3 Anugerah Nikmat Allah Ta'ala yang Tak Terhitung di Dalam Rumah

Senin, 27 Desember 2021 - 11:08 WIB
Senang dan betah tinggal di dalam rumah, ternyata memiliki kebaikan dan anugerah luar biasa bagi seorang muslim. Foto ilustrasi/lazdau.org
Senang dan betah tinggal di dalam rumah, ternyata memiliki kebaikan dan anugerah luar biasa bagi seorang muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menggambarkan betapa bahagianya orang yang mendapat karunia rumah yang bagus nan luas yang diiringi dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Rasulullah bersabda:

طُوبَى لِمَنْ مَلَكَ لِسَانَهُ ، وَوَسِعَهُ بَيْتُهُ ، وَبَكَى عَلَى خَطِيئَتِهِ


“Keberuntungan adalah milik orang yang kuasa menjaga lisannya, merasa cukup dengan rumahnya sebagai tempat berlindung dan senantiasa menangisi setiap kesalahannya. (HR. At Thabarani, dinilai sebagai hadis shahih oleh Muhaddits ( Ahli Hadits ) Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3929).



Dari hadis ini, menurut Ustadz Fadly Gugul, dai yang juga pengasuh dewan konsultasi Bimbingan Islam, ada sebuah isyarat agar bagi siapa saja yang berada di dalam rumah untuk menjaga lisan, menjauhi fitnah dengan tinggal dan berdiam diri di dalam rumahnya serta senantiasa beribadah di dalamnya dengan amalan-amalan kebajikan yang dianjurkan bagi setiap muslim ketika ia sedang berada di rumah serta memohon ampun dan menangisi atas kesalahan – kesalahan yang pernah dibuatnya. Kesibukan rata-rata orang hari ini berkurang drastis. Suasana hening adalah waktu yang pas untuk merenung. Menyadari tumpukan dosa yang menjulang tinggi. Lalu menyesal sembari menangisi dosa-dosa tersebut.



"Namun dibalik itu semua, kenyataannya kita rasakan dan saksikan, sebuah nubuwah yang dibawah oleh Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, benarlah beliau dan selalu dibenarkan. kita rasakan sendiri anugerah itu ternyata ada di dalam rumah kita,"ungkap dai alumni STDI Imam Syafi’i Jember ini.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ؛ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا


“Barang siapa yang melewati harinya dengan perasaan aman di dalam rumahnya. Badannya sehat. Memiliki makanan untuk hari itu. Maka seakan ia telah memiliki dunia”. (HR. Tirmidzi, no. 2346, Ibnu Majah, no. 4141. Abu ‘Isa (kunya Imam Tirmidzi) mengatakan bahwa hadis ini hasan dan dinilai sebagai hadis hasan juga oleh ahli hadis Syaikh Albaniy).

Anugerah apa saja yang kita dapat ketika betah di rumah? Ustadz Fadly Gugul menjelaskannya sebagai berikut:

1. Rasa Aman Tinggal di Rumah

Rasa aman adalah sebuah nikmat, terlebih di tengah wabah yang sedang menjamur di seluruh belahan dunia. Sekarang, karena adanya himbauan social (jaga jarak) distancing dan physical distancing (jangan kontak fisik), semua anggota keluarga ‘dipaksa’ berkumpul di rumah. Bahkan di luaran sana, ada aparat berpatroli melarang warga berkumpul ramai dan menjaga agar kita masuk ke rumah. Bukankah ini sebuah nikmat yang tak ternilai?

Oleh karenanya nikmat ini patut disyukuri, jangan sampai diingkari. Allah Ta’ala berfirman,

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آَمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ


“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”

(QS. An Nahl: 112).

Gegara mengingkari nikmat, akhirnya datanglah musibah dan bencana. Bentuk dari menginkari nikmat adalah dengan berbuat kerusakan di luar rumah, tidak patuh terhadap arahan dan penyuluhan pihak yang berwenang dan membahayakan orang lain, dan puncak dari itu semua, ada yang abai terhadap tujuan besar syariat (maqashidus Syari’ah), di antaranya menjaga jiwa, yang mana hal ini diperintahkan dalam agama kita, juga termasuk ajaran para Rasul.

وَلَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْهُمْ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ وَهُمْ ظَالِمُونَ


“Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya; karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. An Nahl: 113).
Dapatkan berita terbaru, follow WhatsApp Channel SINDOnews sekarang juga!
Halaman :
cover top ayah
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحۡيًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآىٴِ حِجَابٍ اَوۡ يُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَيُوۡحِىَ بِاِذۡنِهٖ مَا يَشَآءُ‌ؕ اِنَّهٗ عَلِىٌّ حَكِيۡمٌ
Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahatinggi, Mahabijaksana.

(QS. Asy-Syura Ayat 51)
cover bottom ayah
Artikel Terkait
Al-Qur'an, Bacalah!
Rekomendasi
Terpopuler
Artikel Terkini More