Bolehkah Mengucapkan Kata Buruk Ketika Dighibahi dan Didzalimi?
Selasa, 25 Januari 2022 - 09:03 WIB
Ketika dighibahi atau didzalimi orang, sikap terbaik seorang muslimah adalah beristighfar dan muhasabah diri. Foto ilustrasi/ist
Muslimah, ketika kita mendapat perlakukan tidak baik, dighibahi atau didzalimi orang lain, pasti kita merasa sakit hati dan marah. Ada perasaan dendam dan ingin membalasnya bukan? Bahkan terkadang terucap kata-kata buruk kita kepada orang yang mendzalimi kita. Bolehkah bersikap demikian?
Dalam Islam, sebaik-baiknya sikap ketika kita dighibahi dan didzalimi orang adalah beristighfar dan melakukan muhasabah. Bahkan, Imam An-Nawawi rahimahullah ketika mendapatkan perlakuan yang tidak baik atau didzalimi oleh orang lain, maka dilakukan beliau justru menyalahkan dirinya sendiri.
Baca juga: Dahsyatnya Doa Orang yang Didzalimi
Kenapa demikian? Menurut Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri hafizhahullah, mental yang ditunjukkan Imam An-Nawai bukan mental menyalahkan orang lain, melainkan mental mulia, yaitu "istighfar" dan "muhasabah." Seperti, "Dosaku apa nih? Khilafku apa nih? Maksiatku apa nih? (sehingga orang lain mendzolimiku)."
Karena itu, lanjut Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, hendaknya pula kita berterima kasih kepada orang yang telah mendzolimi kita. "Karena kalau mindset kita akhirat, mau kita dicurangi, dicaci-maki, dighibahi, difitnahi atau didzolimi orang-orang, maka kita akan senang riang gembira,"paparnya.
Kok malah senang? Kenapa gak marah? Kenapa harus marah? Bukankah orang yang mendzolimi kita itu akan men-transfer pahalanya pada hari kiamat? Kok dikasih pahala, marah?
Selain itu, orang yang didzalimi dianjurkan untuk bersabar dalam agama meski sesungguhnya diperbolehkan baginya mengucapkan ucapan buruk.
Allah Ta'ala berfirman :
Dalam Islam, sebaik-baiknya sikap ketika kita dighibahi dan didzalimi orang adalah beristighfar dan melakukan muhasabah. Bahkan, Imam An-Nawawi rahimahullah ketika mendapatkan perlakuan yang tidak baik atau didzalimi oleh orang lain, maka dilakukan beliau justru menyalahkan dirinya sendiri.
Baca juga: Dahsyatnya Doa Orang yang Didzalimi
Kenapa demikian? Menurut Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri hafizhahullah, mental yang ditunjukkan Imam An-Nawai bukan mental menyalahkan orang lain, melainkan mental mulia, yaitu "istighfar" dan "muhasabah." Seperti, "Dosaku apa nih? Khilafku apa nih? Maksiatku apa nih? (sehingga orang lain mendzolimiku)."
Karena itu, lanjut Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, hendaknya pula kita berterima kasih kepada orang yang telah mendzolimi kita. "Karena kalau mindset kita akhirat, mau kita dicurangi, dicaci-maki, dighibahi, difitnahi atau didzolimi orang-orang, maka kita akan senang riang gembira,"paparnya.
Kok malah senang? Kenapa gak marah? Kenapa harus marah? Bukankah orang yang mendzolimi kita itu akan men-transfer pahalanya pada hari kiamat? Kok dikasih pahala, marah?
Selain itu, orang yang didzalimi dianjurkan untuk bersabar dalam agama meski sesungguhnya diperbolehkan baginya mengucapkan ucapan buruk.
Allah Ta'ala berfirman :
لَا يُحِبُّ اللّٰهُ الۡجَــهۡرَ بِالسُّوۡٓءِ مِنَ الۡقَوۡلِ اِلَّا مَنۡ ظُلِمَؕ وَكَانَ اللّٰهُ سَمِيۡعًا عَلِيۡمًا
Lihat Juga :