Surat Yasin Ayat 43-44: Pelajaran dari Bahtera Nuh dan Kapal Titanic

Jum'at, 31 Desember 2021 - 10:57 WIB
Surat Yasin ayat 43-44 mengingatkan kita akan kuasa dan tujuan Allah SWT menyelamatkan manusia dari musibah di perjalanan selama berada di dalam bahtera Nabi Nuh AS. (Foto/Ilustrasi : Dok. SINDOnews)
Surat Yasin ayat 43-44 mengingatkan kita akan kuasa dan tujuan Allah SWT menyelamatkan manusia dari musibah di perjalanan selama berada di dalam bahtera Nabi Nuh AS . Prof Quraish Shihab membandingkan hal tersebut dengan kapal Titanic yang bernasib sebaliknya.

Allah SWT berfirman:

وَإِن نَّشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنقَذُونَ

إِلَّا رَحْمَةً مِّنَّا وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ


Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan.

Tetapi (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika. ( QS Yasin : 43-44)

Baca juga: Surat Yasin Ayat 41-42: Isyarat Perkembangan Transportasi Masa Depan

Muhammad Husain al-Thabathaba'i dalam kitab tafsir "al-Mizan fi Tafsir al-Quran" menjelaskan bahwa nasib orang-orang dan binatang-binatang yang ada di atas bahtera Nabi Nuh itu sepenuhnya berada di tangan Allah SWT.

"Apabila Allah berkehendak, bisa saja mereka semua tenggelam dan tak terselamatkan, namun Dia berkehendak sebaliknya. Itu semua tiada lain merupakan rahmat Allah SWT," ujarnya.

Sedangkan Ibn Asyur dalam tafsirnya "al-Tahrîr wa al-Tanwîr" menjelaskan, ayat ini berkaitan dengan ayat sebelumnya. Ayat sebelumnya membicarakan belas kasih Allah SWT yang telah menyelamatkan mereka yang menaiki kapal Nabi Nuh AS . Nah ayat ini kemudian memperingatkan bahwa Allah SWT berkuasa mengubah nikmat tersebut menjadi musibah.

Pola ungkapan ini merupakan ciri khas al-Qur’an di mana komposisi pesan ayat senantiasa berimbang. Ayat yang mengandung pesan anjuran (targhib) selalu diiringi dengan dengan ayat yang mengandung peringatan (tarhib) atau sebaliknya. Sehingga seseorang tidak merasa besar ketika diberi kenikmatan dan tidak pula putus asa dari turunnya rahmat.

Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah menambahkan, kata “sarikh“ berasal dari kata “sarakha” yang berarti berteriak minta tolong. Kata “sarikh” sendiri berarti orang yang diteriaki untuk dimintai pertolongan.

Orang yang terjebak dalam bahaya di perjalanan biasanya tidak memiliki siapa pun untuk dimintai pertolongan. Hanya Allah lah satu-satunya yang bisa mendengarkan teriakannya dan menyelamatkannya dari musibah yang sedang dihadapi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!