Dahsyatnya Kandungan Al-Qur'an, Tak Ada Kitab yang Bisa Menandinginya (1)

Rabu, 07 Juli 2021 - 17:16 WIB
Faktanya, memang tidak ada yang berhasil sampai saat ini. Banyak pakar tafsir, bahasa dan sastra baik muslim maupun non muslim yang mengakui keindahan dan kedalaman isi Al-Qur'an.

Menurut Maulana Khalid, ada seratus empat kitab surgawi yang diturunkan kepada Manusia: Rinciannya, sepuluh suhuf (lembaran-lembaran) diwahyukan kepada nabi Adam alaihis-salam, lima puluh suhuf kepada Shis alaihis-salam (Shit) tiga puluh suhuf untuk nabi Idris alaihis-salam dan sepuluh suhuf untuk Nabi Ibrahim 'alahis salam. Taurat diturunkan kepada nabi Musa alaihis-salam, Zabur diturunkan kepada nabi Daud alaihis-salam, Injil kepada nabi Isa alaihis-salam dan Al-Qur'an diturunkan kepada nabi Muhammad 'sall-Allahu alaihi wa sallam'.

Saya sudah membaca sebagian kitab dari taurat dan suhuf Nabi Idris yang menurut saya asli, khususnya tentang keterangan atau buku Adam dan Hawa, serta suhuf Nabi Idris. Naskah-Naskah ini berasal dari kumpulan naskah yang ditemukan di Laut Mati, dan telah ditolak gereja karena isinya tidak sesuai dengan hasil kanon mereka.

Memang, di dalamnya tidak ada sama sekali kata yang merujuk pada Son of Gods, yang adanya hanyalah the Holy One. Para ahli menyebutkan kitab ini adalah milik salah satu sekte agama Yahudi yang masih murni, karena berdasarkan penelitian hidup sebelum Nabi Isa lahir.

Buku Adam dan Hawa misalnya, sangat rinci menjelaskan bagaimana proses Adam bisa diturunkan ke dunia, jauh lebih lengkap daripada Al-Qur'an yang memuat nama Adam dalam 25 ayat, memang seperti meringkas hal-hal penting saja. Berdasarkan pandangan saya, kitab ini ke depan, bila dikaji lebih dalam bisa menguak teka teki, apakah Adam diturunkan secara langsung maujud sebagai manusia di bumi, atau kata "kun" dalam Qur'an itu mengandung makna sebuah proses. Saya mengambil pendapat bahwa, kata kun adalah sebuah proses, karena alam raya ini terikat oleh sunatullah ruang dan waktu, sementara asal kata kun adalah dari Allah yang bebas dari hal tersebut.

Perbedaan ini sedikit banyak telah terpecahkan oleh teori relativitas Einstein, bahwa waktu di dunia ini jauh lebih singkat daripada di ruang angkasa. Bukti nyatanya adalah mekansime kerja teknologi global positioning system (GPS) yang saat ini lazim dipakai sebagai peta real time.

Disebutkan, jam atom (atomic clocks) yang dipasangkan pada satelit berjalan 45 juta detik lebih cepat setiap harinya daripada waktu di Bumi. Itu bukan karena jam di satelit kurang akurat ketika berada di ruang angkasa, melainkan waktu berlalu dengan kecepatan yang berbeda dengan di Bumi. Satu detik saja jam satelit itu meleset, maka koordinat GPS di bumi akan meleset 10 kilometer.

Allah berfirman: "Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu." (QS.Al Hajj: 47)

Subhanallah, apa yang dikemukakan kitab suci Qur'an, sekitar 800 tahun lalu terbukti secara empiris, bahwa satu detik di angkasa—di langit dimana Allah bersemayam Arsy, di langit ke tujuh, meskipun saya yakin lokasi satelit GPS pastilah masih merupakan langit dunia, atau paling rendah—rupanya 45 juta detik lebih cepat dari waktu di dunia.

Makanya tidak mengherankan dalam sebuah hadist shahih Nabi Muhammad SAW mengumpamakan bahwa periode kerasulannya sampai kiamat hanyalah dari waktu Ashar sampai Maghrib, dan Nabi Isa dari Zuhur ke Ashar. Sementara, sejumlah perhitungan menggunakan formula QS. Al Hajj: 47 atau 1 hari di sisi Allah setara 1000 tahun di dunia—dengan menggunakan asumsi rata-rata angka harapan hidup manusia saat ini antara 63-70 tahun—maka lamanya hidup seorang manusia di dunia ini tidak lain hanyalah 1,5-1,7 jam saja di sisi Allah.

Suhanallah, mari kita tidak menyianyiakan sisa waktu umur kita, karena bagaimanapun bila sampai usia maksimal 70 tahun pun itu akan menentukan kehidupan abadi kita di akhirat kelak, entah di neraka atau di surga. Allah sudah mengingatkan dalam QS al-'Ashr: "Demi waktu (Ashar). Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!