Kisah Carla Memeluk Islam Sangat Mengagumkan

Sabtu, 11 Desember 2021 - 18:04 WIB
"Is there anything I can do for you today?", tanya saya kembali.

"I have been thinking to become Moslim".

Umumnya non Muslim di Amerika menyebut Muslim dengan "Moslem". Bahkan kadang dengan penyebutan yang tidak tepat "Moz-lim". Akhirnya kata itu mengandung konotasi buruk dalam bahasa Arab: orang zholim.

"Oh…so you wanted to become a Muslim?" tanyaku lagi.

"Yes," jawabnya.

Saya agak terkejut. Selain karena masih muda yang biasanya tahunya hura-hura Carla juga nampak belum tahu sama sekali tentang Islam. Maklum pekerjaannya sebagai cashier di sebuah toko tidak memberi ruang untuk belajar hal lain.

"Did you study about Islam? Did you read about it?" saya ingin memastikan.

"No. But I have a friend," katanya.

"What happens with your friend?" tanya saya.

Awalnya saya kira teman dia adalah seorang pria. Mungkin lagi pacaran dengan seorang pria Muslim, dan ini sering terjadi. Tapi setelah bertanya lebih jauh ternyata teman Carla itu adalah seorang Wanita juga.

Saya tidak ingin menuliskan Dialog kita lagi. Tapi inti kisahnya adalah Carla tertarik masuk Islam, bukan belajar Islam, tapi karena teman kerjanya di toko tersebut.

Ceritanya suatu hari di toko itu ada seorang pegawai baru dengan pakaian yang aneh. Bagi Carla pakaian itu aneh. Karena hampir semua wanita memakai pakaian terbuka (you can see) khususnya di musim panas. Tapi wanita itu justeru datang bekerja dengan pakaian menutup badannya dari kepala ke ujung kaki.

Tapi ada hal yang lebih menarik perhatian Carla. Setiap hari dia datang ke tempat kerjanya dengan senyuman dan sapaan yang ramah. Hingga suatu ketika Carla ingin cari tahu apakah temannya itu memang tidak ada masalah dalam hidupnya.

"Don't you have any problem in life?" tanyanya kepada temannya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!