Surat Al-Baqarah Ayat 217 dan Kisah Abdullah bin Jahsy

Jum'at, 13 Agustus 2021 - 15:07 WIB
Ilustrasi/Ist
Berbahagilah Abdullah bin Jahsy . Sahabat Nabi SAW ini tindakannya diabadikan dalam al-Quran surat al-Baqarah 217. Menurut keterangan Ahli Tafsir (mufassirin), pada bulan Jumadil Akhir dua bulan sebelum Perang Badar berkobar, kira-kira tujuh belas bulan sesudah hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW mengirimkan delapan orang Muhajirin di bawah pimpinan Abdullah bin Jahsy dengan pesan:

"Pergilah kau dengan Asma Allah dan janganlah kau buka suratku ini hingga engkau berjalan selama dua hari. Sesudah menempuh jarak itu barulah kau buka suratku itu dan bacakan kepada kawan-kawanmu. Setelah itu, teruskan perjalananmu sesuai perintahku. Janganlah ada di antara kawan-kawanmu itu yang pergi mengikuti karena dipaksa (terpaksa)".

Baca juga: Orang Pertama Bergelar Amirul Mukminin Ini Kena Marah Rasulullah

Abdullah bin Jahsy berjalan selama dua hari, kemudian ia berhenti dan membuka surat Rasulullah itu. "Bismillaahr-ahmaanirahiim. Amma ba'du, pergilah kau dengan kawan-kawan yang menyertaimu disertai keberkahan dari Allah hingga kau mencapai sebuah kebun kurma. Dari sana, kau bisa mengintai kegiatan kafilah Quraisy, lalu kau kembali membawa berita mereka".

Sesudah membaca isi surat itu, Abdullah berkata: "Sam'an wa thaa 'atan, aku mendengar dan patuh kepada perintahmu", lalu berkata kepada para pengikutnya, "Rasulullah melarang saya memaksa kalian ikut dalam misi ini".

Rombongan ini berjalan atas perintah Rasulullah SAW dan dengan perlindungan Allah Ta'ala. Di suatu tempat bernama Bahran, Sa'ad bin Abi Waqqash dan Utbah bin Ghazwan kehilangan ontanya. Keduanya pergi mencari ontanya itu hingga tertinggal oleh rombongannya.

Abdullah bin Jahsy meneruskan perjalanannya sesuai petunjuk Rasulullah hingga mencapai sebuah perkebunan kurma. Tiba-tiba, mereka melihat kafilah Quraisy dikawal oleh Amru ibnul Hadhrami, Utsman ibnul Mughirah, dan saudaranya; Naufal dan al-Hakam bin Kisan.

Para shahabat itu bermusyawarah tentang mereka. Salah seorang berkata, "kalau kalian membiarkan mereka pergi malam ini, mereka akan memasuki Tanah Haram dan kalian tidak bisa berbuat apa-apa. Akan tetapi, kalau kalian memerangi mereka, kita ada dalam bulan haram?". Pada waktu itu, mereka ada di akhir bulan Rajab.

Mereka ragu-ragu dan takut menindaknya. Tapi akhirnya, mereka memberanikan dan memutuskan untuk memeranginya dengan sekuat-kuatnya. Salah seorang dari sahabat itu lalu melepaskan anak panah kepada Amru ibnul Hadhrami dan tewaslah ia seketika. Mereka berhasil menawan Utsman ibnul Mughirah dan al-Hakam bin Kisan, sedangkan Naufal dan saudaranya Utsman, berhasil melarikan diri.

Baca juga: Selain Amirul Mukminin, Ini Penyebab Ali Bin Abu Thalib Bergelar Imam

Menurut keterangan sebagian keluarga Abdullah bin Jahsy, pada waktu itu, Abdullah mengatakan kepada para sahabatnya itu, "Dua puluh persen dari kemenangan yang kita peroleh ini untuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan sisanya dibagi di antara kita". Ini terjadi sebelum ketetapan 20% itu dikukuhkan oleh al-Qur'an.

Sesampainya rombongan di Madinah, Rasulullah bersabda kepada mereka, "Aku tidak memerintahkan kalian mengadakan peperangan di bulan haram", seraya menolak untuk mengambil bagiannya dari hasil kemenangan itu.

Abdullah bin Jahsy dan para sahabatnya bersedih hati karena telah bertindak di luar perintah. Lebih-lebih, setelah semua sahabat Rasulullah menyesalkan tindakannya itu. Belum lagi kampanye Quraisy yang dihembus-hembuskan dengan gencar, "Muhammad dan sahabatnya menghalalkan pertumpahan darah, perampasan hak milik dan penawanan orang di bulan haram".
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!