Puasa Panjang Musim Pandemi di Swedia, Nina Mussolini: Allah itu Maha Adil...

Senin, 27 April 2020 - 15:06 WIB
Masjid Ditutup

Keluarga Nina bermukim di Malmö. Seperti di kota lainnya, masjid-masjid ditutup selama pandemi . Padahal sebetulnya pemerintah Swedia membolehkan masyarakat berkumpul di bawah 50 orang. Namun para pengurus mesjid memilih mengikuti rekomendasi Pemerintah untuk menghindari risiko buruk.

Kegiatan tarawih dipersilahkan untuk dilakukan di rumah-rumah dengan grup kecil atau keluarga. Ceramah agama pun dilakukan lewat online. Buka puasa bersama di masjid-masjid dan perkumpulan Islam pun ditiadakan.

"Suasana ramadan baru saya rasakan kalau pergi ke kawasan yang banyak toko imigran asal Timur Tengah. Penjualan korma terlihat lebih marak dari biasanya," ujar Nina.

Nina menuturkan, kegiatan rutinnya selama Ramadhan masih seperti biasa. "Sehari-hari saya bekerja part time," ujarnya.

Akhir pekan berkumpul di taman menikmati sinar matahari bersama teman-teman dari Organisasi Swedish-Indonesia Bagus sambil berlatih tari Indonesia. Buat saya pribadi, katanya, ini kegiatan positif sambil ngabuburit. Kebetulan Swedia tidak memberlakukan lockdown di saat pendemi ini. "Tapi kami tetap berhati-hati dan membawa masker, sarung tangan serta disinfectant," ujarnya.

Malam hari saat menunggu sahur, biasanya saya mendengar kajian atau selawat lewat Facebook, YouTube dan sebagainya.

Data tahun 2016, diperkirakan muslim di Swedia sekitar 810 ribu orang atau sekitar 10,1% dari total penduduk Swedia. Mereka kebanyakan adalah imigran dari berbagai negara, seperti negara-negara Arab, sejumlah negara Afrika, negara- negara eks Yugoslavia (Bosnia, Serbia dll) juga Indonesia. Muslim Indonesia di Swedia relatif kecil jumlahnya. Karena jumlah masyarakat Indonesia juga hanya mencapai sekitar seribuan di seluruh Swedia.
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!