimpin oleh Raja Talut (Kristen menyebutnya Saul) 1042-1012 SM; Nabi Daud (Kristen menyebutnya David) 1012-972 SM; dan Nabi Sulaiman (Kristen menyebutnya Solomon) 972-932 SM. Ketiga raja itu adalah tokoh sentral kerajaan Bani Israil. Untuk mengetahui kisahnya lihat QS Al-Baqarah Ayat 246-51, dan QS An-Nahl Ayat 15-44.

Nabi Daud berjasa dalam meletakkan agama sebagai dasar negara seperti yang telah dirintis oleh syariat Nabi Musa. Sedangkan Nabi Sulaiman menyempurnakan cita-cita ayahnya mendirikan masjid untuk Bangsa Israil di Baitul Maqdis, walaupun telah direncanakan pada masa Daud. Di dalamnya tersimpan 10 Amar Allah.

Sulaiman bin Daud adalah seorang Nabi sekaligus raja bagi Bangsa Israel. Beliau diganti oleh putranya Rabeam, yang melanjutkan tahta kekuasaan ayahnya selama masa fatrah (masa di antara dua orang Nabi) yang menurut para penutur cerita berkisar kurang lebih 17 tahun.

Setelah Rabeam wafat, bangsa Israel terpecah hingga mendekati kemusnahan akibat kekuatan intern dan faktor eksterm berupa penyerangan Romawi ke tanah Palestina dan daerah sekitarnya. Di antara faktor intrern adalah menjamurnya kerajaan-kerajaan kecil di kalangan Bani Israil pada masa yang bersamaan setelah mereka terpecah-pecah menjadi golongan dan suku-suku kecil.

Pada masa kelahiran Nabi Isa 'alahissalam, Romawi menguasai Israel dan tunduk di bawah kekuasaan Raja Herodes dan yang menjadi hakimnya pada masa itu adalah Pilatus al-Nabthi. Kondisi politik, sosial maupun intelektual jauh berbeda dengan kondisi pada masa Nabi Sulaiman. Hal ini disebabkan masuknya pengaruh Romawi ke jantung Kota Palestina dan memberi pengaruh terhadap kehidupan bangsa Israel.

Di masa ini mereka dipaksa mengikuti hukum Romawi dengan menarik upeti dan menindas mereka di bawah kesewenangan seorang hakim. Kekacauan terjadi dimana-mana. Pada masa kegelapan inilah Nabi Isa 'alaihissalam diutus sebagai juru selamat, seorang Rasul utusan Allah Ta'ala untuk menyelamatkan bangsa Israel dari kebodohan mental dan kezaliman.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!