Ketika Pak Harto Naik Haji dan Tradisi Ganti Nama
Rabu, 09 Juni 2021 - 05:00 WIB
Saat Pak Harto menunaikan ibadah haji/Foto/Ist
Sebuah buku kumpulan surat anak-anak Indonesia untuk Presiden Soeharto berjudul "Anak Indonesia dan Pak Harto" salah satunya berisi surat seorang siswa kelas tiga sekolah dasar, Tyar Fitriyanyah Ahyar. Surat untuk Presiden Soeharto tertanggal 20 Oktober 1984.itu mempertanyakan mengapa Pak Harto belum haji: “Kata guru saya juga papa saya, orang muslim harus pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Kok Pak Presiden belum menunaikan haji?” tulisnya.
Baca juga: Kenang Soeharto, Akun Twitter Fadli Zon Dibanjiri Cerita Harga Murah hingga Beasiswa Kuliah
Pak Harto berkisah bahwa dirinya bukannya tak ingin. Sepulang umroh pada 1978, beliau mengatakan ingin segera berhaji. “Tapi, saya pikir waktu itu keadaan negara kita masih perlu pemikiran dan tenaga untuk melaksanakan pembangunan, maka terpaksa saya tunda,” ujar Soeharto seperti dikutip berbagai media pada 28 Juni 1991.
Harap maklum, haji memang membutuhkan waktu cukup lama. Ini berbeda dengan umrah. Dan Pak Harto sering melakukam haji kecil itu.
Tujuh tahun setelah Tyar menulis surat, Pak Harto menjalankan rukun Islam kelima itu. Beliau mengajak sang istri, Ibu Tien, putra-putrinya, menantu, serta dokter pribadi, pengawal, fotografer pribadi, dan pembimbing haji KH Qosim Nurzeha berangkat ke Tanah Suci.
“Presiden Soeharto ke Tanah Suci semata-mata ingin mewujudkan niatnya sebagai hamba Allah untuk beribadah dan jangan dikait-kaitkan dengan masalah lain, termasuk politik,’’ ujar Menteri Sekretaris Negara, Moerdiono kala itu.
Baca juga: Kenang Soeharto, Fahri Hamzah: Sebuah Bangsa Tak Boleh Simpan Dendam Masa Lalu
Setiba di Jeddah pada 17 Juni 1991, Gubernur Makkah, Pangeran Majid bin Abdul Azis, yang mewakili Raja Fahd, menyambut Pak Harto dan rombongan. Kerajaan Arab Saudi menyediakan penginapan di Royal Guest House beliau dan rombongan selama melakukan rangkaian ibadah haji. Juga perkemahan khusus di Arafah.
Kegiatan Pak Harto diawali dengan perjalanan ke Madinah untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Setelah itu, beliau menjalankan rangkaian haji pada umumnya. Beliau mendapat pengawalan dari tentara Kerajaan Arab Saudi, sebagai fasilitas yang disediakan kerajaan bagi kepala negara selama menunaikan ibadah haji.
Sewaktu Pak Harto melempar jumrah, banyak kaum Muslimin melambaikan tangan dan mengelu-elukan Pak Harto dengan berteriak Assalamu'alaikum Rois Indonisi, Assalamu'alaikum Rois Indonisi," tulis Sutrimo, Reporter Senior TVRI yang meliput langsung momen Pak Harto naik haji. Dia menuliskan pengalamannya dalam buku 34 Wartawan Istana Bicara Tentang Pak Harto terbitan UMB Press tahun 2013.
Baca juga: Kenang Soeharto, Akun Twitter Fadli Zon Dibanjiri Cerita Harga Murah hingga Beasiswa Kuliah
Pak Harto berkisah bahwa dirinya bukannya tak ingin. Sepulang umroh pada 1978, beliau mengatakan ingin segera berhaji. “Tapi, saya pikir waktu itu keadaan negara kita masih perlu pemikiran dan tenaga untuk melaksanakan pembangunan, maka terpaksa saya tunda,” ujar Soeharto seperti dikutip berbagai media pada 28 Juni 1991.
Harap maklum, haji memang membutuhkan waktu cukup lama. Ini berbeda dengan umrah. Dan Pak Harto sering melakukam haji kecil itu.
Tujuh tahun setelah Tyar menulis surat, Pak Harto menjalankan rukun Islam kelima itu. Beliau mengajak sang istri, Ibu Tien, putra-putrinya, menantu, serta dokter pribadi, pengawal, fotografer pribadi, dan pembimbing haji KH Qosim Nurzeha berangkat ke Tanah Suci.
“Presiden Soeharto ke Tanah Suci semata-mata ingin mewujudkan niatnya sebagai hamba Allah untuk beribadah dan jangan dikait-kaitkan dengan masalah lain, termasuk politik,’’ ujar Menteri Sekretaris Negara, Moerdiono kala itu.
Baca juga: Kenang Soeharto, Fahri Hamzah: Sebuah Bangsa Tak Boleh Simpan Dendam Masa Lalu
Setiba di Jeddah pada 17 Juni 1991, Gubernur Makkah, Pangeran Majid bin Abdul Azis, yang mewakili Raja Fahd, menyambut Pak Harto dan rombongan. Kerajaan Arab Saudi menyediakan penginapan di Royal Guest House beliau dan rombongan selama melakukan rangkaian ibadah haji. Juga perkemahan khusus di Arafah.
Kegiatan Pak Harto diawali dengan perjalanan ke Madinah untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Setelah itu, beliau menjalankan rangkaian haji pada umumnya. Beliau mendapat pengawalan dari tentara Kerajaan Arab Saudi, sebagai fasilitas yang disediakan kerajaan bagi kepala negara selama menunaikan ibadah haji.
Sewaktu Pak Harto melempar jumrah, banyak kaum Muslimin melambaikan tangan dan mengelu-elukan Pak Harto dengan berteriak Assalamu'alaikum Rois Indonisi, Assalamu'alaikum Rois Indonisi," tulis Sutrimo, Reporter Senior TVRI yang meliput langsung momen Pak Harto naik haji. Dia menuliskan pengalamannya dalam buku 34 Wartawan Istana Bicara Tentang Pak Harto terbitan UMB Press tahun 2013.
Lihat Juga :