Ketika Bilal bin Rabah Tak Mampu Lagi Mengumandangkan Adzan
Kamis, 18 November 2021 - 19:40 WIB
Bilal bin Rabah tak sanggup lagi adzan setelah Rasulullah SAW wafat. Dia tak sanggup membendung tangisnya ketika mengumandangkan panggilan sholat itu. (Foto/Ilustrasi: Ist)
Bilal bin Rabah tak mampu lagi mengumandangkan Adzan pascawafatnya Rasulullah SAW . Bilal tak sanggup lagi meneruskan Adzannya tatkala sampai pada kalimah “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah…. ” Tangisnya pecah. Luapan rindu kepada Nabi Muhammad SAW begitu meluap.
Baca juga: Kisah Ketika Bilal Bin Rabah Adzan di Atas Reruntuhan Berhala saat Fathu Makkah
Rasulullah wafat pada tahun 11 Hijriyah di usianya yang ke 63. Ketika beliau wafat, kabar kesedihan langsung menyebar. Seluruh pelosok Madinah berubah menjadi muram.
Menurut Ibnu Hisyam dalam kitab Sirah an-Nabawiyah, Anas meriwayatkan, “Aku tidak pernah melihat suatu hari yang lebih baik dan lebih terang selain dari hari saat Rasulullah SAW masuk ke tempat kami, dan tidak kulihat hari yang lebih buruk dan lebih muram selain dari hari saat Rasulullah SAW meninggal dunia.”
Begitu pula dengan Bilal bin Rabah. Sepeninggal Rasulullah dia dilanda kesedihan yang amat sangat. Dalam Shuwar min Hayaatis Shahabah karya Dr Abdurrahman Ra’fat Basya dipaparkan bahwa sejak kepergian Rasulullah SAW, Bilal hanya sanggup mengumandangkan adzan selama tiga hari.
Setiap sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaahi,” dia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum Muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.
Baca juga: Pekik Bilal Bin Rabah dalam Perang Badar, Ahad... Ahad... Ahad...
Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya berjudul Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah menyebut riwayat lainnya yang berkisah, Bilal menemui Khalifah Abu Bakar dan berkata, “Wahai khalifah Rasulullah, aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘amal orang mukmin yang utama adalah berjihad fi sabilillah.’”
Abu Bakar bertanya, “Jadi apa maksudmu, hai Bilal?”
Bilal menjawab, “aku ingin berjuang di jalan Allah sampai aku meninggal dunia.”
Baca juga: Kisah Ketika Bilal Bin Rabah Adzan di Atas Reruntuhan Berhala saat Fathu Makkah
Rasulullah wafat pada tahun 11 Hijriyah di usianya yang ke 63. Ketika beliau wafat, kabar kesedihan langsung menyebar. Seluruh pelosok Madinah berubah menjadi muram.
Menurut Ibnu Hisyam dalam kitab Sirah an-Nabawiyah, Anas meriwayatkan, “Aku tidak pernah melihat suatu hari yang lebih baik dan lebih terang selain dari hari saat Rasulullah SAW masuk ke tempat kami, dan tidak kulihat hari yang lebih buruk dan lebih muram selain dari hari saat Rasulullah SAW meninggal dunia.”
Begitu pula dengan Bilal bin Rabah. Sepeninggal Rasulullah dia dilanda kesedihan yang amat sangat. Dalam Shuwar min Hayaatis Shahabah karya Dr Abdurrahman Ra’fat Basya dipaparkan bahwa sejak kepergian Rasulullah SAW, Bilal hanya sanggup mengumandangkan adzan selama tiga hari.
Setiap sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaahi,” dia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum Muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.
Baca juga: Pekik Bilal Bin Rabah dalam Perang Badar, Ahad... Ahad... Ahad...
Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya berjudul Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah menyebut riwayat lainnya yang berkisah, Bilal menemui Khalifah Abu Bakar dan berkata, “Wahai khalifah Rasulullah, aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘amal orang mukmin yang utama adalah berjihad fi sabilillah.’”
Abu Bakar bertanya, “Jadi apa maksudmu, hai Bilal?”
Bilal menjawab, “aku ingin berjuang di jalan Allah sampai aku meninggal dunia.”
Lihat Juga :