Pekik Bilal Bin Rabah dalam Perang Badar, Ahad... Ahad... Ahad...

loading...
Pekik Bilal Bin Rabah dalam Perang Badar, Ahad... Ahad... Ahad...
Bilal bin Rabah memekik Ahad... ahad ... ahad ... saat disiksa kafir Qurasy. Pekikan ini menjadi semboyan resmi dalam perang Badar. (Foto/Ilusrasi: KairoNews)
Pekik Bilal bin Rabah tatkala ia disiksa kaum kafir Quraisy Makkah, "Ahad... Ahad... Ahad..." akhirnya menjadi semboyan resmi pasukan Muslim dalam perang Badar . Dalam perang inilah Bilal bin Rabah berhasil membunuh Umayyah bin Khalaf, tuannya yang menyiksa dirinya saat di Makkah.

Baca juga: Tangis Waraqah bin Naufal dan Pembebasan Bilal bin Rabah dari Siksaan Kafir Quraisy

Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya berjudul "Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah" menyebut dalam perang inilah Bilal bin Rabah dan Umayyah bin Khalaf, bekas tuannya, bertemu.

Bilal masih sama seperti dulu ketika disiksa oleh Umayyah bin Khalaf. Dalam perang Badar, Bilal meneriakkan, “Ahad…. Ahad!” Namun bedanya, kali ini atas perintah Nabi Muhammad SAW, teriakan tersebut menjadi semboyan bagi pasukan Islam. Pekik “Ahad…. Ahad!” menggema selama perang berlangsung.

Dalam perang Badar, suku Quraisy mengerahkan para pemukanya untuk turut serta turun dalam perang. Umayyah bin Khalaf juga salah seorang pemuka, walaupun pada awalnya dia tidak hendak ikut. Hingga salah seorang kawannya yang bernama ‘Uqbah bin Abi Mu’ith mendatanginya sambil di tangan kanannya membawa sebuah mijmar (pedupaan yang dipergunakan para wanita untuk mengasapi tubuhnya dengan kayu wangi).

Ketika ‘Uqbah datang, Umayyah sedang duduk di antara para pengikutnya, kemudian ‘Uqbah menaruh mijmar tersebut di hadapan Umayyah seraya berkata, “Hai Abu Ali! Terimalah dan pergunakanlah pedupaan ini. Karena engkau tak lebih dari seorang wanita!”

Mendengar perkataan itu Umayyah marah. “Keparat! Apa yang kau bawa ini?” sergahnya. Pada akhirnya berangkat jugalah Umayyah bin Khalaf ke medan pertempuran bersama putranya yang yang bernama Ali.

‘Uqbah bin Abi Mu’ith adalah orang yang paling gigih mendorong Umayyah untuk melakukan penyiksaan terhadap Bilal dan orang-orang tak berdaya lainnya dari umat Islam ketika di Makkah. Ini kali, dia juga yang mendorong Umayyah untuk terjun ke medan perang, namun nahas, keduanya akan tewas dalam perang Badar.

Baca juga: Mansa Musa Orang Terkaya Sepanjang Masa Punya Kekayaan Rp5.897 Triliun Keturunan Bilal bin Rabah?

Dipenuhi Rasa Takut
Ketika perang dimulai, pasukan Muslim meneriakkan “Ahad…. Ahad!” sambil terus merangsek maju. Umayyah teringat kata-kata tersebut pernah terus menerus diucapkan Bilal ketika sedang disiksanya.

Dia tidak pernah menyangka kata-kata tersebut akan menjadi semboyan sebuah kelompok masyarakat yang berdiri dalam suatu agama yang utuh. Batinnya dipenuhi oleh rasa takut.

Ketika peperangan sudah berlangsung beberapa lama, ‘Abd ar-Rahman bin ‘Auf melihat Umayyah sedang berpegangan tangan bersama putranya.

Sewaktu masih jahiliyah, Abd ar-Rahman bin ‘Auf merupakan kawan dekat Umayyah. Saat itu ‘Abd ar-Rahman bin ‘Auf sedang membawa beberapa buah baju besi hasil rampasan, Umayyah berkata, “apakah engkau ada perlu denganku? Aku lebih baik daripada baju-baju besi yang engkau bawa itu. Aku tidak pernah mengalami kejadian seperti hari ini. Apakah kalian membutuhkan susu?”

Maksud Umayyah adalah dia menawarkan dirinya untuk menjadi tawanan dan akan memberikan tebusan beberapa unta yang menghasilkan banyak susu.

‘Abd ar-Rahman bin ‘Auf kemudian membuang baju-baju besi dari tangannya dan menuntun Umayyah bersama putranya. Umayyah kemudian berkata, “siapakah seseorang di antara kalian yang mengenakan tanda pengenal di dadanya berupa sehelai bulu burung unta?”

‘Abd ar-Rahman bin ‘Auf menjawab, “dia adalah Hamzah bin Abdul-Muththalib.”

Umayyah menimpali, “dia adalah orang yang paling banyak menimpakan bencana di pasukan kami.”

Ketika mereka sedang bercakap-cakap, Bilal melihat mereka, lalu berseru, “dedengkot kekufuran adalah Umayyah bin Khalaf. Aku tidak selamat jika dia masih selamat!”

‘Abd ar-Rahman bin ‘Auf berkata, “wahai Bilal, dia adalah tawananku.”

“Aku tidak selamat jika dia masih selamat,” kata Bilal sekali lagi.
halaman ke-1
preload video