Kisah Nabi Isa Menangis, Berdoa Meminta Hidangan dari Langit
Rabu, 17 November 2021 - 20:03 WIB
Baca juga: Isa as, Nabi yang Sedari Bayi Sudah Memiliki Mukjizat
Mendapatkan Rasa Kenyang
Dikisahkan bahwa hidangan Allah SWT yang turun dari langit ini diberikan sekali dalam sehari. Karena sudah ada bukti keamanan dan khasiat hidangan tersebut, maka orang-orang – yang berjumlah sekitar 6.000 orang – mulai berani memakannya. Namun mereka yang memakan hidangan hanya mendapatkan rasa kenyang, tidak sebagus khasiat pertama kali.
Setelah beberapa waktu, hidangan ini tidak lagi turun setiap hari, tetapi berselang satu hari sebagaimana pemanfaatan unta nabi Shalih yang susunya sehari diminum oleh orang-orang dan sehari tidak diminum.
Kemudian Allah SWT memerintahkan Nabi Isa untuk memberikan hidangan tersebut hanya kepada orang fakir dan orang yang membutuhkan, tidak termasuk orang kaya.
Tindakan Nabi Isa itu mendapatkan beberapa protes dari orang-orang kaya dan orang-orang munafik. Bagi mereka, hal ini sangat tidak adil dan menyulitkan mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akibat protes tersebut, kemudian Allah SWT memberhentikan pemberian hidangan dan mengubah orang-orang yang mempersoalkan distribusi menjadi binatang, yakni babi.
Baca juga: Ketika Nabi Isa Membuka Rahasia Cara Menghidupkan yang Sudah Mati
Sebuah Kiasan
Kisah Bani Israil dan hidangan dari langit juga diceritakan dalam sebuah hadis mauquf riwayat Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir yang berujung kepada Sa’id bin Abi ‘Urbah. Ia berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Hidangan turun dari langit yang terdiri dari roti dan daging. Mereka (umat nabi Isa as) diperintahkan agar tidak berkhianat, tidak menimbun, dan tidak membawanya untuk hari esok. Namun mereka berkhianat, menimbun, dan membawanya, sehingga wujud mereka dirubah menjadi babi-babi.”
Ulama berbeda pendapat berkenaan dengan rincian kisah umat Nabi Isa dan hidangan dari langit ini. Jumhur ulama mengatakan bahwa hidangan memang diturunkan dari langit sebagaimana literal ayat Al-Qur’an. Namun Imam Mujahid dan Hasan al-Bashri menolak pendapat tersebut. Menurut keduanya, kata turun pada Surat al-Maidah ayat 115 hanyalah sebuah kiasan.
Baca juga: Santri Nabi Isa: Kau Akan Bersama Dengan Yang Kau Cintai
Berikut isi Surat al-Maidah ayat 111-115 tersebut.
Wa iz awhaitu ilal hawaariyyiina an aaminuu bii wa bi Rasuulii qooluuu aamannaa washhad bi annanaa muslimuun
Mendapatkan Rasa Kenyang
Dikisahkan bahwa hidangan Allah SWT yang turun dari langit ini diberikan sekali dalam sehari. Karena sudah ada bukti keamanan dan khasiat hidangan tersebut, maka orang-orang – yang berjumlah sekitar 6.000 orang – mulai berani memakannya. Namun mereka yang memakan hidangan hanya mendapatkan rasa kenyang, tidak sebagus khasiat pertama kali.
Setelah beberapa waktu, hidangan ini tidak lagi turun setiap hari, tetapi berselang satu hari sebagaimana pemanfaatan unta nabi Shalih yang susunya sehari diminum oleh orang-orang dan sehari tidak diminum.
Kemudian Allah SWT memerintahkan Nabi Isa untuk memberikan hidangan tersebut hanya kepada orang fakir dan orang yang membutuhkan, tidak termasuk orang kaya.
Tindakan Nabi Isa itu mendapatkan beberapa protes dari orang-orang kaya dan orang-orang munafik. Bagi mereka, hal ini sangat tidak adil dan menyulitkan mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akibat protes tersebut, kemudian Allah SWT memberhentikan pemberian hidangan dan mengubah orang-orang yang mempersoalkan distribusi menjadi binatang, yakni babi.
Baca juga: Ketika Nabi Isa Membuka Rahasia Cara Menghidupkan yang Sudah Mati
Sebuah Kiasan
Kisah Bani Israil dan hidangan dari langit juga diceritakan dalam sebuah hadis mauquf riwayat Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir yang berujung kepada Sa’id bin Abi ‘Urbah. Ia berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Hidangan turun dari langit yang terdiri dari roti dan daging. Mereka (umat nabi Isa as) diperintahkan agar tidak berkhianat, tidak menimbun, dan tidak membawanya untuk hari esok. Namun mereka berkhianat, menimbun, dan membawanya, sehingga wujud mereka dirubah menjadi babi-babi.”
Ulama berbeda pendapat berkenaan dengan rincian kisah umat Nabi Isa dan hidangan dari langit ini. Jumhur ulama mengatakan bahwa hidangan memang diturunkan dari langit sebagaimana literal ayat Al-Qur’an. Namun Imam Mujahid dan Hasan al-Bashri menolak pendapat tersebut. Menurut keduanya, kata turun pada Surat al-Maidah ayat 115 hanyalah sebuah kiasan.
Baca juga: Santri Nabi Isa: Kau Akan Bersama Dengan Yang Kau Cintai
Berikut isi Surat al-Maidah ayat 111-115 tersebut.
وَ اِذۡ اَوۡحَيۡتُ اِلَى الۡحَـوَارِيّٖنَ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِىۡ وَبِرَسُوۡلِىۡۚ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا وَاشۡهَدۡ بِاَنَّـنَا مُسۡلِمُوۡنَ
Wa iz awhaitu ilal hawaariyyiina an aaminuu bii wa bi Rasuulii qooluuu aamannaa washhad bi annanaa muslimuun
Lihat Juga :