Al-Barra' bin Malik (1): Menyongsong Kematian, Mendapatkan Kehidupan
Rabu, 18 Agustus 2021 - 05:00 WIB
Kedua matanya yang tajam bergerak-gerak dengan cepatnya menyelusuri seluruh medan tempur, seolah-olah sedang mencari-cari tempat bersemayam yang sebaik-baiknya untuk seorang pahlawan. Memang tak ada yang menyibukkannya di antara segala urusan dunia, kecuali tujuan Yang satu ini.
Dimulai dengan berjatuhannya korban di pihak kaum musyrikin penyeru kedhaliman dan kebathilan akibat ketajaman dan tebasan pedangnya al-Barra' yang ampuh.
Kemudian di akhir pertempuran, suatu pukulan pedang mengenai tubuhnya dari tangan seorang musyrik, menyebabkan tubuh kasarnya jatuh ke tanah, sementara tubuh halusnya menempuh jalannya membubung ke tingkat yang tertinggi ke mahligai para syuhada tempat kembalinya orang-orang yang beroleh berkah.
Itulah khayalannya ketika ia menunggu kamando. Khalid mengumandangkan takbir "Allahu Akbar", maka majulah seluruh barisan yang bersatu-padu menuju sasarannya, dan maju pula peng'asyik maut Barra' bin Malik.
la terus mengejar anak buah dan pengikut si pembohong Musailamah dengan pedangnya, hingga mereka berjatuhan laksana daun kering di musim, rontok. Tentara Musailamah bukanlah tentara yang lemah dan sedikit jumlahnya. Bahkan ia adalah tentara murtad yang paling berbahaya.
Baca juga: Khalid bin Walid, Peristiwa Yamamah, dan Detik-Detik Menentukan dalam Sejarah Islam
Baik bilangan maupun perlawanan rerta perjuangan mati-matian prajuritnya, merupakan bahaya di atas semua bahaya.
Mereka menjawab serangan Kaum Muslimin dengan perlawanan yang mencapai puncak kekerasannya sehingga hampir-hampir mereka mengambil alih kendali pertempuran dan mengubah perlawanan mereka menjadi serangan balasan. Waktu itulah kegelisahan terasa merembes ke dalam barisan Kaum Muslimin. Melihat situasi ini, para komandan dan pimpinan pasukan sambil terus bertempur berdiri di atas pelana, berseru dengan kalimat-kalimat yang membangkitkan semangat dan meneguhkan hati.
Barra' bin Malik mempunyai suara indah dan keras. la dipanggil oleh panglima Khalid, dimintanya untuk buka suara. Maka Barra pun menyerukan kata-kata yang penuh gemblengan semangat dan kepahlawanan, beralasan dan kuat. "Wahai penduduk Madinah! Tak ada Madinah bagi kalian sekarang. Yang ada hanya Allah dan surga... !" pekiknya.
Ucapan itu menunjukkan jiwa pembicaranya, dan menjelaskan watak akhlaknya. Benarlah, yang tinggal hanyalah Allah dan surga! Karena di dalam suasana dan tempat seperti ini, tidaklah wajar ada pikiran-pikiran kepada yang lain walau kota Madinah, ibu kota Negara Islam, tempat rumah tangga, isteri dan anak-anak mereka! Sekarang tidak patut mereka berpikir ke sana! Sebab bila mereka sampai dikalahkan, maka tak ada artinya kota Madinah lagi.
Kata-kata Barra' ini meresap laksana membangkitkan semangan jihad pasukan muslimin. Dan dalam waktu yang tidak lama, suasana pertempuran pun kembali kepada keadaannya semula.
Dimulai dengan berjatuhannya korban di pihak kaum musyrikin penyeru kedhaliman dan kebathilan akibat ketajaman dan tebasan pedangnya al-Barra' yang ampuh.
Kemudian di akhir pertempuran, suatu pukulan pedang mengenai tubuhnya dari tangan seorang musyrik, menyebabkan tubuh kasarnya jatuh ke tanah, sementara tubuh halusnya menempuh jalannya membubung ke tingkat yang tertinggi ke mahligai para syuhada tempat kembalinya orang-orang yang beroleh berkah.
Itulah khayalannya ketika ia menunggu kamando. Khalid mengumandangkan takbir "Allahu Akbar", maka majulah seluruh barisan yang bersatu-padu menuju sasarannya, dan maju pula peng'asyik maut Barra' bin Malik.
la terus mengejar anak buah dan pengikut si pembohong Musailamah dengan pedangnya, hingga mereka berjatuhan laksana daun kering di musim, rontok. Tentara Musailamah bukanlah tentara yang lemah dan sedikit jumlahnya. Bahkan ia adalah tentara murtad yang paling berbahaya.
Baca juga: Khalid bin Walid, Peristiwa Yamamah, dan Detik-Detik Menentukan dalam Sejarah Islam
Baik bilangan maupun perlawanan rerta perjuangan mati-matian prajuritnya, merupakan bahaya di atas semua bahaya.
Mereka menjawab serangan Kaum Muslimin dengan perlawanan yang mencapai puncak kekerasannya sehingga hampir-hampir mereka mengambil alih kendali pertempuran dan mengubah perlawanan mereka menjadi serangan balasan. Waktu itulah kegelisahan terasa merembes ke dalam barisan Kaum Muslimin. Melihat situasi ini, para komandan dan pimpinan pasukan sambil terus bertempur berdiri di atas pelana, berseru dengan kalimat-kalimat yang membangkitkan semangat dan meneguhkan hati.
Barra' bin Malik mempunyai suara indah dan keras. la dipanggil oleh panglima Khalid, dimintanya untuk buka suara. Maka Barra pun menyerukan kata-kata yang penuh gemblengan semangat dan kepahlawanan, beralasan dan kuat. "Wahai penduduk Madinah! Tak ada Madinah bagi kalian sekarang. Yang ada hanya Allah dan surga... !" pekiknya.
Ucapan itu menunjukkan jiwa pembicaranya, dan menjelaskan watak akhlaknya. Benarlah, yang tinggal hanyalah Allah dan surga! Karena di dalam suasana dan tempat seperti ini, tidaklah wajar ada pikiran-pikiran kepada yang lain walau kota Madinah, ibu kota Negara Islam, tempat rumah tangga, isteri dan anak-anak mereka! Sekarang tidak patut mereka berpikir ke sana! Sebab bila mereka sampai dikalahkan, maka tak ada artinya kota Madinah lagi.
Kata-kata Barra' ini meresap laksana membangkitkan semangan jihad pasukan muslimin. Dan dalam waktu yang tidak lama, suasana pertempuran pun kembali kepada keadaannya semula.
Lihat Juga :