Gus Baha: Orang Indonesia itu Santai Seperti Orang Palestina
Minggu, 30 Mei 2021 - 15:38 WIB
KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha (kiri) dikenal sebagai ulama ahli tafsir yang ceramahnya lugas namun sarat hikmah. Foto/Ist
Dalam satu pengajian Kitab Al-Barzanji bersama para santri, KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha menyampaikan pandangannya tentang sisi lain orang-orang di negara Iran, Irak, Indonesia hingga Palestina.
Berikut penjelasan Gus Baha dikutip dari Iqra yang bersumber dari Kajian Cerdas Official:
Indonesia itu tidak jelas. Negara Islam ya tidak, negara kafir juga tidak. Islam garis keras ya bukan, Islam garis lunak juga bukan. Pokoknya yang penting hidup.
Baca Juga: Ngaji Gus Baha: Sikap KH Raden Asnawi Saat Ditipu Makan Daging Babi
Yang penting sujud kepada Allah. Nyaman kepada Allah. Orang miskin merokok ya santai. Coba saja negara itu lockdown, ekonomi merosot, masyarakat tetap santai. Ibu-ibu pada gosip, bapak-bapak pada rokok an (merokok). Suuaantaaii.
Kalau disyuting yang bingung adalah pengamat. Coba saja, ketika Menteri Ekonomi rapat ribetnya tidak karuan, masyarakat Indonesia suuaantaaii.
Makanya, saya kalau memikirkan orang Indonesia itu rugi. Ribet..! Dipikir yang tidak tahu. Suuaantaaii. Ada penyakit tidak takut, ada apa saja tidak takut. Lah bagaimana lagi? Sudah mati rasa. Hehehe…
Contoh gampang, rokok. Gambar (bungkus) rokok ditulis 'merokok membunuhmu', gambarnya orang yang tenggorokan berlubang.
Itu saja tidak ada efeknya. "Yang tidak merokok juga mati," begitu saja, malah dibalik.
Malah menurut guyonan Habib Muthohar lebih parah lagi. "Saya ini merokok Gus, ditegur sama dokter. Karena negur saya tidak berani, dikasih buku. Judulnya buku ‘Bahaya Merokok’. Buku itu saya baca. Setelah tahu bahayanya merokok, saya berhenti membaca." (Hahaha)
Dokter menyangkanya kan berhenti merokok, ternyata berhenti membaca. (Hehehe) "Aduh Bib Bib, saya kira berhenti merokok… Hehe…"
Ya seperti orang memandang Corona. Terkadang kalau melihat berita terus kan panik. "Caranya tidak panik, berhenti melihat berita."
Berikut penjelasan Gus Baha dikutip dari Iqra yang bersumber dari Kajian Cerdas Official:
Indonesia itu tidak jelas. Negara Islam ya tidak, negara kafir juga tidak. Islam garis keras ya bukan, Islam garis lunak juga bukan. Pokoknya yang penting hidup.
Baca Juga: Ngaji Gus Baha: Sikap KH Raden Asnawi Saat Ditipu Makan Daging Babi
Yang penting sujud kepada Allah. Nyaman kepada Allah. Orang miskin merokok ya santai. Coba saja negara itu lockdown, ekonomi merosot, masyarakat tetap santai. Ibu-ibu pada gosip, bapak-bapak pada rokok an (merokok). Suuaantaaii.
Kalau disyuting yang bingung adalah pengamat. Coba saja, ketika Menteri Ekonomi rapat ribetnya tidak karuan, masyarakat Indonesia suuaantaaii.
Makanya, saya kalau memikirkan orang Indonesia itu rugi. Ribet..! Dipikir yang tidak tahu. Suuaantaaii. Ada penyakit tidak takut, ada apa saja tidak takut. Lah bagaimana lagi? Sudah mati rasa. Hehehe…
Contoh gampang, rokok. Gambar (bungkus) rokok ditulis 'merokok membunuhmu', gambarnya orang yang tenggorokan berlubang.
Itu saja tidak ada efeknya. "Yang tidak merokok juga mati," begitu saja, malah dibalik.
Malah menurut guyonan Habib Muthohar lebih parah lagi. "Saya ini merokok Gus, ditegur sama dokter. Karena negur saya tidak berani, dikasih buku. Judulnya buku ‘Bahaya Merokok’. Buku itu saya baca. Setelah tahu bahayanya merokok, saya berhenti membaca." (Hahaha)
Dokter menyangkanya kan berhenti merokok, ternyata berhenti membaca. (Hehehe) "Aduh Bib Bib, saya kira berhenti merokok… Hehe…"
Ya seperti orang memandang Corona. Terkadang kalau melihat berita terus kan panik. "Caranya tidak panik, berhenti melihat berita."
Lihat Juga :