Kisah Arisa, Mualaf asal Jepang (1): Syahadat Saya Bukanlah Tujuan, tetapi Awal
Senin, 01 November 2021 - 10:07 WIB
Meski demikian, Arisa tetap bersikap baik terhadap ibunya. “Saya tahu ini adalah reaksi yang wajar, jadi saya melakukan yang terbaik untuk membuatnya menerima saya. Dan saya ingin membuatnya melihat saya menjadi orang yang lebih baik karena Islam. Jadi, saya berusaha menjaga hubungan yang baik dengan ibu saya,” ujar Arisa.
Lain halnya dengan teman-teman Arisa. Ketika diberitahu bahwa Arisa telah masuk Islam, beberapa dari mereka malah bertanya tentang bagaimana kehidupannya setelah menjadi muslim. “Mereka tidak mengatakan hal-hal buruk tentang Islam di depan saya. Alhamdulillah,” kata Arisa.
Adik perempuan Arisa juga mendukung keputusan Arisa untuk menjadi muslim, “Dia memberitahuku bahwa dia bahagia untukku,” kenang Arisa.
Adiknya kemudian membantu Arisa untuk meyakinkan ibunya bahwa dia masih orang yang sama dan tidak ada yang berubah. Namun, butuh waktu sampai ibunya menerimanya sebagai seorang muslim, dan bahkan dia menangis ketika meminta maaf kepada Arisa.
Ibunda Arisa, perlahan dapat menerima keislaman putrinya, bahkan dia melihat Islam dengan cara yang berbeda. Sebelumnya, karena penggambaran media, dia melihat Islam sebagai sesuatu yang buruk. Kini dia menilai bahwa Islam adalah agama yang indah, dan dia melihat Arisa berubah menjadi jauh lebih baik setelah beragama Islam.
Beberapa tahun kemudian, bahkan nenek Arisa juga mengikuti jejak Arisa, dia mengucapkan syahadat di masjid di Tokyo. Neneknya juga telah menjadi seorang muslimah. Meski anggota keluarga yang lainnya belum, namun Arisa berharap suatu hari nanti mereka dapat juga menjadi muslim.
Itulah sebabnya, memasuki usia enam tahun bersyahadat Arisa pantas bersyukur atas perubahan pada diri sang bunda itu. "Ya Allah, tolong terus bantu saya untuk mengingat-Mu dan berterima kasih kepada-Mu dan menyembah-Mu dengan baik Aamiin!" doa Arisa.
Baca juga: Sebelum Jadi Penghafal Al-Quran, Mualaf Cantik Ini Dulunya Benci Suara Adzan
Lain halnya dengan teman-teman Arisa. Ketika diberitahu bahwa Arisa telah masuk Islam, beberapa dari mereka malah bertanya tentang bagaimana kehidupannya setelah menjadi muslim. “Mereka tidak mengatakan hal-hal buruk tentang Islam di depan saya. Alhamdulillah,” kata Arisa.
Adik perempuan Arisa juga mendukung keputusan Arisa untuk menjadi muslim, “Dia memberitahuku bahwa dia bahagia untukku,” kenang Arisa.
Adiknya kemudian membantu Arisa untuk meyakinkan ibunya bahwa dia masih orang yang sama dan tidak ada yang berubah. Namun, butuh waktu sampai ibunya menerimanya sebagai seorang muslim, dan bahkan dia menangis ketika meminta maaf kepada Arisa.
Ibunda Arisa, perlahan dapat menerima keislaman putrinya, bahkan dia melihat Islam dengan cara yang berbeda. Sebelumnya, karena penggambaran media, dia melihat Islam sebagai sesuatu yang buruk. Kini dia menilai bahwa Islam adalah agama yang indah, dan dia melihat Arisa berubah menjadi jauh lebih baik setelah beragama Islam.
Beberapa tahun kemudian, bahkan nenek Arisa juga mengikuti jejak Arisa, dia mengucapkan syahadat di masjid di Tokyo. Neneknya juga telah menjadi seorang muslimah. Meski anggota keluarga yang lainnya belum, namun Arisa berharap suatu hari nanti mereka dapat juga menjadi muslim.
Itulah sebabnya, memasuki usia enam tahun bersyahadat Arisa pantas bersyukur atas perubahan pada diri sang bunda itu. "Ya Allah, tolong terus bantu saya untuk mengingat-Mu dan berterima kasih kepada-Mu dan menyembah-Mu dengan baik Aamiin!" doa Arisa.
Baca juga: Sebelum Jadi Penghafal Al-Quran, Mualaf Cantik Ini Dulunya Benci Suara Adzan
(mhy)
Lihat Juga :