Jangan Bergembira Berlebihan, Waspada Pada Ajal yang Kian Dekat

Senin, 31 Mei 2021 - 09:30 WIB
Dalam menjalani kehidupan, kita jangan hanya menunggu waktu, namun beramallah demi persiapan bekal untuk Akhirat. Foto ilustrasi/ist
Kebanyakan manusia seringkali lupa bahwa kehidupan di dunia ini adalah sementara. Dia kerap berlebihan dalam kegembiraannya, padahal kematian atau ajal bisa datang di setiap saat. Namun, Allah Subhanahu wa ta'ala selalu menuntun hamba-Nya agar mendapatkan kenikmatan dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat. Hanya orang-orang yang beriman yang tahu tujuan dia dalam kehidupan ini.



Allah Ta'ala berfirman:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

"Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (QS. Jumu’ah: 8)





Semua muslim diharapkan sudah tahu bahwa sebenarnya dalam Islam tidak ada perayaan yang berlebihan dan bermewah-mewahan. Perayaan mewah yang dibalut dengan pesta biasanya menjadi bentuk tasyabbuh (meniru) orang di luar Islam.

Namun masih banyak muslim yang gemar bermewah-mewah dan bergembira yang berlebihan dengan kehidupan dunianya. Misalkan, bergembira dan pesta berlebihan ketika merayakan tanggal kelahirannya, naik jabatan, atau pesta ulang tahun pernikahannya.



Padahal yang mesti direnungi adalah kehidupan yang abadi di dunia. Andaikata mau mengenang sebuah peristiwa, misalkan, tanggal dan kelahirannya, bisa dilakukan dengan sederhana. Kalau meniru Nabi Muhammad Shallahu 'alaihi wa sallam, hari kelahirannya dikenang dengan berpuasa sunah.

Hasan Al Bashri mengatakan: “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.” (Hilyatul Awliya’, 2: 148).



Artinya jangan bergembira berlebihan, ingatlah bahwa hidup di dunia adalah sementara. Bukankah yang Islam mengajarkan, kita jangan hanya menunggu waktu, namun beramallah demi persiapan bekal untuk Akhirat. Berbekal untuk kematian.

Ibnu ‘Umar pernah berkata:

*إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ*

“Jika engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu waktu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore. Isilah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu, dan isilah masa hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari no. 6416).



Hadis ini mengajarkan untuk tidak panjang angan-angan, bermewah-mewahan dan mengira bahwa kehidupan dunia akan abadi. Padahal hidup di dunia tidak lama.

Aun bin ‘Abdullah berkata: “Sikapilah bahwa besok adalah ajalmu. Karena begitu banyak orang yang menemui hari besok, ia malah tidak bisa menyempurnakannya. Begitu banyak orang yang berangan-angan panjang umur, ia malah tidak bisa menemui hari esok. Seharusnya ketika engkau mengingat kematian, engkau akan benci terhadap sikap panjang angan-angan.”
Dapatkan berita terbaru, follow WhatsApp Channel SINDOnews sekarang juga!
Halaman :
cover top ayah
مَا الۡمَسِيۡحُ ابۡنُ مَرۡيَمَ اِلَّا رَسُوۡلٌ‌ ۚ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِهِ الرُّسُلُؕ وَاُمُّهٗ صِدِّيۡقَةٌ‌  ؕ كَانَا يَاۡكُلٰنِ الطَّعَامَ‌ؕ اُنْظُرۡ كَيۡفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الۡاٰيٰتِ ثُمَّ انْظُرۡ اَ نّٰى يُؤۡفَكُوۡنَ
Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul. Sebelumnya pun sudah berlalu beberapa rasul. Dan ibunya seorang yang berpegang teguh pada kebenaran. Keduanya biasa memakan makanan. Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) kepada mereka (Ahli Kitab), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka dipalingkan (oleh keinginan mereka).

(QS. Al-Maidah Ayat 75)
cover bottom ayah
Artikel Terkait
Al-Qur'an, Bacalah!
Rekomendasi
Terpopuler
Artikel Terkini More