Ritual Karbala: Tradisi Kaum Syiah saat Hari Asyura, Penyesalan Diri Para Pengkhianat

Senin, 01 Agustus 2022 - 16:09 WIB
Sejarawan Syiah yang bernama Yaqubi pernah menceritakan masalah ini dengan mengatakan: “Ketika Sayyidina Ali Zainal Abidin ra memasuki kota Kufah, beliau melihat orang-orang yang mengaku sebagai Syiahnya Husein (ayah Ali Zainal Abidin) menangis.

Atas apa yang dilihatnya itu, lalu Ali Zainal Abidin ibn Husein berkata: “Kalian telah membunuhnya secara keji, tapi kalian menangisinya. Siapa lagi yang membunuh mereka jika bukan kalian. Jadi, kalianlah yang telah membunuh mereka".

Orang-orang Kufah ini akhirnya menyesali atas perbuatan mereka yang keliru itu. Lalu, di bawah pimpinan Sulaiman bin Sord, mereka segera membentuk sebuah komunitas atau kelompok sebagai wadah untuk mengespresikan penyesalan diri mereka: atau penebusan dosa.

Komunitas itu dinamakan at tawwabun (orang-orang yang bertaubat). Wadah ini menjadi tempat untuk menampung orang-orang Syiah yang pernah berkhianat kepada Sayyidina Husein ibn Ali ra.

Bentuk ritual dan seremonial itu, pada awalnya, biasa-biasa saja. Tidak ada yang aneh dalam cara mereka mengekspresikan rasa penyesalan dirinya. Tidak ada tindakan atau perilaku memukulkan pedang atau benda tajam lainnya ke tubuh mereka sendiri.

Baca juga: 12 Amalan di Hari Asyura dan Keutamaannya

Unsur Asing

Ritual itu hanya berupa tangisan-tangisan sambil berteriak-teriak—semacam niyahah. Ritual ghuluw ini dilakukan dengan cara memukulkan pedang atau benda tajam lainnya ke tubuh mereka tersebut muncul pada saat Dinasti Shafawiyah menguasai Iran pada abad ke-17.

Dapat diduga, unsur-unsur Persia dan kepercayaan asing lainnya banyak menginfiltrasi dan mengintervensi ajaran Syiah ketika masa kejayaan dinasti yang beraliran Syiah itu. Termasuk di dalamnya ritual Karbala dengan cara mengalirkan darah mereka sendiri ketika Hari Asyura.

Vali Nasr, salah seorang ilmuan keturunan Iran berpendapat bahwa ritual Asyura itu merupakan kesempatan yang sangat mereka nantikan untuk melakukan pertobatan kolektif atas dosa-dosa mereka melalui ratapan dan penyiksaan diri sendiri. Ratapan ini digambarkan oleh Vali Nasr mirip dengan ritual Catholic Lenten.

Dalam buku Shia Revivals itu, ia menulis:
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!