Ini Alasan Kenapa Sahabat Nabi Tidak Bermazhab
Minggu, 10 Oktober 2021 - 19:20 WIB
Mereka itulah generasi yang berhak bicara : Tidak perlu ulama, tidak perlu Mazhab, bahkan tidak perlu hadits Shahih. Bagaimana dengan kita?
Bisakah kita bilang: "Saya tidak perlu ulama? Bisakah kita sesumbar: Buang saja mazhab-mazhab itu? Bisakah dengan sotoy kita nyinyir: Saya tidak perlu fiqih, cukup Nabi saja sebagai kiyai ku?"
Jelas tidak bisa. Jangankan kita yang hidup di abad 14 Hijriyah, bahkan para tabi'in pun tidak ada satupun yang ketemu langsung dengan Rasulullah. Para Tabiin itu hanya ketemu dengan sahabat. Mereka tidak pernah punya akses langsung kepada Nabi.
Bahkan para Tabi'in pun tidak bisa mengaku-ngaku sebagai orang yang paling mengenal Rasulullah. Tak seorang dari tabi'in itu yang pernah lihat bagaimana Nabi sholat, zakat, puasa, haji dan mengerjakan amalan-amalan lainnya.
Mereka kenal Nabi hanya lewat cerita. Ya, cerita yang disampaikan oleh para sahabat. Dimana cerita para shahabat itu bisa saja beda-beda cara menyampaikannya.
Namanya juga cerita, tentu ada banyak versinya dan banyak keunikannya juga. Misalnya, peristiwa haji wada' di tahun kesepuluh Hijriyah yang diikuti tidak kurang dari 60 ribu sahabat.
Banyak cerita yang sama dan terkonfirmasi dari sekian banyak jalur riwayat para sahabat. Namun, asal tahu saja, ada juga versi-versi yang saling berbeda dan yang pada bertentangan dari banyak jalur shahabat itu.
Contohnya tentang status Haji Nabi, apakah beliau berhaji Tamattu, Qiran atau Ifrad? Ternyata kita menemukan ratusan jalur riwayat yang berbeda versinya. Ada riwayat menyebut Tamattu, riwayat lain menyebut qiran. Dan riwayat lainnya lagi menyebut Ifrad.
Uniknya, ternyata semua versi itu sama-sama shahihnya, sama-sama riwayat para sahabat. Kalau sudah begitu, kira-kira dimana letak salahnya? Apakah para shahabat pada saling berdusta? Ataukah mereka hanya mengira-ngira saja?
Tulisan singkat ini akan saya tutup dengan sebuah pertanyaan: "Dari sepuluh versi mutawatir qiraat yang berbeda itu (Qiroah 'Asyrah), manakah yang digunakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam?
Bisakah kita bilang: "Saya tidak perlu ulama? Bisakah kita sesumbar: Buang saja mazhab-mazhab itu? Bisakah dengan sotoy kita nyinyir: Saya tidak perlu fiqih, cukup Nabi saja sebagai kiyai ku?"
Jelas tidak bisa. Jangankan kita yang hidup di abad 14 Hijriyah, bahkan para tabi'in pun tidak ada satupun yang ketemu langsung dengan Rasulullah. Para Tabiin itu hanya ketemu dengan sahabat. Mereka tidak pernah punya akses langsung kepada Nabi.
Bahkan para Tabi'in pun tidak bisa mengaku-ngaku sebagai orang yang paling mengenal Rasulullah. Tak seorang dari tabi'in itu yang pernah lihat bagaimana Nabi sholat, zakat, puasa, haji dan mengerjakan amalan-amalan lainnya.
Mereka kenal Nabi hanya lewat cerita. Ya, cerita yang disampaikan oleh para sahabat. Dimana cerita para shahabat itu bisa saja beda-beda cara menyampaikannya.
Namanya juga cerita, tentu ada banyak versinya dan banyak keunikannya juga. Misalnya, peristiwa haji wada' di tahun kesepuluh Hijriyah yang diikuti tidak kurang dari 60 ribu sahabat.
Banyak cerita yang sama dan terkonfirmasi dari sekian banyak jalur riwayat para sahabat. Namun, asal tahu saja, ada juga versi-versi yang saling berbeda dan yang pada bertentangan dari banyak jalur shahabat itu.
Contohnya tentang status Haji Nabi, apakah beliau berhaji Tamattu, Qiran atau Ifrad? Ternyata kita menemukan ratusan jalur riwayat yang berbeda versinya. Ada riwayat menyebut Tamattu, riwayat lain menyebut qiran. Dan riwayat lainnya lagi menyebut Ifrad.
Uniknya, ternyata semua versi itu sama-sama shahihnya, sama-sama riwayat para sahabat. Kalau sudah begitu, kira-kira dimana letak salahnya? Apakah para shahabat pada saling berdusta? Ataukah mereka hanya mengira-ngira saja?
Tulisan singkat ini akan saya tutup dengan sebuah pertanyaan: "Dari sepuluh versi mutawatir qiraat yang berbeda itu (Qiroah 'Asyrah), manakah yang digunakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam?
Lihat Juga :