Ada yang Bilang Walisongo Keturunan Cina, Benarkah?

Selasa, 18 Januari 2022 - 20:24 WIB
Baca juga: Kisah Sunan Ampel (2): Sesepuh Wali Songo yang Sangat Toleran

Pernyataan Van Den Berg secara lebih spesifik menyebut abad ke-15 sebagai abad kedatangan atau kelahiran sebagian besar Walisongo di pulau Jawa.

Abad ke-15 ini jauh lebih awal dari abad ke-18 yang merupakan saat kedatangan gelombang berikutnya, yaitu kaum Hadramaut yang bermarga Assegaf, Al-Habsyi, Al-Hadad, Alaydrus, Al-Attas, Al-Jufri, Syihab, Syahab, dan banyak marga Hadramaut lainnya.

Hingga kini umat Islam di Hadramaut sebagian besar bermadzhab Syafi’i, sama seperti mayoritas muslim di Sri langka, pesisir India Barat (Gujarat dan Malabar), Malaysia dan Indonesia.

Hal ini bisa dibandingkan dengan umat Islam di Uzbekistan dan seluruh Asia Tengah, Pakistan dan India pedalaman (non-pesisir) yang sebagian besar bermadzhab Hanafi.

Pengamalan madzhab Syafi’i dengan corak tasawuf dan menghormati Ahlul Bait (seperti mengadakan perayaan Maulid Nabi, membaca Diba’ & Barzanji, beragam Shalawat Nabi, doa Nur Nubuwwah dan banyak amalan lainnya) hanya terdapat di Hadramaut, Mesir, Gujarat, Malabar, Srilangka, Sulu & Mindanao, Malaysia dan Indonesia.

Kitab fiqh madzhab Syafi’i Fathul Muin yang populer di Indonesia dikarang oleh Zainuddin al-Malabary dari Malabar, isinya memasukkan pendapat-pendapat baik kaum Fuqaha maupun kaum Sufi.

Hal tersebut mengindikasikan adanya kesamaan sumber yaitu Hadramaut, karena Hadramaut adalah sumber pertama dalam sejarah Islam yang menggabungkan fiqh Syafi’i dengan pengamalan tasawuf dan penghormatan terhadap Ahlul Bait (keturunan Nabi).

Di abad ke-15, raja-raja Jawa yang berkerabat dengan Walisongo seperti Raden Fatah dan Pati Unus sama-sama menggunakan gelar Alam Akbar.

Gelar tersebut juga merupakan gelar yang sering dikenakan oleh keluarga besar Jamaluddin Akbar di Gujarat pada abad ke-14, yaitu cucu keluarga besar Azhamat Khan (atau Abdullah Khan) bin Abdul Malik bin Alwi, seorang anak dari Muhammad Shahib Mirbath, ulama besar Hadramaut abad ke-13.

Keluarga besar ini terkenal sebagai mubaligh musafir yang berdakwah jauh hingga pelosok Asia Tenggara, dan mempunyai putra-putra dan cucu-cucu yang banyak menggunakan nama Akbar, seperti Zainal Akbar, Ibrahim Akbar, Ali Akbar, Nur Alam Akbar dan banyak lainnya.

Baca juga: Kisah Sunan Ampel (1): Dari Champa Menuju Majapahit Ajarkan Falsafah Molimo

Keturunan Nabi Muhammad

Sudah disebut di atas bahwa Walisongo keturunan Nabi Muhammad SAW. Habib Luthfi bin Yahya mengatakan para Walisongo adalah keturunan habaib dari marga Adzmatkhan.

"Jika ditelusuri mereka itu masih keturunan Nabi Muhammad SAW,” ujar Muhammad Iskandar, Pengamat Sejarah Universitas Indonesia suatu ketika.

Muhammad Iskandar mengatakan bahwa garis keturunan tersebut dari putri Rasulullah SAW, yakni Sayyidah Fathimah RA. Menurutnya, garis keturunan itu bermula pada Sunan Gresik atau yang lebih dikenal dengan Maulana Malik Ibrahim.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!