Abu Bakar, Ahli Tafsir Mimpi yang Banyak Mengajak Bangsawan Quraisy Masuk Islam

Minggu, 13 Februari 2022 - 17:04 WIB
Para Muslim pergi ke setiap sudut masjid (Makkah), setiap orang (berdakwah) di antara saudara-saudara mereka sendiri, dan Abu Bakar berdiri di antara orang-orang, berbicara (berdakwah) kepada mereka, sehingga dia adalah pendakwah pertama yang mengajak orang-orang kepada Allah dan Rasul-Nya.

Jalal ad-Din as-Suyuti dalam Tarikh al-Khulafa menyebutkan, para penyembah berhala menyerang Abu Bakar dan kaum Muslim, dan mereka memukuli mereka, di setiap sudut masjid, dengan sangat kejam.

Mengenai peran Abu Bakar dari sejak masuk Islam hingga wafatnya Nabi, as-Suyuti menuturkan:

Para ulama mengatakan bahwa Abu Bakar menemani Nabi SAW dari sejak dia masuk Islam sampai kematiannya, tidak meninggalkannya baik dalam perjalanan atau pada waktu menetap, kecuali untuk apa yang beliau SAW memberinya izin untuk pergi, seperti pada saat ibadah haji dan berperang.

Dia hadir di dalam semua pertempuran bersamanya, hijrah dengannya, meninggalkan keluarga dan anak-anaknya, mengabdi kepada Allah dan Rasul-Nya. Dia adalah teman dekatnya di gua (Tsur).

Dia adalah yang dimuliakan Dia, berfirman, “Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, ‘Janganlah engkau berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.’.” (QS At-Taubah [9]: 40)

Menurut, Jalal ad-Din as-Suyuti, dia berjanji untuk membantu Rasulullah SAW lebih dari sekali. Dia memberikan jasa yang besar dalam pertempuran, dan tegas pada Perang Uhud dan Perang Hunain ketika semua orang telah melarikan diri

Baca juga: Ini Mengapa Abu Bakar Berani Sedekahkan 100% Hartanya

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Abu Bakar As-Siddiq: Sebuah Biografi" mengatakan tetapi apa yang menghilangkan kekaguman kita tidak mengubah penghargaan kita atas keberaniannya tampil ke depan umum dalam situasi ketika orang masih serba menunggu, ragu, dan sangat berhati-hati.

Keberanian Abu Bakar ini patut sekali kita hargai, mengingat dia pedagang, yang demi perdagangannya diperlukan perhitungan guna menjaga hubungan baik dengan orang lain serta menghindari konfrontasi dengan mereka, yang akibatnya berarti menentang pandangan dan kepercayaan mereka. Ini dikhawatirkan kelak akan berpengaruh buruk terhadap hubungan dengan para relasi itu.

Berapa banyak orang yang memang tidak percaya pada pandangan itu dan dianggapnya suatu kepalsuan, suatu cakap kosong yang tak mengandung arti apa-apa, lalu dengan sembunyi-sembunyi atau berpura-pura berlaku sebaliknya hanya untuk mencari selamat, mencari keuntungan di balik semua itu, menjaga hubungan dagangnya dengan mereka.

Sikap munafik begini kita jumpai bukan di kalangan awamnya, tapi di kalangan tertentu dan kalangan terpelajarnya juga. Bahkan akan kita jumpai di kalangan mereka yang menamakan diri pemimpin dan katanya hendak membela kebenaran. Kedudukan Abu Bakar yang sejak semula sudah dikatakan oleh Rasulullah itu, patut sekali dia mendapat penghargaan, patut dikagumi.

Usaha Abu Bakar melakukan dakwah Islam itulah yang patut dikagumi. Barangkali ada juga orang yang berpandangan semacam dia, merasa sudah cukup puas dengan mempercayainya secara diam-diam dan tak perlu berterang-terang di depan umum agar perdagangannya selamat, berjalan lancar. Dan barangkali Muhammad pun merasa cukup puas dengan sikap demikian itu dan sudah boleh dipuji.

Tetapi Abu Bakar dengan menyatakan terang-terangan keislamannya itu, lalu mengajak orang kepada ajaran Allah dan Rasulullah dan meneruskan dakwahnya untuk meyakinkan kaum Muslimin yang mula-mula untuk mempercayai Muhammad dan mengikuti ajaran agamanya, inilah yang belum pernah dilakukan orang; kecuali mereka yang sudah begitu tinggi jiwanya, yang sudah sampai pada tingkat membela kebenaran demi kebenaran.

Orang demikian ini sudah berada di atas kepentingan hidup pribadinya sehari hari. Kita lihat, dalam membela agama, dalam berdakwah untuk agama, segala kebesaran dan kemewahan hidup duniawinya dianggapnya kecil belaka.

Demikianlah keadaan Abu Bakar dalam persahabatannya dengan Muhammad, sejak dia memeluk Islam, hingga Rasulullah berpulang ke sisi Allah dan Abu Bakar pun kemudian kembali ke sisi-Nya.

Baca juga: Jarang Diketahui! Inilah Sebab Abu Bakar Memeluk Islam
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!