Kisah Gerombolan Perampok Tersungkur di Kaki Syaikh Abdul Qadir al-Jilani
Sabtu, 28 Mei 2022 - 19:05 WIB
Dua puluh lima tahun ia uzlah dari masyarakat ramai hanya memakai jubah dari bulu domba usang dan sehelai kain putih yang melekat di kepala. Ia mengarungi panas dan dinginnya musim di tanah Irak tanpa beralaskan kaki (sandal) dan makan minum yang tak menentu.
Syaikh Abdul Wahhab asy-Sya'rani [898-907 H) dalam kitab Thabaqat al-Kubra menceritakan suatu ketika datanglah seorang yang menaruh belas kasihan kepadanya serta memberikan uang. Ia pun menerima pemberian itu sedirham untuk membeli roti, tetapi tiba-tiba jatuhlah secarik kertas di hadapannya sehingga ia tinggalkan roti itu. Kertas itu bertuliskan: “Keinginan untuk memakan itu dijadikan untuk hamba-hamba Ku yang dha’if imannya agar mereka dapat menambah kekuatan berbakti dan taat kepada Ku. Ada pun bagi orang yang kuat imannya tentu ridak mempunyai keinginan yang sedemikian.”
Setelah al-Jilani menamatkan pendidikannya di Baghdad, ia mulai melancarkan dakwahnya (al-Ishlah Wa’l-Irsyad). Abu Said al-Mukhrami menyerahkan pembangunan madrasah kepadanya. Madrasah itu tidak menampung para muridnya yang sejumlah besar, maka diperluaslah dan selesai pembangunannya pada tahun 528 H. Madrasah ini di nisbahkan dengan namanya (Qadiriyah).
Abul Husein Ali Husni Nadwi dalam Kitab Rijal al-Fikri wa’l-Da’wah fi’l-Islam menyebutkan tentang kebesaran nama al-Jilani. Syaikh Munawiq Qudamah, pengarang kitab Al-Mughni mengatakan: “Saya tidak pernah melihat orang yang besar perjuangannya melebihi dia."
Baca juga: Hakikat Mimpi Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Syaikh Abdul Wahhab asy-Sya'rani [898-907 H) dalam kitab Thabaqat al-Kubra menceritakan suatu ketika datanglah seorang yang menaruh belas kasihan kepadanya serta memberikan uang. Ia pun menerima pemberian itu sedirham untuk membeli roti, tetapi tiba-tiba jatuhlah secarik kertas di hadapannya sehingga ia tinggalkan roti itu. Kertas itu bertuliskan: “Keinginan untuk memakan itu dijadikan untuk hamba-hamba Ku yang dha’if imannya agar mereka dapat menambah kekuatan berbakti dan taat kepada Ku. Ada pun bagi orang yang kuat imannya tentu ridak mempunyai keinginan yang sedemikian.”
Setelah al-Jilani menamatkan pendidikannya di Baghdad, ia mulai melancarkan dakwahnya (al-Ishlah Wa’l-Irsyad). Abu Said al-Mukhrami menyerahkan pembangunan madrasah kepadanya. Madrasah itu tidak menampung para muridnya yang sejumlah besar, maka diperluaslah dan selesai pembangunannya pada tahun 528 H. Madrasah ini di nisbahkan dengan namanya (Qadiriyah).
Abul Husein Ali Husni Nadwi dalam Kitab Rijal al-Fikri wa’l-Da’wah fi’l-Islam menyebutkan tentang kebesaran nama al-Jilani. Syaikh Munawiq Qudamah, pengarang kitab Al-Mughni mengatakan: “Saya tidak pernah melihat orang yang besar perjuangannya melebihi dia."
Baca juga: Hakikat Mimpi Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
(mhy)
Lihat Juga :